Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 68. Ornando


__ADS_3

" Ikut gua ke apartemen " pria itu mengedipkan sebelah matanya. Setelah itu mengatakan , pria itu meninggal Sinta yang menatapnya kaget.


Sinta akhirnya mengerti maksud dari pria itu. Sebuah senyuman kecil terlihat di bibir Sinta mengingat apa yang akan mereka lakukan. Sinta kemudian menyusul pria itu keluar dari cafe.


" Hei.." panggil Sinta pada pria itu, setelah ia sampai di mobil milik pria itu.


" Naik lah! " pria itu menyuruh Sinta naik dengan gerakan tangannya.


Sinta pun naik ke atas mobil dan pria itu melajukan mobilnya meninggalkan cafe.


"Bagaimana kabar mommy dan daddy ?" tanya Sinta pada pria itu.


" Mereka baik. Oh ya, kenapa lu nggak pulang ke rumah ?" tanya pria itu.


Sinta belum pernah pulang ke rumahnya sendiri. Saat dia pertama kali tiba di negara S, Sinta langsung ke apartemen milik Dimas dan keesokan harinya Simnta kembali ke apartemen miliknya sendiri.


" Nggak kenapa-napa, gua hanya malas aja"


" by the way, sejak kapan lu kembali ?"


" Sudah 2 malam gua di sini "


Pria itu hanya mengangguk saja.


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sudah sampai diapartemen pria itu.


Dengan semangat pria itu turun dari mobilnya dan menggandeng Sinta masuk.


" Sudah sangat lama kita tidak melakukannya" pria itu langsung mendorong tubuh Sinta ke atas sofa.


Sinta tersenyum penuh menggoda. Pria itu membuka bajunya dan menindih Sinta.


" Lu sangat tidak sabar, kak Ornando " Sinta mengusap rahang Ornando hingga turun mengusap dadanya.


Yahh..pria yang bersama dengan Sinta bernama Ornando. Ornando bukanlah partner Sinta, melainkan dia adalah saudara tirinya. Kenapa Ornando bisa menjadi saudara tirinya ?karena orang tua mereka menikah.


Orang tua kandung Sinta, yaitu daddy kandungnya sudah meninggal saat Sinta berumur 18 tahun. Mommy Sinta bertemu dengan daddy Ornando setelah 7 bulan kepergian daddy Sinta.


Orang tua mereka saling cocok dan akhirnya menikah. Sinta dan Ornando kerap bermain bersama. Apakah orang tua mereka tahu? tentu saja mereka tahu. Mereka hanya berkata, " mereka berdua adalah saudara sekarang, jadi itu bukanlah masalah untuk mereka lakukan ".


Gila memang pemikiran orang tua mereka, sehingga membuat Ornando dan Sinta santai-santai saja bermain. Walaupun mereka bermain di rumah mereka di mana ada orang tuanya di sana.


Dan saat ini, mereka kembali bermain setelah sekian lama. Permainan dewasa yang membuat orang-orang yang memainkannya akan merasa puas, lelah, hingga keringat yang bercucuran dari tubuh mereka.


Akhhh....

__ADS_1


Suara-suara aneh mulai terdengar di apartemen milik Ornando, tapi membuat orang yang mendengarnya menjadi candu.


" Rasanya tidak pernah berubah, Adikku " di tengah pompaan Ornando, ia memuji milik Sinta yang tidak pernah berubah sama sekali sejak terakhir kali mereka bermain.


Panggil yang sering Ornando ucapkan setiap mereka tengah bermain, kerena dengan itu Sinta bisa mengingat siap dirinya untuknya.


Setelah beberapa menit yang panjang, akhirnya mereka mencapai puncak permainan mereka. Ornando ambruk diatas tubuh Sinta, mengingat mereka hanya bermain di atas sofa .


" Permainanmu juga tidak pernah berubah, kak Ornan " Ornan adalah panggilan singkat yang sering Sinta gunakan.


" Tentu saja " Ornando membanggakan dirinya.


Mereka terdiam dengan berusaha menetralkan pernafasan mereka yang masih terengah-engah. Lama mereka terdiam seperti itu, hingga deringan handphone membuyarkan lamunan mereka.


" Handphone lu berbunyi " Ornando memberitahu.


" Ambilkan hp ku di tas, kak Ornan! Gua lelah "


Ornando bangun dari atas tubuh Sinta, sehingga bisa terlihat jalas jika saat ini Sinta tidak memakain sehelai benang pun. Sinta terlentang di atas Sofa tanpa ada yang menutupi tubuhnya.


