Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 34. Rumah


__ADS_3

" Arhhkkk....kepalaku sakit. Dokter kamu di mana? aku tidak bisa melihatmu " Ayla berteriak mencari dokter Winston.


Dia mendengar suara dokter Winston yang memanggilnya, tapi dia tidak bisa melihatnya. Ayla terjebak dengan bayang-bayangnya.


" Nona, buka matamu. Saya ada di sini " dokter Winston memanggil Ayla agar membuka matanya. Ayla tidak dapat melihatnya, karena dia menutup matanya dengan sangat rapat.


Dokter Winston dengan lincah berpindah ke kursi belakang, padahal mobil masih berjalan. Ia menarik wajah Ayla untuk menatap ke arahnya. Tangan Ayla berusaha mendorongnya, tapi dokter Winston menahannya.


Dokter Winston membuat kelopak mata Ayla dengan paksa menggunakan jari telunjuk dan jempolnya. Mata Ayla mulai terbuka sedikit, ini kesempatan dokter Winston untuk berbicara dengannya.


" Nona, buka matamu. Lawan banyang-bayang itu " ucap dokter Winston.


Ayla yang mendengar suara itu dan melihat dokter Winston dari matanya yang dibuka paksa. Mata Ayla akhirnya terbuka. Ia melihat wajah dokter Winston sangat dekat dengan dirinya.


Ayla menoleh ke samping, di mana sang nenek juga menatapnya dengan khawatir dan melihat kaca depan, ada Dista dan mom Awah yang menatapnya penuh khawatir juga.


" Apa yang terjadi ?" Ayla kebingungan dengan situasi saat ini.


" Kamu membuat kami khawatir, nak " nenek Moya memeluk sang cucu.


Dokter Winston kembali ke tempat duduknya dan memberikan keluarganya waktu.


" Jangan lakukan seperti itu lagi, Ayla " ucap Dista.


" Sebenarnya apa yang terjadi? aku bingung " Ayla masih kebingungan dengan situasi ini.


" Kamu tidak mengingatnya sama sekali ?" tanya mom Awah.


" Nggak, mom " Ayla menggeleng.


Mom Awah menatap ke depan, lebih tepatnya ke arah dokter Winston. Dokter Winston yang mengerti akan tatapan mom Awah, angkat bicara.


" Nanti kita akan membahasnya saat sampai di rumah. Agak sulit menjelaskan dalam keadaan seperti ini. Apalagi kita berada di dalam mobil dan masih berjalan " ucap dokter Winston.


Ia tidak mungkin menjelaskan dalam situasi mobil berjalan. Mereka saling membelakangi dan itu akan sulit. Ia harus menoleh ke belakang dan menjelaskannya. itu akan membuat kapalanya pusing.


****


Setelah beberapa menit perjalan, mereka akhirnya sampai di rumah nenek Moya. Mereka turun dari mobil, tapi sebelum itu pak Jang mengambil kursi roda di dalam bagasi dan membawanya ke hadapan Ayla.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah yang sudah tampak kumuh. Dista yang pertama kali melihat rumah sahabtnya merasa miris melihat tempat tinggalnya. Masih terbilang kurang layak untuk di tempati.

__ADS_1


Dinding kayu yang sudah banyak di makan rayap dan juga mulai berlubang. Dista menunduk dan melihat lantai teras yang terbuat dari semen, tapi sudah banyak yang pecah. Sehingga pasir-pasit sudah nampak terlihat.


Dista tidak menyangka sahabatnya tinggal di rumah seperti ini. Rumah milik para pelayan di rumahnya masih terbilang sangat bagus dari rumah ini.


Nenek Moya mengambil kunci di dalam tasnya dan membuka pintu.


" Ayok masuk " ajak nenek Moya pada mereka.


Pak Jang mendorong kursi roda Ayla ke dalam rumah di ikuti dokter Winston, mom Awah dan Dista di belakang.


" Kalian duduklah terlebih dahulu. Saya akan ambil kursi di belakang, karena kursinya tidak cukup " nenek Moya berjalan ke belakang, tapi langkahnya terhenti karena mendengar tawaran pak Jang.


" Biar saya saja nyonya yang mengambilnya. Anda tunjukkan saja pada saya di mana letak kursinya" tawar pak Jang.


" Pak Jang benar, Bu. Ibu duduk saja di sini. Biar pak Jang yang mengambilnya " usul mom Awah.


