
Tampak penjaga Joni dan Jono sudah terlihat berdiri di sana untuk menunggu mereka keluar, namun saat mereka semua sudah melangkah keluar, Ayla hanya diam saja. membuat mereka heran.
Mereka mengajak Ayla untuk keluar, tapi dia hanya diam. Ayla menatap lurus kedepan, entah apa yang dia lihat dan apa yang ada dia pikiran. Ayla seakan ragu untuk meninggalkan ruangan itu.
" Ayla, kenapa bengong? ayok.." ajak mom Awah. Ia menarik tangan Ayla agar Maya untuk berjalan.
" Apa yang kamu lihat, nak ?" tanya nenek Moya.
" Mereka siapa ?" tunjuk Ayla pada penjaga.
Mereka secara bersamaan menoleh, ke arah Joni dan Jono. Mereka akhirnya tahu kenapa Ayla hanya diam saja dan tidak mau untuk keluar.
" Itu penjaga yang jaga di sini selama kamu sakit " jawab mom Awah.
" Kamu nggak usah khawatir. Mereka baik kok " Dista ikut berbicara agar Ayla tidak merasa takut.
" Benarkah ?" tanya Ayla.
" Iya. Nggak apa-apa. Mereka tidak akan menggigit kok. Iya kan om Jon ?" Dista berusaha meyakinkan Ayla. Ia mendekati Joni agar Ayla percaya dengan perkataanya.
" Jangan takut nona. Kamu pasti bisa. Bukankah kamu ingin pulang dan mencoba untuk melawannya ?" dokter Winston ikut menyemangati Ayla. Ia memberitahu Ayla tujuannya sekarang.
Ayla diam dengan pikiran. Ia nampak menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Ia mencoba melangkah keluar dengan sangat pelan.
Mereka yang melihat Ayla sudah mau bergerak dan meninggalkan tempatnya ikut tersenyum dengan kegigihan Ayla.
" Kamu tidak boleh takut. Aku akan memegang tanganmu " Dista langsung meraih tangan Ayla dan menuntunnya berjalan keluar dari ruangannya.
Kedua sahabat itu berjalan bersama menyusuri lorong rumah sakit. Sementara yang tua-tua, mengikuti keduanya dari belakang dengan Joni mendorong kursi roda, karena Ayla tidak mau menaikinya.
" Aku harus bisa. Aku tidak boleh lemah " batin Ayla.
Ayla mulai merasa aneh pada kepalanya. Penglihatannya mulai samar-samar melihat orang-orang yang begitu banyak berlalu-lalang.
Ayla semakin mempererat genggamannya pada Dista, agar ia tidak terjatuh. Dista yang menyadari itu menoleh pada Ayla.
" Ay, kamu nggak apa-apa ?" tanya Dista saat menyadari raut wajah Ayla tampak berubah.
" Aku nggak apa-apa " jawab Ayla dengan menggeleng.
Langkah Ayla mulai pelan. Dista berpindah memegang punggung Ayla. Ia merasa aneh dengan tingkah Ayla.
Namun saat mereka baru melewati 5 ruangan , tiba-tiba Ayla ingin terjatuh. Dista dengan kuat menahan tubuh Ayla agar tidak terjatuh.
" Ya ampun, Ayla " pekik Dista.
__ADS_1
Mereka yang melihat itu segera berlari dan menghampirinya.
" Ayla, kenapa nak ?" tanya nenek Moya khawatir.
" Kepalaku pusing, nek " jawab Ayla dengan mata sayu.
" Bawa kursi roda itu kemari dan naikkan Ayla di situ " perintah dokter Winston pada Joni.
Joni mendorong kursi rodanya mendekat dan mengangkat Ayla naik ke kursi roda. Dokter Winston berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Ayla.
" Nona, apa yang kamu rasakan ?" tanya dokter Winston.
" Penglihatanku samar-samar saat melihat banyak orang yang berlalu-lalang " jawab Ayla pelan.
Dokter Winston yang mendengar jawaban Ayla akhirnya mengerti alasannya. Ia menoleh ke arah mom Awah dan menjelaskannya.
" Nona Ayla mengalami hal ini, karena dia tidak pernah melihat orang banyak selama kejadian itu dan karena terlalu lama tidak pernah bergerak membuatnya merasa pusing " jelas dokter Winston.
" Seharusnya nona Ayla memang menggunakan kursi roda terlebih dahulu, agar tubuhnya tidak shok saat bergerak. Apalagi bayang-bayang traumanya belum hilang. Sehingga masih ada rasa takut untuk bertemu orang baru " lanjut dokter Winston lagi .
Mereka yang mendengar penjelasan dokter Winston hanya diam dan menghela nafas. Mereka tahu Ayla belum sepenuhnya sembuh .
