
" Apa di dalam ada dokter Caca?" tanya Dimas saat ia sudah sampai di depan pintu ruangan aunty Caca dan di sana ia bertanya pada salah satu perawat yang kebetulan lewat.
" Dokter Caca tidak ada di dalam ruangannya. Beliau sedang ada pasien "
" Boleh saya tahu di ruangan mana dokter Caca melayani pasiennya?"
" Tentu tuan, tapi anda tidak boleh menganggu pekerjaannya sampai dokter Caca selesai"
" Baik"
" Dokter Caca sedang berada di IGD saat ini. Anda bisa lewat sana jika ingin ke sana" perawat itu menunjuk lorong yang ada di belakang Dimas untuk sampai di IGD.
" Baiklah, terimaksi"
Dimas pun pamit dan menyusuri lorong tersebut. Sesampainya Dimas di IGD, ia bisa melihat orang tua dan adiknya sedang duduk di kursi tunggu. Dimas juga bisa melihat mommy dan adiknya terlihat menangis.
" Mommy, daddy, Dista" panggil Dimas dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
Dimas melangkah dengan pelan mendekati keluarganya. Namun, saat ia sudah dekat dengan mereka, daddy Hasbu menahannya dengan memberikan tanda stop menggunakan tangannya tanpa mengeluarkan sepatakata pun. Hanya tatapan tajam yang daddy Hasbu berikan pada Dimas.
" Kenapa kamu pulang ke sini?" tanya daddy Hasbu dengan datar.
" Maksud daddy apa? rumah Dimas ada di sini. Di sini keluarga Dimas" Dimas heran dengan pertanyaan daddy-nya. Ia juga bingung kenapa daddy menatapnya seperti itu. Seperti seseorang yang sangat dia benci.
" Keluargamu?" daddy Hasbu tertawa sinis. " Kamu masih menganggap kami keluarga setelah apa yang kamu lakukan?" daddy Hasbu melangkah lebih dekat ke arah putranya dan menatap matanya dengan sangat tajam.
" Dad.../buk.." Dimas ingin berbicara, tapi pukulan daddy-nya membuat ia tidak jadi berbicara.
Pukulan yang sangat kerasa hingga membuat Dimas tersungkur ke lantai. Dengan bibir yang sudah robek dan mengeluarkan sedikit darah.
Mom Awah dan Dista berteriak melihat daddy Hasbu memukul Dimas dengan tiba-tiba. mom Awah ingin mendekat, tapi daddy Hasbu memberi kode agar tidak mendekat.
__ADS_1
Sementara Dimas yang masih tersungkur di lantai menatap sang daddy dengan tatapam bingung. Dimas tidak tahu apa kesalahannya sehingga membuat sang daddy begitu emosi sampai memukulnya seperti itu. Bahkan pukulan tadi adalah pukulan pertama yang Dimas terima selama menjadi putranya.
" Kenapa daddy memukulku?" tanya Dimas sambil berdiri dan menghapus darah yang ada di sudut bibirnya.
" Daddy heran, kenapa daddy memiliki putra pengecut dan tidak bertanggung jawab sepertimu! daddy bahkan tidak pernah bersikap seperti itu pada mommy. Dari mana sifat jelek yang kamu miliki itu?" daddy Hasbu kembali mendekati Dimas.
" Dimas tidak mengerti maksud daddy. Dan sebenarnya apa yang kalian lakukan di sini?" Dimas melihat keluarganya satu persatu. " Kenapa mommy dan Dista menangani?"
Daddy Hasbu tidak menjawab. Ia kemudian melayangkan tinjunya kembali tepat di pipi Dimas. Lagi-lagi mom Awah dan Dista berteriak, karena kaget melihat Dimas sudah babak belur.
Dista kemudian berlari memeluk sang daddy dari belakang. Dista kembali menangis melihat situasi itu. Ia juga merasa kasian melihat Dimas yang sudah babak belur akibat sang daddy, tapi ia juga tahu kesalahan yang dibuat Dimas sangat fatal. Itu adalah pelajaran yang daddy berikakan pada Dimas agar dia menyadari kesalahannya, tapi sayangnya Dimas tidak peka dan tidak mengerti. Daddy Hasbu semakin marah mendengarnya.
