
" Loh, kenapa kau memberikannya padaku ? " tanya Dista.
" Nggak pa-pa makan saja. Aku kasihan melihatmu hanya makan sosis sama sayur saja "
" Terimakasih " ucap Dista senang.
Ia langsung memotong beefnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Roni tersenyum sangat kecil. Tidak ada yang tahu kalau dia tersenyum. Saking kecilnya.
Mereka menghabiskan makanannya. Bell akan berbunyi 28 menit lagi. Itu masih cukup lama.
" Mau ke mana kau setelah ini? " tanya Roni
" Mungkin ke kelas " Dista berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari kantin.
" Bagaimana kalau kau ikut sama gua ?" Roni mengikuti langkah Dista.
" Ikut ke mana ?"
" Kelapangan bulu tangkis "
" Waouu...itu terdengar menyenangkan " Dista senang mendengarnya.
" Bagaimana ? kau mau ikut ?" tanya Roni.
" Boleh "
Mereka berjalan bersama ke lapangan bulu tangkis. Banyak para siswa bermain di sana. Dilihat-lihat Dista hanya sendiri seorang perempuan, yang lainnya para lelaki semua.
" Wahh... banyak juga anak-anak di sini " mata Dista berbinar melihat lapangan bulu tangkis dan melihat keseruan mereka bermain.
" Tentu saja banyak. Permainan bulu tangkis di sini sangat terkenal di sekolah kita. Kita selalu mengikuti berbagai perlombaan dan sekolah kita selalu menang "
" Gua baru tahu. Boleh gua main ?" tanya Dista dengan mata berbinar nya.
" Boleh, tapi lu tahu cara mainnya ?"
" Sedikit " Dista membuat gerakan dengan menempelkan jari telunjuknya dan jempolnya.
" Hahah..gua akan mengajarimu nanti " Roni terkekeh dengan tingkah Dista.
Roni mengajak Dista ke tengah lapangan. Raketnya sudah habis, karena di pakai semua sama mereka.
" Gays..gua pinjam rakat kalain yah ? " Roni menghampiri salah satu temannya yang bernama Adnan untuk meminjam raketnya.
"Wiihh..siapa gadis di samping lo ?" tanya Adnan yang baru pertama kali melihat seorang gadi di lapangan ini. Ini juga pertama kalinya ia melihat Roni bersama wanita.
" Teman sekelas gua. Dia ingin bermain bulutangkis juga, jadi gua pinjam raket lu " Roni menengadahkan tangannya untuk meminta raket yang di pegang Adnan.
" Nih.." Adnan memberikan raketnya.
" Lu butuh satu lagi nggak ?" tanya Adnan lagi. Ia akan meminta raket lainnya pada temannya.
" Boleh " Jawab Roni. Ia memberikan raket yang ia pegang pada Dista dan menerima raket satunya lagi dari Adnan.
" Thanks bro " Roni mengangkat satu tangannya untuk mengucapkan terimakasih.
Roni mengajak Dista ke lapangan yang kosong dan akan bermain di sana.
" Coba kau pukul !" pinta Roni.
__ADS_1
Dista mencoba memukulnya. Bulunya berhasil melewati Net, tapi sangat dekat dari Net.
" Pukul lebih keras , Dis " ucap Roni di sebrang Net.
" Tadi itu udah keras, Roni. Net nya yang tinggi banget "
" Mana ada. Pukulanmu yang kurang kencang"
" Bagaimana pukulan kencang ?" tanya Dista.
Roni berjalan melewati Net di mana Dista berdiri. Ia meminta Dista untuk memperlihatkan padanya bagaimana Dista memegang raket.
" Bagaimana caramu memegang raket ?" tanya Roni.
" Begini " Dista menunjukkan bagaimana ia memegang raket.
" Itu sudah benar. Sekarang bagaimana caramu memukul bulunya ?" tanya Roni seraya memberikan bulu yang ia pegang.
Dista mengambil bulu itu dan mencoba memukulnya lagi.
Tukk...
Bulunya sudah melayang di udara dan tetap sama seperti tadi.
" Pukulanmu yang salah " Roni mengambil bulu yang ada di sebrang Net.
" Lihat bagaimana caraku memukul bulunya " Roni menunjukkannya pada Dista.
Ia memegang raket dengan punggung tangannya berada di depan dengan posisi raketnya miring ke kiri.
Tukk...
Bulu itu terbang tinggi di udara dan melewati Net. Bulunya jatuh tepat di tengah-tengah daerah lawan.
" Yah.." Dista mengambil bulunya lagi dan mencoba memukulnya. Pukulannya kali ini berhasil.
