
Hari-hari berlalu, tak terasa kebersamaan ayla dan Dista semakin dekat. Mereka selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi.Seperti, ke kantin atau ke perpustakaan.
Hari ini waktunya kelas mereka untuk olahraga. Mereka akan mempelajari permainan basket. Pak guru mulai menjelaskan tata cara bermain basket. Para murid kelas sepuluh satu mendengarkan penjelasan guru mereka dengan seksama.
"Apa kalian mengerti, semuanya?" tanya pak guru pada mereka.
"Mengerti pak" jawab mereka serentak.
"Baiklah, bapak akan membagi tim khusus untuk anak laki-laki dan perempuan. untuk kalian anak perempuan, kalian akan dibagi menjadi dua tim untuk bermain terlebih dahulu begitupun dengan anak laki-laki" jelas pak guru.
"Untuk tim perempuan pertama, ada, Sofia Dista, Ayla, satu, dan dua" pak guru menyebut sampai dua orang berikutnya.
"Untuk tim kedua. AdaTasya, Syifa, tiga, dan empat" pak guru menyebut sampai tiga orang berikutnya.
Note: kata satu, dua, tiga, dan empat, sebagai nama teman tim masing-masing.
"Apakah kalian sudah mengingat semua nama tim kalian?" tanya pak guru.
"Maaf pak" Sofia mengangkat tangannya.
"Ada apa Sofia?"
"Saya nggak mau satu tim dengan Dista dan Ayla, pak" Sofia komplain.
"Memang kenapa dengan mereka?" tanya pak guru.
"Ya.., saya nggak selevel dengan mereka" Jawa Sofia sombong.
Huuuuu....
Para murid bersorak
"Keputusan bapak sudah bulat, tidak ada boleh yang mengganggu gugat" pak guru tetap mempertahankan tim sebelumnya.
"Ayo kedua tim, kita bermain!" pak guru mengajak kedua tim itu untuk bermain.
"Pak, kita belum membagi siapa kapten dari tim masing-masing" ucap salah satu siswa.
"Oh ya, bapak lupa. Untuk tim pertama ketuanya adalah Dista dan tim kedua adalah Tasya"
Sofia terlihat tidak setuju dan dia ingin mengajukan komplain, tapi pak guru lebih dulu memperingati.
" Tidak ada yang boleh komplain".
"Ckk...menyebalkan sekali" Sofia menghentakkan kakinya kesal.
"Sofia, kemari!" Tasya memanggilnya. Sofia berlari dan mendekat.
"Kenapa?" tanya Sofia.
"Gue punya rencana" ucap Tasya.
"Apa itu?" tanya Sofia dan Syifa bersama.
Tasya mulai membisikkan rencananya kepada kedua sahabatnya, mereka tersenyum licik setelah mendengar rencana Tasya.
"Kau mengerti?" tanya Tasya pada Sofia.
"Gue mengerti" Sofia mengangkat jempolnya.
Mereka kembali kepada tim mereka masing-masing dan mulai membentuk formasi. Tim Dista yang memegang bola pertama. Dista mulai memukul bolanya ke tanah dan mulai berlari membawa bola basket itu.
Tim lawan mulai merebut bola bolanya dari Dista. Dista mengoper bolanya pada Ayla dan Ayla berhasil mendapatkannya. Ayla mulai membawa bola itu ke ring, para tim lawan mulai mengejar Ayla kembali.
__ADS_1
Ayla mempermainkan bola itu dengan melemparnya kepada satu dan begitupun sebaliknya. Ayla mulai dekat dengan ring. Ayla melemparkan bola itu dan tepat sasaran, bila itu berhasil masuk ke dalam ring.
Yeiiii....
Tim pertama bersorak, karena Ayla berhasil memasukkan bolanya ke ring.
"Kau hebat, Ayla" Dista merangkul pundak Ayla. Ayla hanya tersenyum menanggapinya.
Sedangkan tim lawan merasa kecewa, karena lawan mereka sudah memiliki poin. Tasya merasa geram, dia mengkode Sofia untuk melakukan rencana mereka. Sofia yang mengerti kode tersebut mengedipkan matanya.
mereka mulai bermain kembali, kali ini Sofia yang memegang bola pertama. Sofia mulai memainkan bola itu dan menuju ke ring lawan. Sofia mulai dikepung oleh tim lawan. Dua meminta Sofia untuk mengoper bolanya kepadanya.
" Sofia" dua memberi kode pada Sofia.
