Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 92. Di keluarkan


__ADS_3

" Maaf tuan, saya tidak suka dengan sikapnya yang tidak sopan pada anda"


"Saya sendiri tidak mempermasalahkannya. Kenapa anda yang menjadi emosi? apakah begini sikap anda pada seorang siswi?" tanya Felix dengan menohok. Ia bahkan menatap pak Dula dengan sangat datar.


Pak Dula yang di tatap seperti itu menjadi kelabakan sendiri. Ia tidak mungkin mengatakan jika selama ini ia selalu berbicara dengan nada tinggi pada Dista, karena ia juga tidak suka pada Dista. Sama seperti putrinya Tasya.


" Kita harus bertindak tegas agar mereka bisa memikirkan setiap tindakan mereka nantinya. Seperti Dista, dia harus selalu mengingat jika apa yang dia lakukan itu salah, tapi sayangnya Dista selalu mengulang perbuatannya terus menerus"


"Benar itu, pak. Dista selalu saja melakukan kekerasan fisik pada kami" Tasya menimpali.


Tasya ingin mengompori Felix agar dia memberikan hukuman pada Dista. Tasya sangat berharap Dista dikeluarkan dari sekolah.


"Seperti itu kah?" tanya Felix.


"Iya, tuan" jawab pak Dula.


"Dista seharusnya dikeluarkan dari sekolah, karena selalu saja membuat kekerasan fisik pada kami. Dia juga sering membuli kami" Tasya menimpali lagi.


"Jadi menurut kamu, orang yang sering membully dan sering melakukan kekerasan fisik pada temannya harus di keluarkan dari sekolah?" tanya Felix seraya menoleh ke arah Tasya.


"Benar. Sekolah akan lebih aman jika Dista sudah tidak ada" Tasya melirik Dista dengan hati penuh kemenangan. Ia berfikir Felix sudah berada di pihaknya.


Pak Dula yang mendengar putrinya berbicar merasa bangga. Ia bangga putrinya sangat peduli dengan sekolah ini dan sangat pandai berbicara, apalagi didepan tuan Felix.


"Baiklah kalau begitu" Felix berdiri dari duduknya dan merapikan jasanya.


"Sebenarnya kedatangan saya kesini, karena di perintahkan oleh tuan Hasbu untuk mengeluarkan siswi yang sudah bertindak kasar kepada teman-temannya"


Mendengar Itu, Tasya, Sifa dan Sofia tersenyum senang. Mereka berfikir Dista benar-benar akan di keluarkan dari sekolah.


"Anda akan mengeluarkan Dista dari sekolah ini tuan Felix?" tanya pak Dula. Ia juga sangat senang mendengarnya, karena selama ini ia sangat ingin mengeluarkan Dista dari sekolah, tapi ia tidak memiliki hak atas itu. Apalagi mengingat dari peraturan sekolah, Dista hanya bisa diberikan hukuman paling berat, yaitu di skors.


"Kenapa anda berfikir saya akan mengeluarkan Dista dari sekolah?" tanya Felix.


"Karena hanya dia yang selalu membuat keributan di sekolah ini, tuan. Sebenarnya saya sudah sejak lama ingin mengeluarkan Dista dari sekolah, tapi saya belum mengkonfirmasi terlebih dahulu pada anda maupun tuan Hasbu"

__ADS_1


"Ohh..seperti itu" ucap Felix santai.


Felix kemudian mengeluarkan sebuah amplop persegi panjang dari tas yang ia bawa dan memberikannya pada pak Dula.


"Silakan anda baca!"


Pak Dula menerima amplop itu. "Ini apa tuan?" tanya pak Dula.


"Itu adalah surat tertulis dari tuan Hasbu untuk diberikan pada anda"


Pak Dula yang mendengar itu sangat semangat membuka amplop tersebut. Ia berfikir isi surat itu berisi tentang hal yang sangat baik untuknya, seperti kenaikan gaji atau pangkatnya, mungkin.


Senyuman pak Dula terlihat ketika ia sudah mulai membuka surat itu dan membacanya. Namun, senyumannya tiba-tiba hilang tergantikan dengan mata membulat serta raut wajah kaget.


"Apa maksudnya ini, tuan?" tanya pak Dula setelah selesai membaca semua isi surat tersebut.


"Saya rasa tulisan di surat itu sangat jelas" ucap Felix datar.