" Dad, Dista mohon jangan memukul kakak lagi! cukup satu kali saja" Dista memohon pada daddy-nya agar berhenti.
Dista mempererat pelukannya saat daddy Hasbu ingin melepaskannya. Mom Awah yang melihat itu menghampiri suaminya dan memegang tangannya.
" Sudah cukup, dad! wajah putramu sudah berdarah seperti itu" mom Awah melirik Dimas yang masih meringis. " Cukup satu kali kamu memukulnya! berikan saja Dimas hukuman yang lain, tapi tidak dengan kekerasan fisik" mom Awah memohon dengan harap.
" Pak Jang, antar Dimas untuk mengobati lukanya!" perintah daddy Hasbu.
" Baik, tuan" pak Jang mengangguk dan berjalan menghampiri tuan mudanya serta menarik tangannya.
" Tunggu!" mom Awah menghentikan langkah Dimas dan pak Jang. Ia menghampiri putranya dan berdiri tepat di depannya. " Seharusnya kamu tidak kembali. Mommy pernah bilang, jangan pulang sebelum kamu memutuskan hubunganmu dengan Sinta" mom Awah kini menatapa Dimas dengan pandangan yang tak terbaca.
Deg
Dimas berfikir mommy akan memeluknya dan mengatakan sesuatu dengan suara yang lembut, tapi pikirannya salah. Mommy-nya kembali mengungkit hal yang pernah dia katakan. Dimas berfikir mommy-nya hanya marah sesaat dan perkataannya waktu itu hanya emosi sesaat juga.
" Dimas sudah melakukannya, mom" jawab Dimas pelan, karena pipinya terasa sakit saat ia berbicara.
" Kamu memang sudah mengatakannya, tapi Sinta tidak menerimanya dan tidak mau kalah kamu memutuskannya, begitupun dengan keluarganya"
__ADS_1
" Tapi, mom..." Dimas ingin berbicara lagi, tapi mom Awah langsung meninggalkanya tanpa mau mendengarkan penjelasannya lagi. Dimas hanya bisa membuang nafas pasrah dan mengikuti pak Jang.
Dimas yang sudah menjauh dari IGD dapat mendengar suara sang mommy yang menangis. Dimas hanya bisa memejamkan matanya tanpa tahu kesalahan sebenarnya apa.
" Pak Jang, sebenarnya apa kesalahan Dimas? kenapa daddy begitu marah padaku dan mommy yang menangis seperti itu?" Dimas kini bertanya kepada pak Jang untuk mengetahui sebenarnya apa kesalahannya.
" Anda benar-benar tidak tahu kesalahan anda?" bukannya menjawab, pak Jang malah balik bertanya.
" Aku tidak akan bertanya, kalau aku tahu Pak Jang"
" Apa anda lupa dengan nyonya Ayla yang tengah hamil?" pak Jang masih tidak ingin menjawab, tapi ia malah memberikan teka-teki untuk Dimas agar dia bisa mengingat dengan sendirinya.
Deg
Lagi-lagi perasaan aneh Dimas rasakan. Ada sesuatu hal yang ingin sekali Dimas temui, tapi ia sendiri tidak tahu apa itu. Dimas ingat tentang Ayla, tapi ia lupa tentang dirinya yang akan menjadi seorang ayah beberapa bulan kedepan.
" Di mana Ayla? kenapa aku tidak melihatnya di sana? dan kenapa Dista juga sudah pulang sekolah, padahal ini belum waktunya pulang?" Dimas baru menyadari jika ia tidak melihat keberadaan Ayla.
Mendengar itu, pak Jang menarik nafas berat. Ia mengingat keadaan sang nyonya muda siang tadi.
" Anda akan tahu nanti. Itu bukan hak saya untuk menjawabnya. Silahkan anda tanyakan pada tuan dan nyonya nanti" jawab pak Jang seraya membuka pintu ruangan tempat Dimas akan merawat lukanya.
Dimas menjadi bungkam dan masuk ke dalam ruangan itu. Ia bisa melihat sang onty tengah berdiri dengan melipat tangannya di dada dan menatapnya dengan tajam.
Apalagi kali ini?
.
.
NEXT
__ADS_1