Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 28. memanggil orang tua


__ADS_3

" Semoga saja Tasya tidak memberitahu kepala sekolah dan berakhir kau masuk ruang Bk" ucap Roni pada Dista.


Dista hanya tak acuh dan kembali duduk di bangkunya. Ia tidak ambil pusing dengan hal itu. Ia juga yakin, kalau Tasya pasti tetap melaporkannya pada kepala sekolah.


Tak berselang lama seorang guru masuk ke kelas mereka. Seperti biasa sebelum mulai kelas Roni memberi arahan pada teman-teman, setelah itu guru akan mengabsen murid-muridnya. Apakah ada yang terlambat atau ada yang sakit.


Guru mulai menyebut nama mereka satu persatu, sampai akhirnya giliran nama Tasya dan kedua temannya di sebut.


" Di mana Tasya? apa dia terlambat ?" tanya guru.


" Dia di UKS, bu" jawab Roni.


" Ohh..kalau Sifa dan Sofia di mana mereka ?" tanya guru.


" Mereka juga ke UKS bu. Mereka mengantar Tasya ke sana dan belum kembali " jawab Roni .


" Seharusnya mereka sudah kembali. Saya akan memberi mereka waktu 5 menit. Kalau mereka belum juga datang dalam waktu itu, saya menganggap mereka Alpa " ucap guru.


" Apa perlu Roni panggil mereka, Bu ?" tawar Roni.


" Tidak perlu. Jika mereka mau belaja, mereka akan dengan sendirinya masuk ke kelas ini" jawab guru. Roni akhirnya diam.


" Baiklah. Mari kita mulai pembelajaran kita hari ini. Keluarkan buku kalian !" pinta guru.


Mereka mengeluarkan buku mereka dan guru mulai memberikan arahan kepada muridnya. Mereka mendengar penjelasan guru dengan tenang, tidak ada yang mengeluarkan suara.


Roni juga tidak menyinggung perilaku mengapa Tasya masuk UKS dan guru juga tidak ambil pusing dengan hal itu.


lima menit berlalu. Sofia dan Sifa belum juga kembali, membuat guru mengisi apsenya dengan keterangan Alpa. Guru mulai menjelaskan kembali, namu terdengar pengeras suara memanggil salah satu muridnya.


Atas nama Dista mutiara S kelas 10 satu di harap keruangan BK sekarang .


Informasi dari pengeras suara berakhir. Di dalam kelas sepuluh satu, mereka memandang Dista bersamaan termasuk guru.


" Dista, silahkan keruang BK sekarang " ucap guru.


" Iya, bu" jawab Dista.


Teman sekelas Dista sudah tahu untuk apa dia di panggil ke ruang BK.


" Kita lanjutkan pelajaran " ucap guru. Mereka kembali mendengarkan guru mereka.


****


Dista berjalan menuju ruang BK dengan santai. Ia yakin kali ini ia akan mendapatkan hukuman, karena Tasya punya bukti yang kuat. Dengan lebam di tubuhnya, Tasya bisa memutar balikkan fakta sesungguhnya.


" Permisi, pak " ucap Dista, saat ia sudah sampai di ruang BK.


"Masuk Dista " ucap guru BK. Ia mempersilahkan Dista untuk duduk.


" Kamu tahu apa kesalahanmu ?" tanya guru BK.

__ADS_1


" Saya tahu, pak" jawab Dista.


" Apa itu ?" guru BK mencoba bertahan, walaupun ia sudah menerima laporan sebelumnya.


" Saya membuat lengan tasya lebam, pak" jawab Dista.


" Kenapa kamu melakukan itu ?" tanya guru BK.


" Dia ---" belum selesai Dista berbicara, terdengar suar dari pintu masuk.


" Maaf, pak " ucap Tasya.


Ternyata yang datang adalah Tasya dan kedua temannya beserata kepala sekolah.


" Pak kepala sekolah, duduk pak" ucap guru BK. Ia memberikan kursi kepada pak Dula selaku kepala sekolah.


" Saya ingin mendengar jawaban kalian " ucap pak Dula pada mereka.


" Dista, kenapa kamu melakukan hal itu pada Tasya ?" tanya guru BK kembali.


" Tasya dan kedua temannya mengganggu saya lebih dulu, pak " jawab Dista.


" Dista bohong, pak. Kami tidak pernah mengganggunya sama sekali. Dista yang lebih dulu mengganggu kami, benarkan Sofia, sifa? " ucap Tasya menyela. Ia membalikkan fakta sesungguhnya.


" Apa benar begitu Dista ?" tanya guru BK.


" Saya sudah menjawabnya tadi pak. Saya memang yang membuat tangan Tasya lebam, tapi itu karena mereka lebih dulu mengganggu saya " jawab Dista.


