Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 77. Hampir jatuh


__ADS_3

" Kalau kalian hanya datang untuk mengejek, mending kalian duduk deh di tempat kalian. Gua muak liat wajah lu-lu pada" Dista menunjuk mereka satu persatu dengan jari telunjuknya.


" Idih..ada yang ngamuk gays " ucap Sifa dengan nada meledek seraya melihat Dista dengan sinis.


" Kenapa ?" Dista maju mendekati Sifa dengan menantang.


" Nggak takut masuk BK lagi lu?" Tasya mendorong bahu Dista ke samping dengan jari telunjuknya.


" Ckk..buat apa gua takut. Apa yang gua lakuin juga adalah hal yang benar " kini Dista berbalik menatap Tasya.


" Cih..sok jadi pahlawan " Tasya berdecih melihat Dista menjadi tameng untuk Ayla.


" Terimakasih pujiannya. Gua memang pahlawan hebat yang membela kebenaran tanpa meminta bantuan orang lain. Bukan sepertimu yang merengek ke kepala sekolah" Dista mengejek Tasya yang selalu mengadu ke kepala sekolah dan berkata yang tidak-tidak.


" Maksud lu apa?" Tasya yang tidak terima dengan perkataan Dista mendorongnya ke belakang, sehingga Dista sedikit mundur.


Ayla yang melihat mereka mulai panas, ingin melerainya dengan menarik tangan Dista.


" Dista, hentikan "


Dista tidak menghiraukan perkataan Ayla, dia melepaskan tangannya yang di tarik oleh Ayla dan mendorong Tasya.


" Apa lu tuli ?" ucap Dista pada Tasya.


Tasya tidak terima di perlakukan seperti itu, hingga akhirnya mereka bertengkar. Tarik menarik rambut tidak bisa di hindarkan oleh keduanya. Mereka seperti banteng dengan kepala mereka menyatu akibat tarikan rambut.


Ayla melerai mereka dengan menarik bergantian tangan Dista maupun Tasya , tapi tenaga mereka lebih kuat darinya. Hingga akhirnya, Tasya yang kesal dengan Ayla yang selalu menarik tangannya, langsung menghempaskannya hingga membuat Ayla hampir terjatuh. Untung saja ada Roni yang sempat menangkap tubuhnya.


Akhhh...


Ayla berteriak kecil, karena kaget. Dista yang mendengar itu, melepaskan jambakannya dan melepaskan jambakan Tasya di kepalanya.


" Kamu tidak pa-pa?" Dista menghampiri Ayla. Ia sangat khawatir dengan kondisi Ayla yang tengah hamil. Dista memegang perut Ayla, untuk memastikan calon keponakannya baik-baik saja. padahal dengan cara itu saja, ia tetap tidak tahu bagaimana kondisinya di dalam sana.


" Aku baik-baik saja. Untung tadi Roni menangkapku " Ayla berbalik menatap Roni.

__ADS_1


" Terimakasih, Ron " ucap Ayla kemudian.


Roni hanya mengangguk untuk membalas perkataan Ayla. Roni yang baru masuk ke dalam kelas, tidak sengaja melihat Ayla yang terdorong akibat ulah Tasya. Dengan sedikit barlari, Roni menangkap tubuh Ayla yang hampir terduduk di lantai.


 Bisa di bayangkan jika Ayla terjatuh dengan posisi duduk seperti itu, yang ada kandungannya akan keguguran. Apa lagi kondisi kandungan Ayla masih terbilang lemah. Sedikit saja kesalahan akan berakibat fatal.


Sedangkan Dista, dia semakin marah dengan tiga sekawan itu.


" Kau..." Dista menunjuk Tasya dengan mata tajam melihat ke arah Tasya. Dista ingin menghampiri Tasya, tapi tangannya di tarik.


" Dista, sudah cukup. Jangan bertengkar seperti ini. Nanti guru akan melihatmu dan menghukummu" Ayla menahan tangan Dista yang ingin menghampiri Tasya.


" Tapi mereka keterlaluan, kamu hampir saja jatuh jika Roni tidak menangkapmu. Padahal kamu baru saja masuk sekolah dan dia sudah membuat ulah " Dista tidak terima Tasya dan kedua temannya selalu mengganggu Ayla dan dirinya. Entah ada masalah apa dengan mereka, sehingga mereka tidak menyukai dirinya dan Ayla.


" Aku sudah baik-baik saja, Ta. Tahan emosimu. Mereka akan semakin gencar mencari gara-gara denganmu, kalau kamu selalu terpancing emosi. Biarkan saja mereka, jika kita membiarkan mereka, mereka akan capek sendiri nantinya" Ayla berkata dengan pelan, sehingga hanya Dista yang mendengarnya.


