
Pak Jang yang bertugas mengawasi dan mengantar sang nona muda ke manapun dia ingin pergi.
Pagi tadi, dia mendapatkan perintah dari nona mudanya untuk berpura-pura menjadi orang tuanya. Dengan senang hati pak Jang melakukannya, apupun untuk tuan putri keluarga Smith.
Mendengar sang nona muda memiliki masalah dan harus membayar biaya pengobatan dari teman yang dilukai oleh nona mudanya membuat pak Jang sangat heran.
Dia yang ingin mengetahui kebenaran dari peraturan sekolah SMA jaya biru mendatangi tuan Smith selaku pemilik sekolah tempat di mana putrinya bersekolah.
Dan di sini pak Jang berada. Di perusahaan Smith.
" Saya di suruh untuk membayar biaya pengobatannya. Bahkan uang yang mereka minta senilai 500.000 hanya untuk luka lebam saja " ucap pak Jang.
" Benarkah? Itu salah, seharusnya sekolah lah yang menanggung biayanya " ucap daddy Hasbu yang bingung dengan ucapan pak Jang.
" Ada yang salah " ucap daddy Hasbu curiga.
" Apa kepala sekolah membuat peraturan baru dan belum memberitahukannya pada anda, tuan?" tanya pak Jang.
" Sepertinya begitu, tapi biasanya pak Dula tidak akan lupa memberitahu saya jika dia ingin merubah peraturan " ucap daddy Hasbu.
" Maaf tuan untuk kelancangan saya. Saya rasa peraturan itu dapat memberatkan murid dan orang tua mereka. Kita tidak tahu, mereka terlahir dari keluarga seperti apa. Walupun sekolah itu memang sekolah elit, tapi di sana masih ada siswa dari kalangan bawah, termasuk nona Ayla " ucap pak Jang.
" Kau benar. Saya akan menyampaikan ini pada pak Dula nantinya " ucap daddy Hasbu. Ia akan menayakan kebenaran ini kepada pak Dula nantinya. Apakah yang di bicarakan pak Jang itu benar atau ada pihak lain yang sengaja mengambil keuntungan.
" Terimakasih, tuan. Kalau begitu saya pamit kembali ke rumah sakit " ucap pak Jang seraya berdiri dari duduknya.
" Tunggu !" daddy Hasbu menghentikan pak Jang.
" Ada apa tuan? apa anda butuh sesuatu ?" tanya pak Jang seraya menoleh.
Daddy Hasbu diam saja dan mengeluarkan dompetnya dari kantong celana belakang yang dia kenakan.
" Ganti dari uang yang kamu pakai untuk Dista " ucap daddy Hasbu seraya menyodorkan uang berwarnah merah 5 lembar.
" Tidak perlu tuan, Itu sudah menjadi tugas saya. Lagi pula saya hanya mengeluarkan sedikit saja " tolak pak Jang. Ia tidak merasa rugi mengeluarkan uang untuk nona mudanya. Baginya, keselamatan sang nona muda lebih penting dari uang itu.
" Tidak apa-apa ambillah" ucap daddy Hasbu. Ia masih mengarahkan uang itu pada pak Jang.
" Tidak. Terimakasih tuan. Saya permisi " pak Jang tetap menolah.
Ia langsung membungkuk dan meninggalkan tuannya. Ia kembali ke rumah sakit di mana sang nyonya dan nona muda berada.
Di rumah sakit
Terdengar suara tawah di dalam salah satu kamar rawat VIP. Di mana Ayla dan Dista tengah bercerita bersama, membuat nenek Moya dan mom Awah tersenyum melihat keduanya. Apalagi Ayla yang tampak sudah mulai membaik di keadaan kemarin.
__ADS_1
Mom Awah yang saat mendengar Ayla akan keluar sore ini, membuat ia ingin bertanya pada nenek Moya.
" Bu, apa Ayla akan keluar sore ini ?" tanya mom Awah.
" Iya nak, itu benar. Ibu sangat senang saat dokter sudah boleh mengizinkannya pulang " jawab nenek Moya.
" Bagaimana bisa ? maksud aku, bukankah kemarin Ayla sangat tidak memungkinkan untuk pulang ?" tanya mom Awah. Ia mengingat bagaimana Ayla sangat histeris kemarin.
" Begini....." nenek Moya mulai menceritakannya.
Flashback
Setelah kepergian semua orang, nenek Moya duduk di sebelah tampar tidur cucunya. Menggenggam tangannya, sambil menunggunya bangun.
Kerena terlalu lama menunggu membuat nenek Moya tertidur di dekat kasur sang cucu.
Beberapa lama kemudian, nenek Moya merasakan tubuhnya terguncang. Seperti ada yang menggoyang-goyangkan tangannya. Ia membuka mata dan mendapati sang cucu tengah menatapnya.
