Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 41. Ini sudah cukup!


__ADS_3

Tanpa mengatakan apapun, Dista meninggalkan mereka dan naik ke kamarnya. Sinta menurunkan tangannya yang hanya di senggol sedikit oleh Dista saat melewatinya.


Dimas memperhatikan adiknya yang terlihat datar. Ia heran dengan sikap adiknya. Dimas merasa tidak enak hati dengan kekasihnya.


" Maafkan adikku. Sepertinya dia kaget aku membawamu ke sini "


" Tidak apa-apa, aku mengerti " Sinta kembali ke tempat duduknya.


" Sebaiknya kalian istirahat dulu. Kalian pasti capek selama perjalan ke sini " usul mom Awah.


" Baiklah mom, kami istirahat dulu " ucap Dimas.


" Sinta, ayok mommy antar ke kamarmu " ajak mom Awah.


Mom Awah, Sinta dan Dimas berjalan bersama. Dimas berpisah dengan kekasihnya di tangga, karena kekasihnya hanya akan tidur di kamar tamu yang berada di bawah.


Mom Awah mengantar Sinta sampai di depan kamar yang akan dia tempati selama tinggal di manssion ini.


" Ini kamarmu. Jangan sungkan untuk bertanya dan meminta bantuan pada bibik atau mommy, yah ?"


" Iya, mom. Sinta istirahat dulu "


Mom Awah menganguk. Setelah melihat Sinta masuk ke kamarnya, mom Awah kembali menghampiri sang suami yang masih menonton TV.


***


Dimas yang berencana ingin istirahat mengurungkan niatnya. Dia malam berbelok dan berjalan menuju kamar sang adik. Kamar mereka berdekatan dan hanya pintu yang berjarak jauh, karena kamar mereka yang luas.


Tok...tok..tok..


" Dista, boleh kakak masuk ?" tanya Dimas dari pintu.


"Dista" panggil Dimas sekali lagi.


Dimas tidak mendengar sahutan dari dalam. Ia mencoba membukanya dan ternyata tidak di kunci. Dimas mengintip sedikit untuk melihat apa yang di lakukan adiknya. Ternyata Dista tampak tengkurap di atas kasurnya dan membenamkan wajahnya di bantal.


" Dista, apa kamu marah sama kakak ?" Dimas mengusap punggung adiknya yang masih tengkurap.


" Apa kamu tidak suka dengan Sinta ?" tanya Dimas lagi.


Dista akhirnya merespon dan bangun. Ia duduk menghadap sang kakak. Terlihat raut wajah cemberut yang terpancar pada wajahnya.


" Iya. Dista tidak suka dengannya " jawab Dista.


" Kenapa kamu tidak suka ?"


" Entahlah. Dista juga tidak tahu kenapa aku tidak menyukainya. Saat pertama kali melihatnya Vidio call, dia tidak menyapa seakan Dista tidak ada di sana. Dia hanya menyapa daddy dan mommy saja. Aku kesal " Dista mengeluarkan apa yang ada pada pikirannya.


" Ooohh.. maafkan Sinta. Dia mungkin ragu untuk menyapamu " Dimas sebenarnya juga tidak tahu kenapa Sinta tidak menyapa adiknya pada saat itu.

__ADS_1


" Nggak tahulah. Dista nggak mau membahasnya "


" Emm.. istirahatlah. Kakak juga mau kembali ke kamar " Dimas berjalan ke arah pintu yang masih terbuka.


" Kak, mana oleh-oleh yang kakak janjikan padaku ?"


" Ohh itu ada di kamar. Kaka akan ambil dulu "


" Aku ikut saja " Dista mengikuti Dimas ke kamarnya.


Dista penasaran apa yang kakaknya beli untuknya. Dia hanya duduk di pinggir kasur memperhatikan sang kakak yang mengambil oleh-olehnya di koper.


" Apa ini ?" tanya Dista saat menerima kota itu dari Dimas.


" Itu proyektor mini. Kamu kan suka nonton, makanya kakak beli ini untuk mu "


" Tapi kan di kamar Dista udah punya TV. Jadi ini untuk apa lagi ?"


" Kamu memang sudah punya TV, tapi tidak bisa di bawa ke mana saja. Proyektor ini bisa, kamu mau nonton di tempat umum saja bisa asalkan ada layarnya "


Dista mulai berfikir kapan ia bisa menggunakan proyektor itu. Sampai ia mengingat di rumah Ayla tidak ada TV. Ia bisa mengajak Ayla untuk menonton bersama menggunakan proyektor ini.


Kapan-kapan aku ke rumah Ayla untuk nonton bersama. Ayla pasti suka _Dista_


" Tapi Dista nggak punya layarnya "


" Kakak juga sudah beli "


Malam harinya


Kini para penduduk mansion Smith tengah melakukan makan malam bersama. Meja makan kali ini sedikit berbeda, karena Dimas sudah kembali dari negara S dan membawa kekasihnya ikut serta.


Seperti biasa daddy Hasbu duduk di ujung meja, sedangkan mom Awah dan Dista berdekatan. Dimas dan Sinta juga bersebelahan.


