
Dimas menjadi marah pada Ayla, karena dia sangat suka membantah. Padahal itu jelas-jelas untuk kebaikannya sendiri. Mengingat Ayla yang sakit membuat mom Awah juga sedih, hal itu membuat Dimas kesal jika Ayla selalu membantah.
Setelah memarahinya, Dimas mengangkat Ayla ke kursi roda dan mendorongnya keluar dari rumah sakit. Yang lainnya pun mengikuti sepasang suami-istri itu dari belakang.
Mom Awah juga tidak bisa berkata apa-apa saat Dimas memarahi Ayla, karena Dimas juga berhak atas diri Ayla. Saat sampai di depan mobil, Dista membantu membuka pintu tengah agar Ayla bisa masuk.
Mom Awah sudah masuk lebih dulu dan membantu Ayla juga. Setelah Ayla naik ke atas mobil, Dimas memindahkan kursi roda ke bagasi. Aunty Caca tidak ikut dengan mereka, karena masih banyak pekerjaannya yang harus dia lakukan.
Mansion
Mereka sudah sampai di mansion setelah beberapa menit perjalanan. Dimas mendorong kursi roda Ayla masuk ke dalam mansion.
" Mungkin kalian tidur di kamar tamu saja untuk sementara. Ayla akan kelelahan nantinya, kalau dia naik turun tangga terus " ucap mom Awah saat Ayla dan Dimas terdiam di dekat tangga.
Di mansion Smith tidak ada lift di sana, sehingga susah untuk membawa Ayla menggunakan kursi roda ke lantai atas menggunakan tangga.
" Nggak perlu, mom " tanpa aba-aba Dimas langsung menggendong Ayla ala bridal style.
Ayla kaget dengan gerakan Dimas yang tiba-tiba, ia langsung mengalungkan tangannya di leher Dimas.
" Pak Jang, angkat kursi rodanya ke kamarku!" perintah Dimas.
Pak Jang yang kebetulan dari dapur membawa perlengkapan masak yang sudah menipis, melewati mereka. Dimas yang melihatnya langsung memanggilnya dan meminta bantuan padanya.
" Baik tuan muda " pak Jang melipat kursi roda itu dan mengangkatnya.
" Dista, pegang infus Ayla "
Dista mengangguk dan mengambil infus dari tiang yang menyatu dengan kursi roda.
Ayla sebenarnya ingin protes dan mau untuk jalan sendiri ke atas, tapi ia takut Dimas akan memarahinya lagi nanti jika ia kembali membantah. Ayla akhirnya memilih diam dan pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Dimas.
Mereka berjalan naik ke lantai atas bersama-sama hingga sampai di dalam kamar milik Dimas yang kini juga menjadi kamar Ayla.
Dengan hati-hati Dimas mendudukkan Ayla di atas kasur. Dista mengandung infusnya kembali.
" Apa tidak ada lagi yang perlu saya bantu tuan muda ?" tanya pak Jang setelah meletakkan kursi roda itu di dekat sofa.
__ADS_1
" Tidak ada lagi, pak Jang. Pak Jang bisa keluar sekarang " pak Jang membungkuk hormat sebelum meninggalkan kamar.
" Dista juga balik ke kamar kak, Ayla " Ayla hanya mengangguk sebagai jawabannya.
" Iya " sahut Dimas.
Setelah kepergian Dista, Dimas menuangkan air di gelas dan memberikannya kepada Ayla.
" Minumlah " Dimas menyodorkannya.
" Aku nggak mau " Ayla menutup mulutnya seraya menggeleng.
" Kenapa ?apa kamu tidak mau infus ini di lepas dan kamu bisa pergi ke sekolah ?" tanya Dimas dengan sedikit jutek.
" Aku mau " jawab Ayla lirih.
" Terus kenapa nggak mau di minum ? infus ini tidak akan di lepas, kalau kamu masih kekurangan cairan. Jangan malas untuk minum air putih " Dimas berbicara dengan sedikit cepat. Ia kesal Ayla sangat suka menolak apapun yang baik untuknya.
" Ayo cepat minum " Dimas menyuruh Ayla dengan paksa.
Ayla menerima gelas itu dengan pelan. Ia tidak berani melihat wajah Dimas. Dengan hati-hati dan dengan sedikit takut Ayla meminumnya. Namun, baru seteguk dia meminumnya, Ayla sudah mengeluarkan air itu dari dalam mulutnya.
" Ayla.." pekik Dimas.
Hiksss...
Ayla menangis. Ia kaget dengan pekikan Dimas yang sedikit keras, sehingga ia mengira Dimas membentaknya.