" Kamu duduk di kursi roda saya yah, Ayla " mom Awah memberitahu pada Ayla.
" Iya, mom " sahut Ayla.
" Halo, nona Ayla. Apa anda masih mengingat saya ?" tanya pak Jang. Ia mencoba untuk berinteraksi dengan Ayla.
" Aku mengingatnya, pak Jang " jawab Ayla dengan tersenyum.
" Saya yang akan mengantar nona pulang " ucap pak Jang.
" Terimakasih, pak Jang " ucap Ayla.
Pak Jang mengangguk. Nenek Moya memegang tangan Ayla dan membawanya masuk ke dalam mobil. Nenek Moya dan Ayla duduk berdampingan di kursi tengah, sedangkan Dista dan mom Awah duduk di kursi depan.
" Loh.. dokter Winston juga ikut ?" tanya Dista. Ia baru menyadari ada dokter Winston yang tengah duduk di kursi depan dan berdampingan dengan pak Jang.
" Tentu saja saya ikut nona. Nona Ayla adalah pasien saya dan saya harus memastikan dia baik-baik saja sampai di rumahnya " jawab dokter Winston seraya menoleh ke belakang.
Dista manggut-manggut dan beri Ohh saja, tanda Ia mengerti.
Dokter Winston harus mengikuti Ayla, karena takut dia histeris kembali selama perjalan. Ia harus memastikan semuanya aman-aman saja dan ia juga ingin melihat bagaimana perkembangan reaksi Ayla bertemu orang baru.
Mobil mulai berjalan meninggalkan area rumah sakit. Selama perjalanan tidak ada terdengar suara sama sekali. Mereka diam dengan isi pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Ayla menatap keluar jendela, manatap orang-orang yang berlalu lalang menggunakan motor dan ada juga beberapa penjual kaki lima di pinggir jalan.
Mobil berhenti di tengah jalan, karena lampu merah. Ayla masih menatap keluar dan memperhatikan gedung-gedung yang tinggi. Ayla yang begitu fokus tidak menyadari ada seseorang pria remaja mengamen dengan cara bernyanyi. Pengamen itu bernyanyi tepat di depan kaca Ayla.
Ayla memundurkan tubuhnya kebelakang saat menyadari ada seseorang di balik kaca mobil.
" Ahh......" Ayla berteriak kaget. Membuat mereka yang ada di dalam mobil menoleh bersamaan ke arah Ayla.
" Ayla, ada apa nak ?"
" Ayla, kamu kenapa ?"
" Ayla ."
Berbagai pertanyaan di lontarkan pada Ayla.
" Aku mohon jangan mendekat. Aku mohon " Ayla berteriak. Ayla menaruh kedua tangannya di depan dengan menggoyang-goyangkan untuk memintanya jangan mendekat.
Dokter Winston melihat Ayla menggoyangkan tangannya ke arah jendela, membuat ia tahu apa penyebabnya.
Dokter Winston terburu-buru mengeluarkan uang receh dari dalam dompetnya dan memberikannya pada pengamen itu.
" Terimakasih, pak " ucap pengamen itu, lalu meninggalkannya.
Dokter Winston berbalik dan berusaha menenangkan Ayla.
" Nona Ayla, tenanglah. Dia sudah pergi " dokter Winston memegang kaki Ayla yang dia naikkan ke kursi mobil. Dengan cara itu ia berusah menyadarkan Ayla dari bayang-bayang nya.
" Nona, heii..dengarkan saya " dokter Winston berkata dengan sedikit keras, agar Ayla mendengarnya. Ia juga menepuk-nepuk kakinya.
" Hah... " Ayla tersadar dan melihat dokter Winston di depannya. Ia juga menoleh ke arah jendela dan sudah tidak melihat siapapun di sana, karena mobil juga sudah berjalan.
Ayla menghela nafas kasar dan menepuk kapalnya dengan kasar.
" Nak, hentikan. Kepalamu nanti sakit !" nenek Moya menarik tangan Ayla untuk berhenti memukul kepalanya.
" Nona.. hey..apa kamu bisa mendengar kami ? " Dokter Winston masih berusaha menyadarkan Ayla. Ia tahu Ayla masih terjebak dengan bayang-bayang nya.
" Arhhkkk....kepalaku sakit. Dokter kamu di mana? aku tidak bisa melihatmu " Ayla berteriak mencari dokter Winston.
Dia mendengar suara dokter Winston yang memanggilnya, tapi dia tidak bisa melihatnya. Ayla terjebak dengan bayang-bayangnya.
" Nona, buka matamu. Saya ada di sini " dokter Winston memanggil Ayla agar membuka matanya. Ayla tidak dapat melihatnya, karena dia menutup matanya dengan sangat rapat.
.
__ADS_1
.
NEXT..