
"Kalau sudah langsung turun sarapan yah?" teriak mom Awah.
" Iya, mom" Dista membalasnya dengan berteriak di kamar di dalam kamar mandi.
Setelah Dista mencuci wajahnya, ia pun keluar dan melap wajahnya dengan handuk. Saat akan membuka pintunya, Dista teringat sesuatu.
"Oh iya, semalam kan gua tidur dengan Ayla, tapi dia kok udah nggak ada? apa dia sudah bangun lebih dulu? tapi kenapa dia tidak membangunkanku? atau aku yang tidak dengar" berbagai pertanyaan muncul di dalam benaknya dan memikirkan Ayla yang sudah tidak ada di kamarnya.
Dista pun bergegas turun ke lantai bawah di mana ruang makan berada. Sesampainya di meja, Dista menarik kursi dan duduk. Ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air lalu meminumnya.
"Mom" panggil Dista pada sang mommy yang terlihat serius memindahkan makanan ke dalam piring.
"Kenapa?" jawab mom Awah sambil membawa makanan itu ke meja.
"Saat mommy ke kamar Dista, apa Ayla sudah bangun lebih dulu?"
"Memang Ayla tidur di kamarmu semalam?" mom Awah tidak tahu akan hal tersebut. Ia mengerutkan keningnya.
"Iya. Ayla tidur dengan Dista semalam. Katanya dia tidak mau tidur dengan kakak"
Mereka bertengkar lagi?_batin mom Awah_
"Tapi mommy tidak melihat Ayla di kamarmu tadi. Setahu mommy juga belum ada yang bangun kecuali para pekerja"
"Lah...terus Ayla ke mana?"
"Mungkin Ayla pergi ke kamarnya semalam. Cuma kamu tidak mendengarnya"
"Apa iya?" Dista berfikir dan mengingat-ingat serta mengusap dagunya menggunakan jari jempol dan telunjuknya.
Di saat Dista tengah berfikir, daddy Hasbu terlihat berjalan ke meja makan dengan setelan jasnya yang sudah sangat rapi.
"Dimas dan Ayla belum bangun?" tanya daddy Hasbu sambil menarik kursi untuk ia duduk.
"Belum, dad" jawab Dista.
"Kamu tidak membangunkan mereka, mom?" tanya daddy Hasbu lagi.
"Tidak. Aku tidak pernah membangunkan mereka, karena pintunya di kunci. Mommy juga tidak ingin mengganggu mereka, biar mereka sendiri yang belajar untuk saling membangunkan satu sama lain" jawab mom Awah dengan mengambilkan makan untuk suami dan putrinya.
"Biasanya Ayla juga selalu bangun lebih awal. Mungkin Ayla masih merasa lelah dan kondisinya juga masih menurun, sehingga membuatnya lambat bangun" tambah mom Awah sambil mengisi piringnya sendiri.
Daddy Hasbu mengangguk dan mereka mulai sarapan tanpa sepasang suami-istri muda tersebut.
Setelah mereka selesai sarapan Dista berangkat ke sekolah dan seperti biasanya di antar oleh pak Jang, sedangkan daddy Hasbu di supiri oleh Felix.
__ADS_1
Setelah melihat suami dan putrinya pergi, mom Awah pun pergi mencari kesibukan sendiri. Entah berada di kebun belakang di mana sayur dan buah-buahan berada atau sesekali berhadapan dengan leptonya.
Berbeda dengan keadaan kama Sepasang suami Istri mudah tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul 07:05 tapi belum ada yang bangun sama sekali. Posisi tidur mereka pun masih sama. Bahkan Ayla terlihat membalas pelukan Dimas.
Hingga di menit ke 10 Ayla mulai mengerjapkan matanya. Ia ingin menggeliat, tapi ia merasa tubuhnya terkunci dan tidak bisa bergerak. Matanya menyipit,Ayla memperbaiki penglihatannya.
Deg
Ayla kaget ketika matanya sudah stabil dan melihat sebuah leher dengan jarak begitu dekat. Ia mengangkat kepalanya dan betapa kagetnya ia melihat wajah Dimas yang tertidur sangat pulas.
Deg....deg
Jantung Ayla berdetak cepat. Ia kini menyadari dirinya tengah berada di dalam pelukan Dimas dan ia pun juga memeluknya. Ayla buru-buru melepasnya dan...
Brukkk...
Ayla mendorong Dimas hingga terjatuh ke lantai. Ia berniat melepaskan pelukan Dimas pada tubuhnya. Namun, dorongan yang cukup kuat membuat Dimas terjatuh dari atas kasur.
"Akhh...Ayla!!!" pekik Dimas kesal. Ia berbalik dan memegang tubuhnya yang terasa sakit akibat terjatuh.
Ayla pun juga ikut kaget, karena ia tidak bermaksud untuk membuat Dimas terjatuh.
"Kenapa kau mendorongku?" Dimas berdiri dan manatap Ayla kesal.
Ayla ingin meminta maaf, kata yang keluar dari mulutnya berbeda dengan hatinya.
"Ckkk...menurutmu?" Dimas naik kembali ke atas kasur dan menatap Ayla dengan intens.