" Nihh..." Ornando memberikan hp Sinta.


Sinta melihat siapa nama kontak yang tertera di sana.


Kamu di mana, sayang? aku sudah ada di negara S saat ini _Ternyata yang menelpon adalah Dimas_


Mata Sinta membulat. Dia langsung bangun, karena sangat kaget.


" Sejak kapan ?" tanya Sinta


Baru saja. Aku sudah ada di depan apartemenmu, tapi kami ternyata tidak ada. Jadi di mana kamu sekarang? aku akan menjemputmu


Sinta menjadi diam. Ia tidak mungkin memberitahu Dimas jika ia berada di apartemen Ornando. Sinta menoleh kearah Ornando yang ternya memperhatikannya sejak tadi.


Sayang, apa kamu mendengarku?


" Ii..iya, aku mendengarmu " Sinta menjadi kelabakan.


Kami di mana ?_sekali lagi Dimas bertanya, karena tak kunjung mendapat jawaban dari Sinta.


" Tunggu sebentar " Sinta langsung mematikan sambungan telponnya, karena merasa bingung mau menjawab apa. Sinta lalu menghampiri Ornando yang duduk tidak jauh darinya.


" Apa yang harus gua katakan ? Dimas sudah datang ke sini dan dia ingin menjemputku " tanya Sinta panik.


" Bilang saja kalau lu ada di apartemenku" jawab Ornando santai. Ia tidak panik seperti Sinta.

__ADS_1


" Lu bodoh apa bagaimana? Dimas bisa tahu, kalau kita habis bermain " Sinta memukul paha Ornando.


" Lu yang bodoh. Pakai bajumu sekarang! letakan padanya, kalah lu ada di sini dan tunggu dia di depan. Dia tidak akan tahu, kalau kita sudah bermain. Dia kan tahu kalau kita adalah saudara, jadi dia tidak mungkin akan curiga "


Sinta menjadi diam, kemuadian dia tersenyum. Kenapa dirinya tiba-tiba bodoh seperti ini ? pikirannya.


" Bersihkan dirimu ! gua yang akan mengirim lokasinya nanti "


" Baiklah. Terimakasih kakakku sayang " Sinta mengecup pipi Ornando, kamudian berlari tanpa pakaian ke kamar mandi.


Ornando menggeleng, ia kemudian mengirim lokasi apartemennya ke Dimas melalui handphone Sinta. Setelah selesai, ia memungut pakai mereka dan memasukkannya kedalam mesin cuci.


Beberapa menit kemudian, Sura bell apartemen berbunyi. Ornanndo bergegas membuka pintu, yang ternyata Dimas yang datang.


" Masuklah, Sinta masih di kamar mandi " Ornando mengajak Dimas masuk. Ia juga sudah memakai celana tanpa atasan.


" Iya, kak " Dimas masuk ke dalam dan duduk di sofa.


" Minumlah " Ornando menyuguhkan minuman untuk Dimas.


" Terimakasih, kak " Dimas meminumnya.


Ornando mengangguk. " lu tunggu saja Sinta selesai, gua ke kamar dulu " Ornando meninggalkan Dimas sendirian di sana.


Dimas yang sudah merasa sangat lama menunggu, ingin menyandarkan tubuhnya. Dimas menaruh kedua tangannya di sisi kanan dan kiri, kemudian mengangkat bokongnya mundur ke belakang agar punggungnya bisa bersandar di sandaran sofa.


Setelah menyandarkan tubuhnya, Dimas ingin mengambil HP-nya di saku celananya. Namun, ada yang menjanggal tangannya.


" Apa ini ?" Dimas melihat tangannya yang menempel sesuatu yang agak lengket, putih dan sedikit kenyal.


Dimas mencimumnya, " Huh..kenapa seperti bau..." Dimas merasa tidak asing dengannya baunya, namun belum sempat ia menyebutkan apa itu, sudah terdengar suara Sinta.


" Lama yah ?" Sinta menghampiri Dimas.


Dimas tersenyum dan buru-buru mengusap sesutu yang menempel di tangannya kembali ke sofa.


" Tidak juga " Dimas menggeleng. Padahal ia sudah sangat lama menunggu.


.


.


NEXT


Apa yah yang tidak sengaja Dimas di pegang?

__ADS_1


__ADS_2