Sofia melihat itu, mengoper bolanya ke arah dua, tapi lemparan Sofia terlalu kencang sehingga melewati dua dan mengenai kepala Dista.
Dista yang tidak siap, tidak dapat menghindari bola yang menuju ke arahnya. Alhasil bola itu mengenai kepalanya. Dista sampai terjungkal ke belakang akibat lemparan bola yang sangat kencang.
Mereka yang ada di lapangan berteriak kaget. Para murid kelas sepuluh satu mengelilingi Dista. Ayla langsung berlari ke arah Dista untuk melihat keadaannya.
"Dista, apa kau mendengarku?" panggil Ayla. Ayla mengangkat kepala Dista ke atas pangkuannya.
"Kepalaku sangat pusing" ucap Dista lirih, setelah mengatakan itu Dista pingsan. Mereka semua sangat kaget termasuk Ayla.
"Pak, Dista pingsan" ucap Ayla panik.
Pak guru segera mengangkat Dista dan membawanya ke UKS. Ayla mengekor di belakang pak guru.
Sementara di lapangan Tasya, Sofia dan Syifa bertos.
"Berhasil" ucap mereka bersama.
Ternyata Sofia sengaja melempar bola dengan kencang ke arah Dista.
"Gue gitu loh" ucap Sofia bangga.
"Itulah akibatnya jika mereka bermain-main dengan kita" ucap Tasya.
"Benar sekali" ucap Sofia dan Syifa bersamaan.
"Ayo ke kelas" ajak Tasya.
"Let's go"
Mereka berjalan dengan sangat gembira dan puas.
Sementara di UKS, anggota PMI yang menjaga di sana memeriksa keadaan Dista.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit, pak. Kita takut terjadi sesuatu pada kepalanya. Apalagi mendengarkan dari cerita bapak, bolanya sangat keras mengenai kepalanya" jelas salah satu anggota PMI.
"ya sudah, ayo kita bawa ke rumah sakit" pak guru setuju.
"Pak, saya ikut yah. Dista sahabat saya, pak" pinta Ayla.
"Baiklah, kamu boleh ikut"
Mereka akhirnya membawa Dista ke rumah sakit.
Rumah sakit
Dista sudah berada di tangan dokter. Pak guru dan Ayla menunggu hasilnya di kursi tunggu.
Dokter tampak keluar dari ruang penanganan Dista.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anak murid saya, dok" tanya pak guru.
"Murid bapak baik-baik saja. Tidak ada masalah di kepalanya. Murid anda pingsan hanya, karena benturan kerasa, sehingga membuat guncangan pada kepalanya" dokter menjelaskan.
"Syukurlah" pak guru merasa lega, begitupun dengan Ayla.
"Boleh kami melihatnya, dok?" tanya pak guru.
"Boleh pak, silakan. Saya juga pamit undur diri" balas dokter.
Pak guru dan Ayla masuk ke dalam ruang perawatan Dista. Pak guru hanya duduk di sana menunggu Dista siuman.
" Ayla " Panggil pak guru.
"Iya pak" jawab Ayla.
"Kita belum memberitahu orang tua Dista. Apakah kamu tahu nomor orang tuanya dista?" ucap pak guru.
"Tidak pak, Ayla nggak tahu"
"Bagaimana caranya kita menghubungi orang tuanya?" pak guru kebingungan.
Di saat mereka kebingungan, Dista mulai membuka matanya.
Shhht....
Dista mendesis, akibat kepalanya yang terasa sakit dan memijat pelipisnya.
"Dista" Panggil Ayla.
"Ayla, aku di mana?" jawab Dista pelan.
"kamu di rumah sakit"
"Dista, bapak belum memberitahu kedua orang tuamu jika kau berada di sini. Bapak tidak tahu nomor telepon mereka" ucap pak guru.
"Aku akan menyebut nomornya, bapak yang ketik, ya" Dista menyebutkan nomor telepon sang mommy.
" Halo, apakah benar ini orang tuanya Dista?" tanya pak guru di sambungan telepon.
pak guru mulai memberitahu orang tua Dista jika anaknya berada di rumah sakit saat ini.
"Baik nyonya, terima kasih" sambungan itu terputus.
"Mereka sudah menuju ke sini" ucap pak guru.
"Terima kasih, pak sudah membawaku ke rumah sakit" Dista berterimakasih.
"Itu tugas bapak sebagai seorang guru" balas pak guru tersenyum.
.
.
.
.
.
Next...
jangan lupa like, comment and vote, ya teman-teman
__ADS_1