Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 27. Berdebat


__ADS_3

Keesokan harinya


Dista tengah bersiap berangkat ke sekolah .Saat ini dia tengah merapikan buku yang akan dia pelajari hari ini .Dista tidak sempat melakukannya semalam ,karena merasa kesal pada sang kakak membuat Dista langsung tidur .


" Sudah sesai ?" tanya mom Awah pada putrinya .


" Sudah ,mom" jawab Dista .


" Yasudah , berangkat sana , nanti kamu terlambat !" ucap mom Awah .


Dista mengangguk dan tidak lupa ia mencium tangan sang mommy sebelum berangkat sekolah .


Mobil khusus yang mengantar Dista ke sekolah sudah terparkir di halaman manssion . Lebih tepatnya di depan pintu. Seperti biasa yang menjadi supir pak Jang.


Mobil sudah mulai berjalan dan meninggalkan halaman manssion. Dista melambai ke arah mommy-nya, begitupun mom Awah yang membalas lambaian putrinya.


Di perjalanan menuju sekolah, Dista hanya diam dan memangku wajahnya pada jendela mobil. Jendelanya di biarkan terbuka, sehingga angin pagi yang menyegarkan terasa mengenai wajahnya.


Saat mobil yang di naiki Dista melewati jalanan yang pernah Ayla bertemu preman itu, membuat Dista mengingat tentang preman itu.


" Pak Jang, Di mana preman yang menggangu Ayla sekarang?" tanya Dista.


" Mereka sudah di dalam penjara, nona" jawab pak Jang.


"Berapa lama mereka di tahan? "tanya Dista seraya memajukan tubuhnya, sehingga ia dapat melihat wajah pak Jang dari samping.


" Sekitar 15 tahun, nona "


" Baguslah. Dista kira hanya 5 tahun saja " ucap Dista. Ia kembali ke posisinya semula dan duduk di sana sampai di sekolah.


Teman-teman Dista belum ada yang tahu, kalau dia selalu menaiki mobil ke sekolah. Dista selalu bersembunyi saat turun dari mobil agar tidak ada yang melihatnya.


" Terimakasih, pak Jang" ucap Dista.


"Sama-sama, nona"


Dista berjalan menuju gerbang sekolah kurang lebih 50 meter. Dia rela melakukan hal itu agar tidak ada temannya yang tahu kecuali Ayla.


Pak Jang yang selalu mengawasi sang nona muda selama dia berada di sekolah. Pandangan tidak pernah lepas dari nona mudanya hingga dia menghilang di balik pintu pagar gerbang sekolah.


Pak Jang turun dari mobil dan mengawasi nona mudanya di depan gerbang sekolah. Terkadang ia bergabung dengan para satpam sekolah dan kembali lagi ke mobil saat jam pulang, sebelum nona mudanya melihatnya.


Dista berjalan masuk ke dalam kelasnya. Sudah banyak murid-murid yang sudah datang, termasuk geng Tasya.


" Wuu..siapa yang datang ni gayss.." ucap Tasya.


Para siswa yang lain menoleh ke arah Dista yang berjalan ke tempat duduknya. Dista tidak menggubris mereka.


" Dari mana lu? kenapa nggak ke sekolah kemarin? apa Ayla sudah sekarat, hahah.." tanya Tasya dan ujung-ujungnya ngeledek juga.

__ADS_1


Sofia dan Sifa ikut tertawa mendengar perkataan Tasya. Dista sangat geram mendengarnya.


" Lo apa-apaan sih" ucap Dista tidak terima.


" Apaan? apa ada yang salah dengan perkataan gue? " tanya Tasya dengan nada menyebalkan.


" Maksud lo apa bilang Ayla sekarat? Lo mendoakan Ayla cepat mati? tega banget lo" ucap Dista marah.


" Wajar dong gue bilang kayak gitu. Kemarin lo nggak pergi sekolah, karena apa? karena dia sekarat di rumah sakit kan?" ucap Tasya.


" Gue benarkan gays?" tanya Tasya pada kedua sahabatnya.


" Yoi..." jawab Sofia dan Sifa bersamaan.


Dista yang mendengar perkataan Tasya lagi semakin marah. Dia berdiri dan mendorong Tasya hingga menabrak bangku di belakangnya.


" Lo jangan pernah katakan itu lagi. Kalau gua mendengarnya lagi, kita akan masuk BK " ucap Dista dengan marah.


Tasya yang tidak terima di perlakukan seperti itu, berbalik mendorong Dista .Dista yang tidak menyadarinya hampir terjatuh. Untung saja dia dapat menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.