" Yeiii..aku berhasil" teriak Dista gembira.
" Bagus, Dista. Ayo kita main !" ajak Roni.
"Ayok " jawab Dista penuh semangat.
Mereka mulai bermain bersama. Sesekali sorakan terdengar keluar dari mulut Dista. Ia bahagia karena bisa mendapat poin. Roni yang tidak dapat memukul bulunya sehingga jatuh ke tanah.
Para siswa yang mendengar keseruan di lapangan tengah, melihat ke arah Dista dan Roni. Mereka sangat langka melihat Roni kalah. Biasanya dia selalu menang di setiap permainan, sehingga dia menjadi ketua di klub bulu tangkis.
Tringggg..
Suara bell masuk berbunyi. Tandanya para murid harus kembali ke kelas mereka masing-masing. Para siswa yang berbeda di lapangan bulutangkis menghentikan permainannya dan kembali ke kelas mereka.
Dista yang mendengar bell masuk berbunyi, merasa sedih karena ia masih ingin bermain.
" Yahh... udah masuk. Padahal aku masih mau main " ucap Dista lesuh.
" Lain kalian kita main lagi " ucap Roni.
" Aku tidak tahu kalau besok. Kalau mood ku bagus, aku akan main, kalau tidak yah..tidak" jawab Dista.
Dia menyimpan raketnya di lemari dan berjalan menuju kelas. Roni yang melihat wajah Dista yang tidak semangat, mulai berfikir untuk mengajak Dista bermain bulutangkis dengan sore nanti.
__ADS_1
" Bagaimana kalau kau ikut sama gua sore nanti ? kita bermain bulutangkis di kota H sport. Bagaimana, kau mau ?" tanya Roni.
" Nanti sore ?" tanya Dista memastikan.
" Iya. Kau mau nggak ?"
" Aku gak tahu. Aku harus minta izin dulu sama orang tuaku "
" Yasudah, beritahu gua kalau kau ingin ikut "
" Caranya ?" tanya Dista bingung.
" Kan ada Hp, Dista. Kamu bisa mengabari gua dengan itu. Ini nomor gua " Roni heran dengan pertanyaan Dista. Ia juga menunjukkan nomornya pada Dista.
" Oke..."
Mereka masuk ke dalam kelas dan untungnya belum ada guru yang masuk. Bisa gawat kalau mereka terlambat. Apalagi ada sang ketua kelas bersamanya dan dia adalah penanggung jawab kelas.
Rumah
Saat ini Dista sudah pulang dari sekolah dan sudah berada di rumah. Ia tengah duduk bersama sang mommy di halaman depan. Tengah bersantai menghirup udara segar sambil menunggu sang daddy pulang dari kantor.
" Mom, boleh nggak Dista keluar sore ini ?" Dista meminta izin.
" Mau kemana ?" tanya mom Awah. Tidak biasanya putrinya keluar di sore hari seperti ini. Biasanya ia hanya di kamar menonton TV.
" Hmm...ke kota H sport " jawab Dista.
" Kamu ingin bermain olahraga ?"
" Yes, mom. Boleh nggak ?"
" Sama siapa? Ayla nggak mungkin, karena dia belum pulih " mom Awah berkata seperti itu, karena putrinya hanya punya teman satu saja.
" Emm...sama..teman sekelasku " jawab Dista ragu.
" Teman sekelasmu ? cewek, cowok ?" tanya mom Awah penuh selidik.
" Hehe..cowok mom. Dia ketua kelasku " jawab Dista cengengesan. Ia takut mommy-nya akan melarangnya dan marah padanya.
" Apa dia dapat di percaya ?"
" Dista yakin, mom. Dia tidak akan macam-macam. Dia selalu bertanggung jawab, karena dia seorang ketua kelas " Dista berusaha meyakinkan sang mommy.
" Baiklah, Mommy mengizinkan, tapi ada syaratnya. Pak Jang harus ikut " mom Awah mengajukan syarat.
" Baiklah, tapi jaga jarak yah ?" Dista berusaha negosiasi.
" Mommy kan tahu, Dista menyembunyikan identitas Dista di sekolah " ucap Dista.
" Boleh. Yang penting ada pak Jang"
" Makasih, mom " Dista sangat senang dan memeluk mommy-nya.
Dia berlari masuk ke dalam manssion dan memberitahu pada Roni jika dia ingin ikut. Dista bersiap-siapa untuk pergi, karena dia sudah membuat jam temu dengan Roni.
.
.
__ADS_1
NEXT..
Ceritanya santai-santai dulu, yah. Biar gak tegang terus, heheh...