
"Joni, pergilah ke jalan xxx bersama Jono dan masuk ke dalam gubuk di balik pohon! Beritahu tuan Smit, bahwa nona Ayla saya bawa ke rumah sakit mutiara." perintah pak Jang di balik sambungan telepon.
Tut...
Pak Jang mematikan sambungan telponnya dan menyalakan mesin mobil menuju rumah sakit. sesekali pak Jang menoleh ke belakang untuk melihat kondisi Ayla.
Rumah sakit
"SUSTER..." teriak pak Jang.
Para perawat yang dekat dengannya berlari menghampiri dengan membawa brankar. Pak Jang meletakkan Ayla di atas brankar dan para perawat membawanya ke IGD.
Pak Jang menunggu di luar dengan perasaan khawatir. Ia yakin kali ini akan mendapatkan hukuman dari tuan Smith, karena tidak berhasil menjaga sahabat nona mudanya.
Ia juga yakin, nona mudanya akan sangat sedih mengetahui sahabatnya masuk rumah sakit dan mengalami kejadian yang tidak senonoh.
Suara lantai rumah sakit beradu dengan suara sendal beberapa orang terdengar sangat keras. Pak Jang semakin merasa mendengar suara itu. Ia merasa suara itu menuju ke arahnya.
Benar saja itu suara sandal milik keluarga Smith. Tuan, nyonya dan nona muda Smith berlari ke arahnya dengan dua bodyguard Joni dan Jono.
"Tuan, nyonya, nona muda" panggil pak Jang, lalu ia menghampiri mereka.
"Di mana Ayla, pak Jang?" tanya Dista penuh khawatir.
"Nona Ayla masih di tangani oleh dokter, nona muda" jawab pak Jang.
"Bagaimana ceritanya Ayla masuk rumah sakit, pak Jang?" tanya mom Awah. Mereka masih mengerumuni pak Jang.
Pak Jang terdiam sejenak dan menatap mereka satu persatu yang tampak sangat penasaran.
"Maafkan saya tuan, nona muda. Saya kurang tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Saat tuan Smith menyuruh saya untuk mengikuti nona Ayla, di perjalan ada mobil lain yang mengalami mogok dan itu menghalangi jalan..." pak Jang berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan kemudian melanjutkannya kembali.
"Hal itu membuat saya tertinggal jauh dengan nona Ayla, namun saat saya mencarinya, saya hanya menemukan sepeda nona Ayla tergeletak di jalanan yang berada di jalan xxx"
"Terus di mana Ayla waktu itu?" tanya Dista. Pak Jang menoleh ke arah nona mudanya dan membuang nafasnya pelan.
"Saya mencari-carinya dan ternyata nona Ayla di bawa ke sebuah gubuk di balik pohon yang ada di jalan xxx. Mereka melakukan hal yang tidak senonoh pada nona Ayla" jawab pak Jang seraya menundukkan kepalanya.
"APA..." pekik mom Awah dan Dista bersamaan.
"Maksutmu, Ayla di lecehkan?" tanya mom Awah memastikan.
"Bisa dibilang seperti itu nyonya, tapi sepertinya nona Ayla belum sempat tersentuh lebih dari itu. Saya hanya mendapatkanya dengan tangan terikat dan mulut yang di lakban, tapi pakaiannya sudah terbuka setengahnya" jawab pak Jang yang masih tidak berani metapa mereka.
Dista dan mom Awah yang mendengar itu menetup mulutnya tidak percaya. Mereka sangat kaget. Dista langsung berhamburan kepelukan sang mommy.
"Mom...ini salahku, tidak seharusnya aku mengajak Ayla ke manssion. hikss.." ucap Dista sedih.
"Tidak sayang. Itu bukan salahmu, itu sudah menjadi takdir untuk Ayla" mom Awah menenangkan Dista. Ia mengangkat kepala putrinya untuk menatapa.
"Tapi itu tidak akan terjadi, kalau Dista tidak mengajaknya" ucap Dista. Ia masih merasa bersalah pada sahabatnya.
__ADS_1
"Tidak sayang, tidak seperti itu" mom Awah menarik kembali putrinya untuk ia peluk.
Ceklekkk....
Pintu ruangan IGD terbuka. Mereka semua menoleh dan bergegas menghampiri dokter dan suster yang berdiri di depan pintu.
"Keluarga pasien" panggil suster.
"Kami dok" jawab mom Awah.