" Berani banget lo dorong gue. Gua nggak takut dengan ancaman lo. Lo jangan lupa, kami bertiga sedangkan lo hanya sendiri " ucap Tasya. Sifa dan Sofia berduri di si samping Tasya dan menatap Dista remeh.


" Lo akan kalah, bo**h " ucap Sifa.


" Gue kalah? gue bisa melawan lo bertiga " ucap Dista seraya menunjuk mereka.


" Ohh..benarkah?" ucap Tasya remeh.


Dista mendorong Sofia dan Sifa hingga punggungnya mengenai pinggiran meja.


" Arghhh.." pekik Sifa dan Sofia bersamaan.


Tasya merasa tidak terima dan ingin menjambak rambut Dista, tapi Dista lebih dulu menariknya.


" Jangan berani-berani lo sentuh gue. Perlu gue ingatkan sekali lagi, jangan pernah mengatakan hal itu tentang sahabat gue, kalau nggak lo akan mendapatkan akibatnya" ucap Dista. Ia melepaskan jambakannya dan mendorong Tasya.


" LO..." ucap Tasya sangat marah.


Tanpa Dista sadari, Tasya menendang kaki Dista hingga terjatuh. Sifa dan Sofia yang melihat kesempatan itu, langsung menahan kedua tangan Dista.


" Kalian..lepasin gue" ucap Dista. ia menganyun-ayunkan tangannya agar mereka melepaskannya.


" Nggak akan, hahah..." ucap Sofia. Sifa ikut tertawa mendengar Sofia tertawa.


" Tahan dia kuat-kuat !" pinta Tasya. Ia ingin membalas Dista .


Plakkk..


Terdengar tamparan yang cukup keras. Para siswa yang lain menoleh ke arah mereka. Mereka tidak heran dengan hal itu, karena mereka tahu Tasya dan gengnya suka membully.

__ADS_1


Hahaha....


Mereka bertiga tertawa, sedangkan Dista sedikit meringis karena merasa pedis pada pipinya.


" Sekarang kok nggak bisa apa-apa" ucap Tasya seraya menatap Dista remeh.


Dista yang melihat itu samakin geram. Tatapannya berubah menjadi dingin. Tasya kaget melihat perubahan raut wajah Dista.


Gudubrakkk...


Suara meja dan kursi berhambur. para siswa berdiri untuk melihat siapa yang jatuh.


" Tasya.." pekik Sofia dan Sifa.


Ternyata Tasya yang terjatuh. Dista yang yang menendangnya. Sebelumnya kedua tangannya yang di pegang oleh Sifa dan Sofia, membuat Dista tidak dapat bergerak. Dista dengan otak cerdasnya menggunakan kakinya untuk menendang Tasya, alhasil dia terjatuh.


Dista tersenyum sini melihatnya. Ia puas melihat Tasya yang meringis dan juga ia melihat tangan Tasya tampak lebam.


" Ada apa ini?" ucap Roni selaku ketua kelas. Ia baru saja datang, karena bell sebentar lagi akan berbunyi.


" Apa lagi yang kalain lakukan?" tanya Roni pada Tasya dan gengnya.


" Ini bukan salah kami " elak Sifa.


"Kau tidak lihat, kalau Tasya yang menjadi korban di sini. Lihat tangannya lebam, karena Dista menendangnya. Mereka juga melihatnya" ucap Sofia.


Mereka berbalik menyalahkan Dista sepenuhnya. Mereka juga menunjuk siswa lain menjadi saksi, kalau Dista yang menendangnya.


" Apa yang dikatakan mereka benar, Dista?" tanya Roni memastikan.


" Yah..gua yang menendangnya" jawab Dista.


" Kau dengar sendiri kan? Dista yang menendangnya. Kami tidak bohong" ucap Sofia.


" Kalain bawa Tasya ke UKS untuk di obati!" pinta Roni.


Sofia mengangguk dan membawanya ke UKS. Mereka tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil mengalahkan Dista sepenuhnya.


" Semoga saja Tasya tidak memberitahu kepala sekolah dan berakhir kau masuk ruang Bk" ucap Roni pada Dista.


Dista hanya tak acuh dan kembali duduk di bangkunya. Ia tidak ambil pusing dengan hal itu. Ia juga yakin, kalau Tasya pasti tetap melaporkannya pada kepala sekolah.


.


.


.


.

__ADS_1


NEXT..


__ADS_2