"Kak Dimas yang membawaku ke sini kan? Dan kenapa kak Dimas memeluk? bukan kah aku pernah bilang jangan menyentuhku? aku nggak ma...."
Perkataan Ayla terhenti, karena Dimas tiba-tiba menempelkan jari telunjuknya di bibir Ayla. "Diam!!" sentak Dimas. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Ayla. Ia menatap mata Ayla tajam.
"Dan aku juga sudah pernah bilang bahwa menyentuhmu saja tidak akan membuatmu hamil. Apa perlu aku tunjukkan cara yang sebenarnya yang bisa membuatmu hamil?" tambah Dimas sambil lebih mendekatkan wajahnya.
Ayla yang melihat itu menjadi panik. Ia juga memundurkan wajahnya hingga ia kembali berbaring. Dimas yang melihat itu tersenyum miring.
Posisi mereka kini berubah. Dimas terlihat menindih Ayla.
"Kak Dimas apa-apaan sihi! minggir!!" Ayla mendorong dada Dimas dengan kuat, tapi Dimas langsung memegang kedua tangannya dan mengunci tangan Ayla di dekat kepalanya sendiri.
Ayla semakin panik. Ia menggoyang-goyangkan kedua tangannya agar Dimas melepaskannya.
"Lepas!!" sentak Ayla.
" Dengar Ayla!" ucap Dimas dengan lebih mendekatkan wajahnya, sehingga Ayla bisa merasakan hembusan nafasnya.
__ADS_1
"Jangan pernah sekali-kali kamu tidur dengan Dista sementara aku ada di sini. Aku tidak suka, apa kamu mengerti?" tambah Dimas.
"Memang kenapa? terserah aku mau tidur di mana. Kenapa kak Dimas jadi melarangku?"
"Kau tanya kenapa?" Ayla diam saja menatap Dimas. "Itu karena aku SUAMImu, apa kamu lupa?" Dimas menekan kata suami agar Ayla mengingat statusnya saat ini.
Ayla yang mendengar Dimas menyinggung kata suami membuat ia memutar bola matanya malas dan menatap Dimas tak suka.
"Yah..suami. Suami yang tidak bertanggung jawab pada istri dan anaknya sendiri. Lebih mementingkan KEKASIHNYA dari pada istri dan anaknya. Apakah yang namanya suami" kini giliran Ayla menyinggung Dimas kembali. Ia merasa kesal Dimas menyudutkannya dengan menyinggung statusnya.
Dimas menjadi bungkam. Ia juga tahu kesalahannya.
"Kenapa? kenapa diam? benarkan yang aku bilang? kak Dimas bukanlah seorang suami yang bertanggung jawab. Dan status suami yang kak Dimas sandang sekarang hanyalah sebuah status saja. HANYA SEBUAH STATUS" Ayla menekan kata-katanya. Ia merasa marah.
"Yahh..aku tahu kesalahanku, tapi bukankah aku sudah meminta maaf dan aku ingin memperbaiki hubungan pernikahan kita? tapi kamu yang menjaga jarak dariku dengan memilih tidur dengan Dista dan kamu sangat takut aku sentuh"
"Tentu saja aku sangat takut kak Dimas menyentuhku. Aku tidak ingin hamil lagi. Kak Dimas tidak tahu bagaimana aku begitu tersiksa selama aku hamil. Aku kesulitan untuk makan, aku selalu mual di pagi hari dan apa yang kak Dimas lakukan selama aku hamil?"
Dimas diam dan menyadari dirinya tidak pernah membantu Ayla selama kehamilannya kemarin.
"Tidak ada kan? kak Dimas lebih mementingkan kak Sinta yang berada di Negera S, sementara aku juga membutuhkan seseorang di sampingku. Aku selalu ingin makan sesuatu, tapi aku sungkan memintanya pada mommy. Dan aku pernah meminta pada kak Dimas untuk pertama kalinya membelikan aku Bircher müesli, tapi kak Dimas tidak bisa"
Ayla meluapkan apa yang ia tahan dan rasakan ketika ia sedang hamil kemarin.
Dimas merasa bersalah. "Oke aku benar-benar minta maaf telah mengabaikanmu"
" Sudahlah. Kak Dimas minggir dari atas tubuhku!!" Ayla sudah merasa lelah dan mendorong dada Dimas lagi.
Dimas yang merasa Ayla mengabaikan permintaan maafnya merasa kesal sendiri.
"Kak Dimas minggir!!" Ayla sedikit berteriak dan menatap Dimas tajam.
Dimas jadi tersinggung dengan Ayla yang menyuruhnya pindah dengan berteriak padanya. Ia juga tidak suka Ayla menatapnya seperti itu.
"Jangan pernah menatapku seperti itu dan jangan pernah berteriak padaku" ucap Dimas datar.
"Aku memben....hammpttt" Dimas tahu apa yang akan Ayla katakan. Ia langsung membungkam mulut Ayla dengan bibirnya agar Ayla tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Dimas me***t bibir Ayla sedikit cepat. Ayla melototkankan matanya, karena saking kagetnya. Ayla memberontak.
"Hmmm..." Ayla berbunyi agar Dimas mau melepaskan ciuamannya.
.
.
__ADS_1
NEXT