Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 60. Mall


__ADS_3

Tak berselang lama setelah kepergian daddy Hasbu, makanan yang di masak mom Awah kini telah jadi.


" Masakannya udah jadi, kita ke meja makan yuk !" ajak mom Awah. Ia membawa Ayla ke meja makan dan di sana masih ada Dista.


" Kamu belum selesai, sayang ?" tanya mom Awah pada Dista.


" Dista nungguin kalian "


" Kamu nggak pa-pa ?" tanya Dista lagi pada Ayla.


" Aku nggak apa-apa, kamu nggak usah khawatir" jawab Ayla dengan tersenyum.


" Di mana Dimas ?" tanya mom Awah seraya memindahkan konro itu ke dalam mangkuk.


" Kakak pergi ke kamarnya tadi. Dista heran deh sama kakak, Ayla lagi sakit dia biasa aja "


" Kan udah ada mommy " ucap mom Awah tersenyum.


" Tapikan tetap saja "


" Udah, nggak pa-pa. Mungkin kak Dimas lagi sibuk " Ayla tidak merasa pusing dengan hal itu.


Dista mengangguk dan memperhatikan Ayla dan mommy yang tengah makan.


Berbeda dengan Dimas yang tampak tengah berbicara di telepon dengan sahabatnya di negara S yaitu Kenan.


Dimas buru-buru ke kamarnya saat merasakan handphonenya bergetar ketika dia tengah sarapan.


" Sinta ada di apartemen ?" tanya Dimas memastikan ketika mendengar perkataan Kenan yang mengatakan Sinta ada di apartemennya.


Kamu sebenarnya kenapa tidak pulang bersamanya ? dia datang ke sini marah-marah dan dia memintaku untuk menelponmu _ Kenan_


" Ckk..gua belum bisa balik "


Why ?


" Lu nggak perlu tahu. Di mana Sinta ? gua ingin berbicara dengannya " Dimas menyuruh Kenan untuk memberikan handphonenya pada Sinta. Ia ingin meminta maaf pada kekasihnya itu.


Sinta sedang istirahat di kamarmu. Katanya dia tidak enak badan, karena Dia baru sampai di bandara dan langsung pulang ke apartemen


" Apa !!! kenapa dia langsung ke apartemen? kenapa dia tidak pulang dulu ? bagaimana keadaannya sekarang?" Dimas sangat kaget dan begitu khawatir mendengar kekasihnya sakit. Ingin sekali rasa ia terbang ke negara S dan melihat kondisi kekasihnya.


Dimas begitu khawatir dengan kekasihnya, tapi ia melupakan keadaan istrinya sendiri yang sempat mual di saat sarapan tadi. Atau sebenarnya dia tidak lupa, tapi ia malah mengabaikannya ? kita pun tidak tahu, hanya Dimaslah yang tahu.


Mana gua tahu. Dia datang ke apartemen marah-marah, karena kamu tidak melihatnya pulang. Dia bilang sangat kecewa padamu dan kalau kamu tidak datang menemui dalam 3 hari kedapan, entahlah apa yang akan dia lakukan_ kenan_


" Berikan handphonenya pada Sinta, gua ingin bicara dengannya !"


Baiklah, tunggu sebentar


Kenan pergi ke kamat Dimas yang berada di apartemen dengan Sinta yang berada di dalam, kemudian memberikan handphone pada Sinta .


Halo , Suara Sinta di sebrang telpon membuat jantung Dimas deg-degan.

__ADS_1


" Sayang... maafkan aku " suara Dimas ya begitu lembut memanggil kekasihnya, berbeda saat ia bersama Ayla yang terkadang melihatnya sinis.


Aku akan memafkanmu jika dalam 3 hari kamu sudah berada di sini.


" Ayolah sayang, aku sudah pernah bilang kalau aku tidak bisa kembali ke negara S saat ini"


Itu bukan urusanku, Dimas. Aku sudah pernah memberikanmu waktu untuk menemui ku di bandara, tapi apa ?kamu tidak ada di sana _ Sinta terdengar sangat kecewa_


" Aku datang ke bandara kemarin, tapi peswatmu sudah lepas landas sebelum aku sampai"


Itu sama saja aku tidak melihatmu. Kalau kamu memang masih mencintaiku, datanglah kesini


Tut..


Sambungan telpon di matikan secara sepihak oleh Sinta. Membuat Dimas uring-uringan, memikirkan perkataan kekasihnya.


Arghhh...


" Apa yang harus gua lakukan sekarang ? " gumam Dimas. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya.


Dimas tengah berfikir untuk kembali ke negara S dan menemui kekasihnya, tapi ia tidak yakin orang tuanya akan mengezinkannya.


" Setidaknya gua mencobanya dulu" Dimas bangun dan berjalan keluar dari kamarnya. Ia ingin menemui sang mommy.


Saat akan turun tangga, Dimas berpapasan dengan adiknya.


" Dista baru mau panggil kakak " ucap Dista saat ia bertemu Dimas di tangga.