"Bagaimana keadaan putri saya dok, sus?" tanya mom Awah. Ia benar-benar menganggap Ayla adalah putrinya juga.
"Puti anda baik-baik saja. Dia tidak sadarkan diri, karena tamparan yang keras pada pipinya. Membuat putri anda tidak bisa menahan rasa sakitnya dan juga putri anda mengalami trauma dari apa yang terjadi padanya" ucap dokter.
Dista menutup mulutnya dan menggeleng. Sahabatnya terkena musibah sangat serius. Mom Awah terdiam, ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Daddy Hasbu yang melihat istri dan putrinya begitu shock, angkat bicara.
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya daddy Hasbu pada dokter.
"Putri anda hanya butuh dukungan dari keluarganya, agar trauma itu tidak berkepanjangan" jawab dokter.
" Baiklah. Lakukan yang terbaik untuk putriku. Berapapun biayanya dan tempat dia di ruangan yang terbaik" pinta daddy Hasbu.
"Baik tuan. Kami pasti melakukan yang terbaik untuk putri anda" jawab dokter.
"Sus.. Pindahkan nona itu ke ruangan VIP 01 yang ada di lantai tiga" perintah dokter pada suster. Suster menganguk dan melakukan tugasnya.
"Saya pamit undur diri tuan. Suster itu yang akan memindahkan putri anda" ucap dokter. Daddy Hasbu mengagguk.
Daddy Hasbu menoleh ke arah putri dan istrinya, kemudian merangkul keduanya.
Keluarga Smith dan para bodyguard mengikuti kedua suster yang mendorong brangkar Ayla.
******
"Semuanya sudah selesai tuan dan nyonya" ucap suster, setelah ia memindahkan Ayla. Daddy Hasbu mengagguk.
"Apa kami boleh melihatnya?" tanya mom Awah.
"Tentu nyonya. Tidak ada batasan untuk menjenguk putri anda" jawab suster.
mom Awah dan Dista masuk bersamaan setelah dapat izin dari suster. Suster itupun meninggalkan mereka.
Tinggal daddy Hasbu, pak Jang dan kedua bodyguard berada di luar ruangan. Daddy Hasbu menatap pak Jang.
" Kau gagal, Pak Jang" ucap daddy Hasbu dengan datar.
Ia punya peraturan pada bawahannya sejak awal, kalau mereka gagal dalam misinya mereka akan di hukum. Apalagi hanya misi untuk menjaga saja dan bukan yang berbahaya. Kecuali menyangkut nyawa masing-masing itu masih ada toleran, tapi tidak lepas dari hukuman.
"Maaf tuan" ucap pak Jang menunduk.
"Kau akan menerimanya di manssion nanti dan sekarang kau pulanglah!" ucap daddy Hasbu.
__ADS_1
"Baik, tuan" jawab pak Jang. Ia membungkuk hormat dan pergi.
"Kalian berdua, berjaga di sini!" perintah daddy Hasbu pada bodyguard.
"Siapa tuan" jawab keduanya. Mereka berdiri di sisi kanan dan kiri pintu ruangan Ayla.
Daddy Hasbu masuk dan meninggalkan keduanya.
...----------------...
Sedangkan di sisi berbeda, nenek Moya tampak khawatir, karena cucunya belum juga kembali dan ini sudah hampir malam.
"Di mana kamu, nak?" gumam nenek Moya. Ia terus mengintip di balik jendela untuk melihat apakah cucunya sudah pulang.
"Apa dia pergi bekerja, yah hari ini? tapi ini kan bukan hari libur" gumam nenek Moya.
"Lebih baik aku memeriksanya sendiri" nenek moya berjalan kaki menuju tempat di mana biasanya Ayla bekerja.
Saat dia sudah sampai di sana, dia menanyakan pada salah satu teman kerja Ayla.
"Apa Ayla ada di sini?" tanya nenek Moya.
"Ayla tidak bekerja hari ini, nek. Ini bukan hari libur, biasanya Ayla bekerja hari Sabtu dan Minggu saja" jawab pekerja itu.
"Ohh..begitu, yah. Terimakasih" ucap nenek Moya.
"Sama-sama, nek"
Nenek Moya kembali pulang dengan perasaan sangat khawatir.
"Di mana kamu, Ayla. Tidak bisanya dia seperti ini" batin nenek Moya.
.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT...
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN SETELAH MEMBACANYA...
__ADS_1
SELALU DUKUNG KARYA AUTHOR, YAH....
LIKE, COMMENT, AND VOTE.