" Heii..kenapa lu berbohong? jelas-jelas lu yang mengganggu kami lebih dulu. Kami akhirnya melawan dan lo malam menendang gua sampai tangan gue lebam seperti ini " Tasya lagi-lagi menyela dan membuat skenario baru seraya menunjukkan bukti lebam pada lengannya.


" Baiklah, bapak tanya sekali lagi sama kamu Dista. Apa benar kami yang mengganggu mereka lebih dulu ?" tanya guru BK. Ia ingin mendengar kejujuran dari Dista, karena Dista selalu menyangkal.


" Saya rasa bapak tidak akan percaya dengan ucapan saya. Saya juga sudah menjelaskannya tadi dan bapak tidak percaya dengan ucapan saya " jawab Dista.


" Bagaimana bapak mau percaya dengan perkataan kamu. Tasya memiliki bukti, sedangkan kamu tidak. Di sini saya hanya butuh kejujuranmu untuk mengakui kesalahanmu " ucap guru BK.


" Saya kan sudah mengakuinya tadi. Saya sudah jujur sejak tadi pak, tapi bapak yang tidak percaya. Sekarang bapak menyuruh saya untuk membenarkan ucapan Tasya, maaf pak saya tidak akan membenarkannya " ucap Dista.


" Lihat pak, Dista itu pembohong " ucap Tasya seraya menunjuk Dista.


" Hei.. maksud lo apa? jelas-jelas lo lebih dulu mengganggu gue dan mengatai Ayla " ucap Dista tidak terima dan mendorong Tasya yang ada di sebelahnya.


Dista yang tidak bisa mengatur emosinya terjebak dengan rencana Tasya yang ingin memancingnya.


" Liahat pak ! Dista mendorang saya. Dista adalah orang yang kasar " ucap Tasya.


" CUKUP..." ucap pak Dula. Menghentikan perdebatan mereka.


" Dista, di sini kamu jelas-jelas bersalah. Kamu akan di beri hukuman dan sebelum itu, panggil orang tuamu untuk datang ke sini !" ucap pak Dula.


Tasya, Sofia dan Sifa tersenyum senang mendengar Dista harus memanggil orang tuanya. Mereka bertos secara sembunyi-sembunyi di belakang punggung mereka.

__ADS_1


Dista yang mendengar itu menghela nafas. Dia tahu akhirnya akan seperti ini. Tidak ada yang akan percaya dengannya. Dista menoleh dan menatap Tasya dan kedua temannya yang tersenyum mengejeknya.


" Tunggu apa lagi? telpon orang tuamu sekarang !" ucap pak dulu seraya menunjukkan telepon khusus sekolah.


" Sekarang pak ?" tanya Dista. Ia mengira besok orang tuanya akan datang.


"Iya, sekarang" jawab pak Dula.


Dista menjadi bingung. Dia tidak mungkin memanggil mommy-nya datang ke sekolah, yang ada mereka akan heboh dan akan tahu siapa dirinya sebenarnya.


Kepala sekolah saja, walupun mengenal mom Awah dan daddy Hasbu, tapi dia tidak tahu Dista adalah anak mereka.


Di tengah kebingungannya, akhirnya Dista tahu siapa yang harus ia panggil. Dista mengambil telepon itu dan menghubungi seseorang.


" Halo, ayah " ucap Dista saat telpon tersambung.


" Maaf, ini siapa ?" tanya seberang telepon.


" Ini Dista, ayah " jawab Dista.


" Astaga nona. Anda menggunakan handphone siapa ?" tanya pak Jang.


Ternyata Dista menelpon pak Jang. Ia akan meminta bantuan padanya dengan menyebutnya Ayah.


" Dista pakai telepon sekolah " jawab Dista.


" Memang kenapa nona menelpon? apa anda butuh sesuatu ?" tanya pak Jang.


" Ayah, bisakah ayah datang ke sekolah Dista ?" pinta Dista.


Pak Jang yang sejak tadi mendengar nona mudanya memanggilnya ayah membuat ia bingung dan bertanya-tanya ada apa dengan nona mudanya.


" Maksud anda ,nona ?" tanya pak Jang bingung.


" Dista punya masalah di sekolah ayah dan Dista di suruh untuk memanggil ayah " jawab Dista.


Pak Jang yang mendengar ada masalah menjadi mengerti. Ia tahu, kalau nona mudanya miminta ia menjadi orang tuanya.


" Baik nona, saya akan ke sana " ucap pak Jang.


" Dista, tunggu ayah di ruang BK " ucap Dista.


" Baik, nona " ucap pak Jang.


Sambungan telponnya terputus dan Dista hanya tinggal menunggu pak Jang datang.


.


.


.

__ADS_1


.


NEXT..


__ADS_2