
" Jadi nenek Moya tidak sakit sama sekali ?" tanya mom Awah setelah mendengar cerita Ayla.
"Tidak. Nenek tidak sakit sama sekali. Tetangg sebelah hanya menemukan nenek sudah tidak bernyawa di atas kasurnya" jawab Ayla sedih.
Ayla kembali mengingat saat ia pamit untuk bekerja di toko dan sang nenek hanya mengatakan untuk istirahat sebentar, tapi ternyata sang nenek istirahat untuk selamanya.
" Ayla tidak menyangka nenek pergi secepat ini. padahal nenek hanya pamit padaku dengan mengatakan hanya istirahat sebentar, tapi nyatanya nenek istirahat untuk selamanya. Ayla udah enggak punya siapa-siapa " Ayla tertunduk dan bahunya kembali bergetar.
Mom Awah kembali memeluk Ayla dengan erat.
" Tidak sayang. Kamu masih punya kami. Kami juga adalah keluargamu " ucap mom Awah.
" Yang mommy katakan benar Ayla. Bukankah waktu itu mommy dan daddy pernah bilang, kalah kamu adalah anaknya, bararti aku juga saudarimu. Aku sudah pernah mengatakan jika aku senang punya saudari baru sepertimu" Dista mengusap punggung Ayla dan memegang lengannya.
" Terimakasih Mom, Dista, sudah menerimaku" Ayla melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
" Maaf, membuat baju mommy basah " Ayla melihat baju mom Awah yang basah, karena air matanya.
" Nggak apa-apa sayang " mom Awah tersenyum.
Mereka saling tersenyum dalam situasi itu. Sampai akhirnya Dimas masuk ke dalam rumah. Dia sejak tadi hanya di luar menunggu mommy dan adiknya, tapi mereka sangat lama dan tak kunjung keluar.
" Apa kalian masih lama?" Damas sudah capek menunggu.
" Maaf sayang, kita sebentar lagi pulang kok " jawab mom Awah. Ia mengerti jika sang putera sudah merasa resah menunggu.
Mendengar itu, Dimas kembali keluar. Ayla yang pertama kali melihat Dimas hanya diam saja dan tidak bertanya.
" Sebenarnya aku ke sini mau mengajakmu untuk datang ke pesta ulang tahunku besok, tapi aku benar-benar tidak bermaksud membuat pesta di saat kamu masih berkabung, Ay " Dista menyebutkan kedatangannya dan takut membuat sahabatnya tersinggung.
" Tidak apa-apa, Ta. Aku yang tidak memberitahu kalian. Dan untuk pesta ulang tahunmu, aku ingin pergi, tapi aku tidak punya hadiah untukmu "
" Aku tidak minta hadiah darimu. Aku hanya mau kamu datang. Itu saja " Dista tidak mengharapkan apapun dari sahabatnya.
" Kamu datang yah?" Dista sangat berharap sahabatnya hadir di pesta ulang tahunnya.
" Baiklah. Besok aku akan ke sana "
" Kok besok ? Aku maunya kamu menginap di rumahku malam ini " minta Dista.
" Kamu mau yah ikut kami ?" mom Awah juga ikut setuju dengan permintaan putrinya.
Ayla yang melihat keduanya untuk menginap, akhirnya mau. Ia juga merasa tidak enak untuk menolak.
" Baiklah. Aku akan ikut "
Mendengar itu Dista tersenyum senang.
"Yaudah, kamu ambil beberapa baju untuk menginap " kata mom Awah.
Ayla mengangguk dan berjalan ke kamarnya. Ia mengambil tas sekolahnya untuk mengisi baju yang akan ia bawa. Ia hanya punya satu tas saja yaitu tas sekolahnya.
Ayla keluar dengan menggendong tasnya, tapi ia melihat makanan di meja yang di bawa mom Awah tadi. Ayla memasukkan ke kotak bekal dan membawanya keluar.
Mom Awah dan Dista melihat Ayla sudah selesai, mereka berjalan keluar bersama.
" Tunggu sebentar yah, aku akan memberikan makanan yang mommy bawa tadi ke tante May " ucap Ayla.
__ADS_1
Mom Awah mengangguk. Ia tersenyum melihat Ayla yang sangat menjaga silaturahmi dengan tetangganya.
Tak berselang lama Ayla sudah kembali. Mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah nenek Moya.
Di dalam mobil, Dimas hanya duduk sendiri di depan, karena mom Awah dan Dista duduk di bangku belakang. Selama di perjalanan tidak suara sama sekali.
Ayla hanya melihat keluar jendela. Sesekali mom Awah menoleh ke arah Ayla untuk melihat bagaimana keadaannya. Dia pasti masih merasa sedih.
Perjalanan yang lumayan lama membuat Ayla mengantuk. Ia tertidur, karena lelah menangis. Mom Awah yang menyadari itu, menarik kepala Ayla untuk bersandar di bahunya. Ia mengusap pipinya dengan lembut.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah memasuki halaman manssion. Mom Awah ingin membangunkannya, tapi tidak jadi.