" Kenapa kak Dimas membentakku? aku juga sudah bilang, kalau aku nggak mau, tapi kak Dimas memaksaku " ucap Ayla dengan masih menangis.
" Tapi kamu juga nggak perlu mengeluarkannya seperti tadi. Itu jorok Ayla " Dimas masih dengan nada kerasnya. Ia tidak menyadari kesalahannya yang berbicara keras.
Mendengar cara bicara Dimas yang seperti itu membuat Ayla tambak menangis.
" Kenapa kak Dimas marah-marah..hikss? aku nggak mau minum air putih, karena aku akan muntah. Ini semua juga karena kak Dimas yang membuatku sampai hamil. Aku juga tidak mau seperti ini, kak...hikss" intonasi suara Ayla juga ikut meninggi di sertai tangisan segugukan.
Dimas terhenyak. Ia tidak menyangka Ayla akan berbicara dengan keras seperti itu. Dimas menjadi bungkam melihat Ayla yang menangis tersedu-sedu. Ia mengingat perkataan sang onty di mana ibu hami akan sangat sensitif.
__ADS_1
Dimas tidak bermaksud membentak Ayla atau memarahinya, ia hanya kesal karena Ayla tiba-tiba mengeluarkan air itu dari mulutnya. Dimas berfikir Ayla sengaja melakukannya, tapi ternyata tidak. Dimas mengakui kesalahannya yang sangat kasar pada Ayla.
Dimas membuang nafasnya kasar, ia kemudian mendekati Ayla dan ingin menenangkannya, tapi Ayla menepis tangannya yang ingin memegang bahu Ayla.
" Jangan pegang " bentak Ayla. Ia berbalik dan menelungkupkam badannya di atas kasur. Sehingga ia menindih perutnya.
Dimas panik melihat itu, ia tahu jika ibu hamil tidak boleh tidur tengkurap.
" Ayla.. jangan tidur seperti ini "Dimas langsung membalik tubuh Ayla agar terlentang.
" Aku bilang jangan menyentuhku " Ayla berkata dengan sangat keras dan melototkankan matanya ke arah Dimas. Ia sangat marah.
" Kami boleh marah Ayla, tapi kamu jangan melukai bayinya dengan tidur tengkurap seperti itu " Dimas juga sangat mudah sekali marah dan kesal pada Ayla, sehingga lagi-lagi nada bicaranya kembali berubah menjadi seperti orang marah.
" Biarkan saja bayinya terluka, tidak ada yang akan membantuku merawatnya. Kak Dimas hanya menyalahkanku terus dan hanya marah-marah terus kepadaku "
Kata-kata yang Ayla keluarkan sedikit kasar. Ia stres dengan kehamilannya dan Dimas yang selalu marah padanya, sehingga ia berfikir untuk melukai bayi dalam perutnya dengan tengkurap seperti tadi.
" Aku tahu kak Dimas pasti sangat tidak suka kepadaku, karena pernikahan ini membuat kak Dimas berpisah dari kekasih kak Dimas. Dan lebih parahnya lagi, aku malah hamil sehingga membuat kak Dimas semakin membenciku. Jadi buat apa aku mempertahankan bayi ini? setidaknya dengan bayi ini tidak ada, kak Dimas bisa menceraikan ku atau aku yang akan minta cerai"
Air mata Ayla masih mengalir deras keluar dari pelupuk matanya. Rasa pusing, lelah setiap pagi, karena kehamilannya membuat Ayla merasa tidak sanggup dan stres memikirkannya.
Dia tidak bisa makan apa saja, karena bau dari makanan itu yang selalu membuatnya mual. Ayla benar-benar sudah tidak sanggup untuk menjalaninya.
" Aku nggak sanggup kak, aku nggak sanggup" Ayla menangis sejadi-jadinya.
Dimas bungkam mendengar perkataan Ayla, ia kembali menyadari kesalahannya yang memarahi Ayla. Ia juga tidak habis fikir dengan dirinya sendiri yang mudah sekali marah pada Ayla, tapi ia juga tidak bisa mengontrolnya sendiri.
Melihat Ayla yang menangis tersedu-sedu seperti itu, entah dari mana keberaniannya, Dimas memeluk Ayla dengan erat. Walaupun Ayla sudah memberontak untuk memintanya melepaskan pelukannya. Dimas menggubris Ayla yang memukul dadanya.
Yang dia hanya lakukan adalah memeluk Ayla sampai dia merasa tenang. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya suara tangisan Ayla yang terdengar di kamar itu.
.
.
NEXT
__ADS_1
Waduhh..bahaya nih..