" Nak.." ucap nenek Moya kaget.
"Kenapa ? ada apa? kami butuh sesuatu ?" nenek Moya mencecar Ayla banyak pertanyaan.
" Tidak " jawab Ayla seraya menggeleng.
" Lalu, kamu mau apa?" tanya nenek Moya. Ia sebenarnya khawatir sang cucu akan histeris lagi.
" Maksudmu? " tanya nenek Moya bingung. Cucunya tiba-tiba meminta maaf padanya. Padahal dia baru saja bangun dan tidak melakukan kesalahan apapun.
"Aku membuat nenek sedih dengan keadaan Ayla. Maafkan Ayla yah, nek ?" ucap Ayla.
" Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, nak. Nenek tidak sedih. Lihat, tidak ada air mata kan?" ucap nenek Moya. Ia menyuruh Ayla untuk melihat matanya, apakah ada air matanya yang mengalir.
" Ayla tahu, nenek tidak menangis saat ini. Tapi, Ayla membuat nenek menangis sebelum aku tidur tadi " ucap Ayla
Nenek Moya kaget. Bagaimana cucunya bisa tahu, kalau ia menagis tadi.
" Aku juga membuat yang lain menangis " ucap Ayla lagi.
" Yang lain ?" tanya nenek Moya bingung.
" Iyah, yang lain. Mommy, Dista dan daddy juga ikut sedih " ucap Ayla.
Nenek Moya samkin bingung mendengar perkataan cucunya.
" Nak, apa kamu tidak apa-apa?" tanya nenek Moya. Ia menayakan seperti itu, takut cucunya mungkin berfikiran lain.
__ADS_1
" Nenek pasti takut, Ayla kenapa-kenapa. Ayla baik-baik saja nek, bahkan lebih baik " ucap Ayla. Ia tidak menjawab pertanyaan sang nenek.
" Apa nenek tahu, Ayla bertemu mamah dan papah di dalam mimpi " ucap Ayla memberitahu.
" Haha...?" nenek Moya kaget dan ingin memperjelas pendengarnya.
"Ayla bertemu mamah dan papah di dalam mimpi. Aku bercerita bersama mereka. Awalnya Ayla ingin ikut dengan mamah dan papah, tapi mereka melarangku. Katanya masih ada nenek dan yang lainnya menghawatirkan Ayla.... " ucap Ayla. Ia berhenti bercerita sejenak dan kembali melanjutkannya.
" Mereka memintaku untuk jangan takut lagi pada mereka ( para preman), karena banyak yang akan menjagaku. Jadi aku tidak boleh takut. Mamah dan papah menyuruhku kembali dan menemui nenek. Mereka juga bilang, akan ada yang menggantikan mereka dan lebih menyayangiku nantinya. Mamah dan papah juga kirim salam untuk nenek " lanjut Ayla.
Tanpa terasa air mata nenek Moya mengalir dari pelupuk matanya. Ia tidak menyangka, putrinya ( mamah Ayla) dan suaminya ( papah Ayla) masih mengawasi Ayla dari atas. Mereka bahkan menemui Ayla lewat mimpi dan memberinya kekuatan.
" Nek, jangan menangis seperti ini " ucap Ayla seraya menghapus air mata sang nenek.
Nenek Moya tersenyum. " Maafkan nenek " ucap nenek Moya. Ayla mengangangguk.
" Apa kamu sudah mengingat semuanya, nak" tanya nenek Moya.
" Yah..aku sudah mengingat semuanya. Aku juga sudah mengingat siapa Dista, dia sahabatku " ucap Ayla
" Syukurlah, nak " ucap nenek Moya seraya memeluk sang cucu.
" Aku harus bisa melawan banyang-bayang dari preman itu " ucap Ayla dengan semangat.
" Itu harus, nak. Itu harus" ucap nenek Moya
Flashback off
" Seperti itu ceritanya " ucap nenek Moya, setelah menceritakan kejadian kemarin.
" Syukurlah, Bu. Ayla di beri dukungan melalui kedua orangtuanya " ucap mom Awah Yat juga merasa senang.
" Kau benar. Ibu juga tidak menyangka, Ayla akan bertemu dengan kedua orangtuanya lewat mimpi dan memberi dukungan padanya " ucap nenek Moya.
Mom Awah tersenyum dan ikut bahagia mendengar perkembangan Ayla. Apalagi Ayla sudah mengingat semuanya. Sekarang tugas mereka hanya membantu Ayla untuk nlepas dari bayang-bayang traumanya.
.
.
.
NEXT...
Mohon dukungan kalian juga. Author sedang mengikuti lomba untuk novel ini..
__ADS_1
.