" Berapa lama kamu berada di sini, Dimas ?" tanya daddy Hasbu.


" Dimas tidak bisa memastikannya, dad, tapi Dimas sedikit lama kok di sini "


Daddy Hasbu hanya manggut-manggut dan suasana makan malam itu kembali hening.


Setelah mereka selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil bercerita tentang apa saja yang dilakukan Dimas selama di negara S. Mom Awah dan daddy Hasbu juga bertanya tentang keluarga Sinta dan apakah Sinta berasal dari negara S.


" Daddy-ku berasal dari negara S, sedangkan mommy berasal dari sini " jawab Sinta.


Mom Awah ber Oh saja, kemuadian mereka bercerita santai. Dista hanya diam saja mendengar pembicaraan orang dewasa itu. Dia hanya menempel dengan sang daddy saja.


Hingga malam semakin larut, mereka sudah pergi ke kamar mereka masing-masing untuk menjemput hari esok.


Dimas yang baru saja selesai mandi, karena ia tidak bisa tidur dalam keadaan belum mandi. Ia tidak sempat mandi sore tadi, karena terngah bersama dengan sang daddy di taman belakang

__ADS_1


Dimas keluar dari kamar mandi dan di buat kaget dengan sang kekasih yang berada di kamarnya.


" Astaga..apa yang kamu lakukan di sini, Sinta ?" Dimas sangat kaget.


Bagaimana tidak ia nanti ketahuan oleh kedua orangtuanya terutama sang daddy. Daddy-nya sangat melarangnya bersama wanita di tempat yang sepi dan hanya berdua saja.


" Aku ingin tidur bersamamu " ucap Sinta manja. Ia mengusap dada bidang kekasihnya yang masih basah.


" Sinta, jangan seperti ini. Orang tuaku nanti melihat kita. Kembalilah ke kamarmu" Dimas menjauhkan dirinya dari kekasihnya dan berjalan mengambil baju ganti.


" Mereka tidak akan melihat kita sayang. Mereka sudah tidur dengan nyenyak. Lihat jam itu, sudah pukul 10: 27 " Sinta menyuruh Dimas melihat jam dinding yang ada di sebelah kanan mereka.


" Kamu tidak tahu daddy-ku, Sinta. Dia seakan punya mata di mana-mana walaupun tubuhnya tidak ada di sini " Dimas menghampiri kekasihnya yang tengah duduk di pinggir kasur.


" Aku yakin daddy-mu tidak akan tahu. Aku ingin tidur bersamamu. Aku janji akan pergi dari kamar ink sebelum mereka tahu " Sinta duduk di pangkuan Dimas dan mengusap rahang hingga ke leher Dimas.


" Tapi, sayang.." ucapan Dimas berhenti, karena jari Sinta menempel di bibirnya.


" Percaya padaku, sayang. Kita tidak akan ketahuan "


Setelah mangatakan itu, Sinta mencium bibir Dimas dan menyesapnya. Dimas yang terbuai dengan permainan kekasihnya mulai membalasnya.


Selama di negara S mereka memang selalu melakukan hal itu, tapi tidak sampai bermain di daerah selangkangannya. Mereka hanya sebatas berciuman dan bermain di daerah gunung kembar sang kekasih.


Dimas yang mulai kehilangan kendali, menyusupkan tangannya ke dalam bra milik Sinta dan bermain di kedua gunung kenyal itu.


Remasan tangan Dimas membuat Sinta mengeluarkan suara anehnya. Sinta yang sudah tidak sabar ingin bermain lebih, tapi Dimas segera sadar dan melepaskan pengautannya.


" Ini sudah cukup, sinta " Dimas mengangkat Sinta dari pangkuannya dan berjalan ke kamar mandi.


Sinta yang sedang ingin menuntaskan permainan mereka terhenti, karena Dimas tidak mau melanjutkannya.


" Dia selalu saja seperti itu " gerutu Sinta sendirian di kamar.


Beberapa menit kemudian Dimas tampak keluar dari kamar mandi menyelesaikan sesuatu yang tertunda akibat dirinya sendiri.


" Kami selalu saja berhenti di tengah jalan dan tidak mau melanjutkannya " Sinta sangat kesal.


" Kita belum saatnya melakukan hal itu, sayang. Kita akan melakukannya setelah kita menikah" Dimas menarik kekasih untuk berbaring dan memeluknya.


" Ckk...kamu menyebalkan " Sinta memukul dada Dimas pelan.


" Tidurlah " pinta Dimas. Ia menutup matanya dan membenamkan kepala kekasih di dadanya.


" Kamu melupakan sesuatu, sayang " Sinta mengangkat satu tangan kekasihnya dan membawanya ke salah satu gundukannya.


Dimas tersenyum dan bermain di sana sampai dia tertit. Itu memang kebiasan mereka saat tidur bersama. Sinta tidak akan bisa tidur jika miliknya tidak di sentuh oleh kekasihnya.


.

__ADS_1


.


NEXT..


__ADS_2