" Kitakan mau ke mall pagi ini " ucap Dista.


Mereka sudah duduk di sofa dan sudah ada mom Awah dengan Ayla di sana.


" Mau jalan sekarang ?" tanya Dimas.


" Iyalah "


Mendengar itu, Dimas mengunrungkan niatnya untuk memberitahu Mommy-nya. Ia juga tidak mungkin membicarakannya di depan adiknya dan Ayla.


" Baiklah, ayok "Dimas berdiri dan sudah ingin pergi.


" Oh iya, mommy akan kerumah sakit juga untuk melihat hasil pemeriksaan darah Dimas yang di ambil onty Caca waktu itu " mom Awah juga ikut berdiri untuk bersiap ke rumah sakit.


" Apa Dimas juga harus ikut, mom ?" tanya Dimas.


" Tidak perlu. Mommy hanya akan lihat hasilnya saja, kalau memang kamu di perlukan ke rumah sakit, mommy akan menelponmu nanti "


Mendengar itu Dimas mengangguk. Mereka bertiga berpamitan pada mom Awah dan berjalan keluar dari mansion.


Ayla tetap ikut dengan mereka walaupun mom Awah sempat melarangnya untuk pergi, karena ia kurang enak badan tadi. Tapi Ayla mengatakan baik-baik saja dan tetap kekeh untuk ikut.


" Kita ke mana dulu ?" tanya Dimas.


Mobil sudah berjalan 1 menit yang lalu dan Dimas belum tahu tujuan pertama mereka ke mana lebih dahulu.

__ADS_1


" Kita ke mall saja dulu, nanti sepulang dari sana kita singgung di rumahku " jawab Ayla.


Tidak ada yang menyahut lagi, hanya Dimas yang mengangguk tanda ia mengerti. Ayla duduk di depan bersama Dimas dengan Dista di belakang. Awalnya Ayla menolak untuk duduk di depan karena merasa malu, tapi dengan paksaan Dista dan Dimas juga menyuruh Ayla untuk duduk di depan akhirnya dia mau.


Mall


Mereka sudah sampai di mall dan kini mereka berjalan memasuki toko yang menjual perlengkapan sekolah. Ayla dan Dista saling bergandengan tangan berjalan bersama dengan riang, sedangkan Dimas hanya memperhatikan kedua-nya dari belakang.


Dia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya yang seperti anak kecil.


" Ay..lihat deh, initu lucu banget " Dista memperlihatkan sebuah pulpen dengan hiasan boneka kecil di atasnya berbentuk wini the Pooh.


" Iya, itu lucu " Ayla juga ikut gemas melihat pulpen itu.


Mereka masih asik berputar-putar di toko perlengkapan sekolah, sehingga membuat Dimas merasa bosan dan jenuh menunggu mereka.


" Kalian lama banget sih " gerutu Dimas.


" Sabar napa, kak " Dista juga ikut kesal di suruh untuk buru-buru.


" Cepetan!! kakak akan tinggal lo nanti, kalau kalian lama banget "


" Iya-iya. Kakak bayarin punya Ayla dong " Dista menunjuk ke arah Ayla yang tengah asik melihat-lihat sebuah tas.


Ayla hanya melihat saja sejak tadi, karena ia tidak memiliki uang untuk membeli. Lagipula ia berfikir masih punya alat tulis kosong di rumah. Ayla melihat tas yang tergantung itu, karena ia mengingat tas miliknya sudah ada yang robek.


"Hufft...Iya, nanti kakak bayarin. Udah cepetan ke kasir sanah " Dimas mendorong adiknya ke kasir, kamudian ia menghampiri Ayla yang masih fokus melihat-lihat.


" Ambillah cepat !" seru Dimas.


" Ehh..nggak usah kak, Ayla hanya melihat saja " Ayla ingin pergi, tapi Dimas menarik bajunya.


" Pilih saja yang mana kamu suka, jangan membuatku marah dengan kamu tidak mau mengambilnya " Dimas menatap Ayla tajam.


" Iii..Iyah " Ayla menjadi gugup di tatap seperti itu.


Ayla dengan asal mengambil tas yang ada di depannya dan membawanya ke kasir. Dimas yang melihat itu tersenyum miring dan menyusul Ayla ke kasir.


Setelah mereka berbelanja di toko perlengkapan sekolah, kini mereka tengah menyusuri mall mengikuti Dista yang entah mau ke mana. Dista selalu menarik Ayla untuk singgah di berbagai toko yang menurutnya bagus untuk di jelajahi, tapi ujung-ujungnya dia akan keluar tanpa membeli apapun.


Dimas sudah merasa lelah mengikuti adiknya, begitupun dengan Ayla yang sudah merasa pusing terlalu lama berjalan mengelilingi mall.


" Dista..." panggil Ayla lirih. Penglihatannya sudah mulai buram.


Ayla berjalan dengan pelan mengikuti Dista, hingga akhirnya terdengar teriakan Dista yang begitu panik.


" AYLA..." panggil Dista.


.


.


NEXT..

__ADS_1


__ADS_2