Sedangkan Dista yang mendengar nasihat sahabatnya sekaligus kakak iparnya itu, hanya menghela nafas berat. Ia kemudian menatap tiga sekawan itu, dengan mata tajamnya.


Tasya melipat tangannya di dada serta menatap Dista dengan remeh dan penuh kemenangan. Ia merasa dirinya memang, karena melihat Ayla menahan Dista untuk melawannya. Tasya berfikir, Ayla takut dengannya, padahal tidak seperti itu.


Apalagi bell sudah berbunyi, mereka juga takut nanti di lihat oleh guru dan guru itu akan melapor pada ayahnya yang berstatus kepala sekolah.


Tak berselang lama, guru pun datang dan memberikan materi pada mereka. Saat guru mengapsen nama-nama muridnya, ia sedikit kaget saat tahu Ayla sudah masuk sekolah lagi.


Bagaimana tidak, Ayla sudah terkenal di kalangan guru-guru yang mengajar di kelasnya, karena Ayla keseringan masuk rumah sakit dan selalu ada kiriman surat dari rumah sakit untuk diberikan kepada kepala sekolah dan diberitahukan ke semua guru yang mengajar di kelasnya.


Pelajaran pun kini di mulai. Ayla sangat senang bisa duduk di kelas lagi dan memperhatikan guru menjelaskan. Ia sangat merindukan hal seperti ini.


 


Setelah beberapa jam duduk di dalam kelas, kini waktunya mereka untuk istirahat. Guru pun sudah keluar, begitupun dengan murid lainnya yang sudah berhamburan keluar.


" Hei.. kalian nggak ke kantin?" Roni menghampiri Dista dan Ayla untuk mengajaknya ke kantin.


" Nggak. Kami membawa bekal " Dista menggeleng dan menunjukkan bekalnya.

__ADS_1


" Boleh gua gabung dengan kalian? gua beli makanan dulu, terus memakannya di sini"


" Kamu makan makanan kami saja, ini juga masih banyak. Dan aku rasa ini cukup untuk di makan bertiga" ucap Ayla.


" Tidak perlu. Gua akan beli makanan di luar saja" Roni berjalan meninggalkan mereka untuk membeli makanan.


" Kalian jangan makan dulu! tungguin gua" saat berada di depan pintu, Roni berbalik lagi untuk menahan mereka agar tidak makan lebih dulu.


Dista mengangkat jempolnya tanda mereka akan menunggu Roni.


" Apa perutmu baik-baik saja?" Dista sebenarnya masih kepikiran dengan keadaan Ayla yang hampir jatuh tadi.


" Aku baik-baik saja, Ta. Nggak perlu khawatir" Ayla berusaha meyakinkan Dista agar tidak lagi khawatir dengannya.


" Gua sangat takut terjadi sesuatu dengan pemakan aku " Dista menunduk ke arah perut Ayla, sehingga wajahnya sangat dekat dengan perut Ayla.


Dista kemudian mengusap perut Ayla dengan lembut.


" Kamu baik-baik yah di dalam sana, onty akan menjagamu. Kamu juga harus kuat seperti onty, agar kamu bisa lihat onty yang paling cantik ini" Dista mengajak perut Ayla berbicara. Ia benar-benar tidak sabar untuk ketemu dengan calon ponakannya. Padahal bayinya masih sekecil biji kacang.


Sedangkan Ayla, ia tersenyum melihat Dista berbicara dengan perutnya. Ia masih tidak menyangka memiliki bayi dalam perutnya.


" Udah Ta, nanti di liat anak-anak yang lain" Ayla menghentikan Dista yang masih asik berbicara dengan perutnya.


" Mereka masih di kantin, jadi mana mungkin ada yang mendengarnya" ucap Dista saat ia sudah tidak lagi menunduk.


" Iya sih.."


" Kamu tahu, sebenarnya aku masih tidak menyangka ada bayi di perutku " Ayla menatap Dista.


" Itu...." perkataan Dista terhenti, karena Roni tiba-tiba Roni muncul di depan pintu dan berjalan ke arah mereka.


" Maaf lama. Tadi antri banget" Roni memutar kursi yang ada di depan meja Ayla dan Dista, agar ia bisa duduk dan makan di satu meja dengan mereka.


" Tidak apa-apa. Ayo makan" ucap Ayla.

__ADS_1


Sebenarnya Ayla sempat kaget saat Roni tiba-tiba muncul. Ia takut Roni mendengar perkataannya tadi, tapi Ayla berusaha biasa saja dan melupakannya.Dan tetap berfikir positif, Kalau Roni tidak mendengar perkataannya.


__ADS_2