
" Baiklah aku akan mengantarmu" Ayla akhirnya pasrah. Dia melupakan tentang pergi bekerja. Sebenarnya Ayla hanya bekerja pada hari libur, karena dia hanya di gaji harian saja.
"Nona muda.., bagaimana jika tuan Hasbu marah pada saya" teriak pak Jang, karena nona mudanya sudah menjauh dari tempatnya saat ini.
" Aku yang akan menjelaskannya pada daddy nanti" Dista juga berteriak menjawabnya.
Ayla dan Dista bersama-sama menikmati perjalanan menggunakan sepeda. Ini adalah pengalaman pertama yang dirasakan oleh Dista.
" Ini sangat menyenangkan. ternyata naik sepeda itu lebih menyenangkan dari pada naik mobil, yah?" ucap Dista. Ia merentangkan kedua tangannya untuk menikmati angin yang menerpa dirinya.
" Kau benar-benar tidak pernah naik sepeda sebelumnya?" tanya Ayla.
"Tidak pernah, makanya aku tidak tahu nah sepeda, hihihi" Dista cekikikan.
" Apa orang tuamu tidak marah nantinya jika kau pulang menggunakan sepeda?"
" Tidak akan" jawab Dista.
" Apa rumahmu masih sangat jauh dista? Aku sudah sangat capek" Ucap Ayla.
Dia sudah mengayuh sepeda selama lima belas menit. Dista mendengar itu merasa kasihan pada sahabatnya. Dia menoleh di sekelilingnya mencari sesuatu.
" Kita berhenti di al**h untuk istirahat sebentar sekalian membeli air putih" ucap Dista. Ia menunjuk salah satu tokoh yang ada di depan mereka.
"Baiklah" Ayla setuju dan mengayuh sepedanya ke sana.
Dista turun dari sepeda dan ingin mengajak Ayla untuk masuk ke dalam.
"Ayo kita beli air!" ucap Dista. Ia menatap Ayla yang masih berada di atas sepeda.
" Tidak perlu. kamu masuklah, aku membawa botol air" ucap Ayla. Ia mengeluarkan botol air itu dari dalam tasnya dan menunjukkan nya pada Dista.
" Ya sudah...aku masih dulu, tunggu di sini, ya!" ucap Dista.
Ia tahu Ayla tidak akan mau ikut masuk dengannya, walaupun dia yang akan membayarnya nanti. Dia berfikir akan pergi membelinya terlebih dahulu baru memberikannya pada Ayla.
Dista masuk kedalam al**h membeli air dan beberapa roti, sedangkan Ayla dia hanya menunggu di kursi yang ada di depan toko al**h sambil meminum airnya.
Satu menit kemudian Dista tampak keluar dari dalam al**h dan menghampiri Ayla yang sedang duduk di sana.
" Sudah selesai?" tanya Ayla saat melihat Dista sudah ada di sebelahnya.
"Sudah. Ini, makalah roti ini dulu untuk mengganjal perut" Ucap Dista. Ia mengeluarkan salah satu roti dan memberikannya pada Ayla.
Ayla menerima roti itu tanpa mengucapkan bantahan. Ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya yang sudah membelinya.
"Terimakasih" ucap Ayla. Dista hanya mengangguk.
Mereka bersantai di kursi itu sambil menunggu roti mereka habis.
"Alhamdulillah, ayo jalan lagi! rotimu sudah habis, kan?" ucap Ayla.
__ADS_1
Ayla sudah menghabiskan rotinya dan menoleh ke arah Dista yang tampaknya juga sudah menghabiskan rotinya.
"Sudah, ayo" Ucap Dista.
Mereka berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah sepeda yang ter parkir di depan mereka. Dista yang sedang berjalan, berhenti, karena mengingat sesuatu.
Dista mengeluarkan handphonenya dari dalam tas miliknya. Dia mencari nomor seseorang di sana. Saat ia sudah menemukannya dia tampak mengirim pesan pada orang itu.
"Kalau mobilnya sudah diperbaiki dan Pak Jang menemukan kami di jalan, jaga jarak dari sepeda agar dia tidak tahu jika Pak Jang mengikuti kami, mengerti, pak?"
"Mengerti, nona" seperti itulah isi pesan yang dikirim oleh Dista kepada Pak Jang.
Dista ingin menikmati naik sepeda bersama sahabatnya, karena setiap ia mengajak Ayla untuk bermain dia tidak bisa. Dengan cara inilah ia bisa bermain dengan sahabatnya itu.
"Dista... cepatlah! kenapa kau lama sekali?" panggil Ayla.
Ayla yang sejak tadi menunggu Dista, terlihat sangat lama. Dista yang mendengar panggilan Ayla segera menyimpan kembali handphone dan menghampirinya.