" Yasudah. Kamu ambil kursinya di sebelah ruangan ini. Ambil semua saja kursinya yang ada di situ " nenek Moya menunjuk dinding di sebelah ruang yang mereka tampati saat ini.


Pak Jang mencari kursi itu sesuai petunjuk nenek Moya. Tak berselang lama, pak Jang tampak membawa tiga kursi di tangannya. Dua di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri.


Itu hanya kursi plastik, kasi sangat ringan untuk di bawanya. Dokter Winston duduk di kursi itu bersama mom Awah. Dan kursi satunya untuk pak Jang, tapi dia keluar mengambil barang Ayla di mobil.


" Nona Ayla " panggil dokter Winston seraya mendekatkan kursinya.


" Apa yang kamu rasakan di mobil tadi ?" tanya dokter Winston.


" Sebenarnya aku tidak mengingat apa yang terjadi di mobil. Aku hanya mengingat saat ada pria remaja yang muncul secara tiba-tiba di depanku, setelah itu aku tidak mengingatnya " jawab Ayla.


Dokter Winston menghela nafas dan tersenyum ke arah Ayla.


" Apa kamu tahu, kami kembali histeris tadi. Setelah kamu melihat pengamen itu "


" Benarkah ? tapi yang aku ingat, dokter memanggil'ku dan aku mendengarnya. Aku memukul kepalaku karena merasa pusing "


" Tapi, apa yang kamu rasakan ?"


" Setelah aku memukul kepalaku dan aku menutup mata, karena berusaha mengurangi sakitnya. Setelah itu, yang aku lihat hanya gelap, tapi suara-suara preman itu seperti ada di sekelilingku dan aku juga mendengar suara dokter, makanya aku mencarinya, tapi aku tidak menemukannya "


" Kepalaku sangat pusing, seperti berputar-putar dengan cepat " lanjut Ayla lagi.


Dokter Winston yang mendengar cerita Ayla, mengerti tentang apa yang di rasakan Ayla saat ini.

__ADS_1


" Pikiranmu masih terkunci pada ke jadian itu. Setiap kamu melihat orang baru, kamu akan kaget dan ingatanmu akan berputar kembali pada kejadian itu. Bayang-bayang mereka masih terkunci dalam pikiran mu. Cobalah untuk tidak mengingat mereka dan jangan menutup matamu. Itu juga salah satu yang membuat bayangan akan menguasaimu " dokter Winston memberikan penjelasan pada Ayla.


Ayla mendengarkan dengan baik. Memang benar setiap ia menutup matany, banyangan itu akan menghampirinya.


" Ayla akan berusaha melawannya " ucap Ayla.


" Itu bagus. Ingatkan dirimu untuk sembuh dan lepas dari banyang-bayang itu. Jika kamu selalu berusaha, kamu pasti bisa melepasnya dan berdamai dengan mereka " dokter Winston tersenyum ke arah Ayla dan mengikat satu tangganya untuk memberi semangat.


Ayla ikut tersenyum dan mengangguk. Mereka yang menyaksikannya ikut tersenyum dengan usaha Ayla.


" Sebaiknya kamu istirahat. Kamu pasti sangat lelah. Keadaanmu belum sepenuhnya baik. Apalagi kepalamu masih sering pusing" usul dokter Winston.


" Baik, dok " Ayla setuju-setuju saja.


" Aku akan yang akan menemani Ayla di kamar. Boleh yah, nek ?" izin Dista pada nenek Moya.


" Boleh nak. pergilah " nenek Moya mengizinkan.


Dista senang dan ingin meraih kursi roda sahabatnya.


" Boleh aku berjalan saja? kamarku dekat kok dari sini " tanya Ayla pada dokter Winston.


" Apa kepalamu tidak pusing ?" tanya dokter Winston.


" Tidak " Ayla menggeleng.


" Boleh, tapi hati-hati. jangan di paksakan " ucap dokter Winston.


Ayla tersenyum dan mengangguk. Dista merangkul sahabtnya dan menuntunnya ke kamar.


***


Kedua sahabat itu sudah sampai di kamar milik Ayla. Mereka tengah duduk di kasur.


" Maaf yah, kamarku berantakan " Ayla merasa tidak enak, karena kamarnya berantakan.


Buku berserakan di atas kasur. Itu memang kebiasaannya saat mau berangkat sekolah. Ia mengacak-acak bukunya untuk mencari buku yang akan dia bawa pagi itu. Dan akan membereskannya setelah pulang sekolah.


.


.

__ADS_1


NEXT....


__ADS_2