"Mak...maksud saya, ke.. kenapa saya dipindahkan?"


Sedangkan 3 sekawan yang mendengar itu tentu saja mereka kaget. Mereka fikir Dista yang akan di keluarkan dari sekolah.


"Tap..tapi salah saya apa tuan?" pak Dula masih tidak mengerti.


"Anda bertanya salah anda apa ?"


"Ii..iya tuan" ucap pak Dula gugup ketika melihat tatapan tuan Felix yang tajam.


Pruakk...


Felix melemparkan sebuah flashdisk ke meja. Ia mengkode dengan gerakan kepala pada pak Dula agar mengambil flashdisk itu.


"Silakan anda liat sendiri!"


Pak Dula mengambil flashdisk itu dan menyambungkannya di leptop. Ia mulai melihat semua rekaman CCTV yang menampilkan tindakan putrinya dan kedua sahabatnya saat di sekolah.

__ADS_1


Mulai dari bagaimana 3 sekawan itu membuli taman-tamannya. Sampai di mana Tasya dan Sifa mendorong Ayla hingga terjatuh dan membuatnya keguguran.


Pak Dula tentu saja sangat shock. Tangannya bergetar, antara emosi dan takut.


"Anda selalu menutup mata atas tindakan yang dilakukan putri anda. Anda selalu saja menuduh Dista, padahal mereka bertiga yang lebih dulu mengganggunya.Dan anda juga bisa melihat bagaimana putri anda mendorong temannya hingga mengeluarkan darah sebanyak itu. Bagaimana kalau pihak keluarganya membawa kasus ini ke jalur hukum?"


" Saya mohon tuan, jangan lakukan itu. Mohon maafkan sikap putri saya, saya akan memberikannya hukuman agar dia tidak bersikap seperti itu lagi" pak Dula berlutut dan memeluk kaki Felix.


Dista yang melihat itu sedikit kaget. Ia melihat ke arah paman Felix yang terlihat datar dan tidak menghiraukan kepala sekolah.


Ada apa ini? kenapa kepala sekolah sampai berlutut seperti itu? dan apa isi dari flashdisk yang paman Felix berikan? _Berbagi pertanyaan muncul di benak Dista. Ia tidak bisa melihat tampilan gambar itu, karena leptop itu membelakanginya.


Sedangkan Tasya yang mendengar jika dirinya juga terbawa tentu saja kaget. Ia juga bertanya-tanya apa isi dari surat dan flashdisk itu. Dan kenapa ayahnya akan memberikannya hukuman.


"Itu bukan hak saya, karena saya bukan orang tua dari gadis itu" Felix melangkah mundur dan melepaskan kakinya dari pelukan pak Dula.


"Silakan kemasi barang anda! saya sudah tidak memiliki waktu untuk meladeni anda. Anda terlalu membuang-buang waktu saya"


Mendengar itu pak Dula berdiri dengan lesuh dan menampilkan wajah mengiba agar tuan Felix berubah pikiran. Namun sayangnya tatapan datar tuan Felix membuat pak Dula tahu jika keputusan itu sudah bulat dan tidak bisa di ganggu-gugat.


"Dan anda jangan lupa membawa mereka bertiga" Felix menunjuk ke arah 3 sekawan. "Mereka juga dikeluarkan dari sekolah ini atas tindakan mereka. Kami juga sudah memberi anda peringatan sebelumnya untuk mendidik sikap putri anda"


Mendengar itu Tasya, Sofia dan Sifa langsung berlutut. "Pak.. jangan keluarkan kami. Kami masih ingin sekolah. Apa kata teman-teman kami jika kami dikeluarkan" Sofia mengatupkan kedua tangannya dan memohon untuk tidak dikeluarkan.


"Kami mohon pak jangan keluarkan kami dari sekolah. Seharusnya yang dikeluarkan itu Dista bukan kami. Kami tidak pernah menyakiti siapapun" ucap Tasya dengan masih memutar balikkan fakta.


Felix tentu saja semakin geram. urat-urat lehernya terlihat menegang.


"Anda dengar sendiri ?" Felix melihat ke arah pak Dula dengan marah. "Putri yang anda bela sejak tadi kini berbohong. Apa ini yang anda maksud anak yang baik?"


.


.


NEXT

__ADS_1


__ADS_2