"Maaf-maaf, tadi aku sedang menghubungi seseorang" ucap Dista. Ia segara naik ke atas sepeda.
Ayla kembali mengayuh sepedanya dengan Dista yang memeluk pinggangnya dari belakang.
"Kira-kira berapa menit lagi kota sampai di rumahmu?" tanya Ayla.
"Sekitar 10 menit lagi" jawab Dista.
"Sudah dekat rupanya"
"Yahh..di depan nanti ada turunan, hati-hati!" ucap Dista. Ia memperingati Ayla untuk berhati-hati saat mengayuh nantinya.
"Sekitar 5 meter lah" jawab Dista.
Ayla memperhatikan jalan di depannya. Saat sepedanya sudah hampir mendekati turunan Ayla mengurangi kecepatan mengayuhnya dan mengeremnya pelan.
"Pegangan yang kuat, Dista. Ini akan sedikit kencang nantinya" ucap Ayla. Dista yang mendengar itu semakin memeluk Ayla erat.
Sepeda itu sudah mencapai turunan dan meluncur kebawah dengan kencang. Dista yang pertama kali merasakannya malah berteriak riang.
"Aaaaa....ini sangat seruuuu...." Dista berteriak selama penurunan, sedangkan Ayla ia juga menikmati, tapi matanya tetap fokus pada jalanan.
Ayla tidak mungkin mengerem sepedanya, karena mereka bisa jatuh nantinya.
Hahahaha.....
Ayla dan Dista tertawa puas setelah melewati jalan itu. Mereka seakan sedang bermain wahana permainan, akibat sepeda itu melaju dengan sangat cepat.
"Wahhh... tadi itu sangat seru, Ay" ucap Dista.
"Haha..kau benar. Ini pertama kalinya aku melewati jalan penurunan seperti tadi" ucap Ayla. Sepeda mereka sudah berjalan dengan stabil.
"Sungguh? walaupun aku sering melewatinya, tapi ini pertama kalinya aku melewati jalan itu sangat seru. Berbeda saat menggunakan mobil, kita tidak merasakan apapun" ujar Dista.
__ADS_1
"Ini pengalaman pertama kita" ucap Dista.
"Hmmm...." Dista berdehem sebagai jawaban.
"Rumahku ada di ujung sana, yang ada lampu besar di depannya" Dista menunjuk ke arah depan jalan yang ada lampu besar yang berdiri di depan rumah itu.
"Ohh..aku melihatnya" ucap Ayla. Ia mengayuh sepedanya dengan kuat agar cepat sampai.
Saat sepeda itu dekat dengan lampu besar, sudah nampak sebuah gerbang besar di sana dengan tembok pagar yang menjulang tinggi. Ayla terperangah melihat itu.
Ia menoleh di sekelilingnya mencari rumah lain di sana, tapi tidak ada rumah sama sekali yang dia lihat. Ayla menghentikan mengayuh sepedanya dan menoleh kebelakang.
"Dis...,rumahmu ada di mana? di sini hanya ada tembok besar saja!" tanya Ayla pada Dista.
"Di balik tembok ini rumah aku" jawab Dista. Ia menunjuk tembok besar yang ada di depan mereka.
"Hah...di balik tembok ini? tapi kok atapnya gak kelihatan dari sini, yah?" Ayla masih bingung dengan keadaan rumah Dista.
"Hahah...makanya ayo masuk! bawa sepedanya ke gerbang sana!" perintah Dista.
Ia tertawa melihat tingkah Ayla yang kebingungan. Dista menunjuk gerbang besar berwarna hitam di sana.
"Ayo cepetan!" ucap Dista. Ayla mengayuh sepeda itu ke depan gerbang.
Saat sampai di sana, pintu gerbang itu tertutup rapat. Dista turun dari sepeda dan memencet tombol disalah satu pintu gerbangnya.
Setelah Dista memencetnya, sebuah kubah berbentuk persegi panjang terbuka, muncul dua bola mata milik penjaga gerbang.
"Buka pintunya cepat!" perintah Dista pada penjaga gerbang itu.
Penjaga yang melihat nona mudanya ada di luar segera membuka gerbang itu lebar-lebar.
"Ayo Ay, kita masuk!" Dista naik kembali ke sepeda itu.
"Enggak di dorong aja sepedanya?" tanya Ayla.
"Enggak lah, masih jauh ke dalam, capek kalau jalan kaki" ucap Dista.
.
.
.
.
.
NEXT...
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, AND VOTE.
__ADS_1
AYO TEMAN-TEMAN TINGGALKAN JEJEK KALIAN, ITU SANGAT BERBUGA BAGI AUTHOR. SEBUAH SUPPORT DARI KALIAN ITU SANGAT BERMAKNA,
TERIMAKASIH.....