" Dimas, angkat Ayla ke dalam !" pinta mom Awah.
" Bangunkan saja, mom " Dimas menolak.
"Tidak bisa. Angkat saja Dimas, ini hanya sebentar "
Dimas menghela nafas, dia akhirnya mau membawa Ayla masuk. Mom Awah mengambil ransel Ayla dan membawanya masuk.
" Mom, bawa Ayla ke kamarku yah !" pinta Dista.
" Di kamar tamu saja yah ?" mom Awah tidak ingin putrinya satu kamar dengan sahabatnya, karena ada satu alasan.
" Aku ingin tidur bersamanya " Dista tampak cemberut.
" Oke-oke"
Dimas membawa Ayla ke kamar adiknya dan meletakkannya di kasur. Setelah melakukan hal itu, Dimas meninggalkan kamar adiknya.
Dista ikut berbaring di sebelah sahabatnya membuat mom Awah bingung.
" Dista juga ngantuk, mom "
" Elleh..alasan " mom Awah itu hanya akal-akalan putrinya. Ia kemuadian meninggalkan kedua gadis remaja tersebut.
***
Sore hari sudah datang. Tampak mobil yang di kenakan daddy Hasbu sudah memasuki halaman mansion miliknya. Felix membukakan pintu tengah untuk membiarkan tuannya keluar.
Mom Awah menyambut sang suami di depan pintu dengan senyuman lembutnya. Daddy Hasbu tersenyum juga. Seharian bekerja dan rasa lelah itu seketika hilang, karena melihat senyum sang istri. Daddy Hasbu mengecup kening istrinya.
" Nggak mampir dulu Felix?" tanya mom Awah.
" Tidak nyonya, saya langsung pulang "
" Baiklah. Salam untuk istrimu "
" Iya, nyonya "
Mom Awah dan daddy Hasbu berjalan ke kamar kamar mereka.
" Ke mana Dista ? " tanya daddy Hasbu.
Biasanya sang putri akan menyambut kedatangannya juga, tapi kali ini tidak.
" Oh astaga....aku lupa, mereka masih tidur " mom Awah lupa membangun kedua gadis itu.
__ADS_1
" Mereka ? siapa maksudmu, mom ?"
" Ada Ayla di sini "
" Ohh..yah ?"
" Iya. Dia akan menginap "
" Nenek Moya tidak ikut ?" daddy Hasbu juga tidak tahu tentang kepergian nenek Moya.
Mendengar itu mom Awah menjadi sedih. Ia duduk di sofa seraya menutup wajahnya dan menangis.
" Nenek Moya ternyata sudah meninggal 4 hari yang lalu, dad. Kita sama sekali tidak tahu " ucap mom Awah di sela tangisannya.
" Innalilahi.... bagaimana bisa ? jadi Ayla sekarang sendiri ?"
Mom Awah memeluk suaminya dan menceritakan kejadian yang Ayla ceritakan padanya pagi tadi. Daddy Hasbu juga merasa sedih. Apalagi Ayla sekarang tinggal sendirian.
" Bagaimana kalau kita adopsi saja ?" daddy Hasbu ingin mengangkat Ayla menjadi bagian dari keluarganya.
" Aku setuju, dad, tapi kita harus beritahu Ayla dulu "
" Besok saja, jangan sekarang"
Mom Awah mengangguk. Itu adalah jalan yang bagus.
Malam harinya
Semuanya tengah berkumpul untuk makan malam. Ayla tampak merasa sungkan di tengah-tengaj mereka. Apalagi saat ini ada Dimas, membuat Ayla merasa malu.
" Makan yang banyak sayang " ucap mom Awah pada Ayla.
" Iya, mom. Ini sudah cukup "
Mereka makan dengan hikmat. Dimas tampak tidak selera, karena sang kekasih belum juga datang. Padahal dia mengatakan akan pulang sebelum pesta ulang tahun adiknya.
Seperti biasa, setelah mereka makan akan berkumpul di ruang keluarga, kecuali Dimas. Dia langsung naik ke kamarnya dan menghubungi sang kekasih .
" Halo sayang " kata Dimas setelah sambungan telepon itu tersambung.
" Ada apa sayang...ahhh...." sahut Sinta.
Dahi Dimas kembali mengkerut, suara yang sama ia dengan saat ia menelpon kekasihnya kemarin, tapi itu berusaha untuk tetap berpikir positif. Apalagi kekasihnya saat ini tengah menginap di rumah saudari mommy-nya.
" Kamu tidak jadi ke sini ?" tanya Dimas.
" Tidak sayang..hhh..besok aku baru datang.. pelan-pelanhhh..."
" Apa yang pelan-pelan ?"
" Akhh...ini kakiku tergilir tadi dan pamanku sedang mengobatinya. Itu sangat sakit sayang...ahhh..."
" Ohh.. baiklah. Aku menunggumu besok"
" Iya sayang. See you...sakit paman...ahhhhhh..."
.
__ADS_1
.
NEXT..