
"Apa ini? Semua ini tidak boleh terjadi!" teriak Aldalin.
Aldalin melempar ponselnya, saat melihat foto sepasang suami-istri yang sangat dibenci selama ini.
Aldalin berjalan menuju kamar Jasmine, ia ingin melakukan hal seperti biasanya ketika sedang kesal.
Ceklek!
Jasmine terkejut, saat melihat pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka. Ternyata sang ayah yang membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Ada apa, Ayah?" tanya Jasmine sambil menatap wajah sang ayah yang terlihat begitu marah kepadanya.
Aldalin tidak mengatakan apapun, ia langsung menarik tangan Jasmine ke luar dengan sangat cepat, membuat gadis itu kesulitan mengikuti langkahnya.
"Ayah, lepaskan Jasmine!" teriak Jasmine.
Seisi rumah langsung berhamburan untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Aldalin tidak menjawab ucapan Jasmine, ia terus membawa gadis itu ke halaman belakang yang terdapat kolam renang di sana.
Aldalin mendorong tubuh Jasmine masuk ke kolam renang, sehingga gadis itu berteriak keras sebab dirinya tidak bisa berenang.
"Ayah!" teriak Jasmine.
Jasmine mencoba untuk menyelamatkan dirinya tatapi, tidak berhasil.
"Ayah, tolong!" teriak Jasmine lagi.
Aldalin sama sekali menghiraukan teriakan dari Jasmine.
'Aku, tidak bisa diam saja! Aku harus menyelamatkan kak Jasmine, karena dia sama sekali tidak bisa berenang,' batin Samudra.
Samudra berlari dengan sekuat tenaganya melompat masuk ke dalam kolam renang. Aldalin sangat terkejut melihat putranya itu melompat masuk ke dalam kolam.
"Sam, untuk apa? Kamu menyelamatkannya!" teriak Aldalin.
Selama ini, jika Aldalin menghukum putrinya tidak ada satu orang pun yang berani menolong Jasmine, termaksud Samudra yang berbeda dengan kali ini putranya itu berani melawan.
"Biarkan saja! Jangan pedulikan dia!" teriak Aldalin lagi.
Samudra tidak mendengarkan ucapan sang ayah kali ini, karena ia sudah tidak sanggup melihat kakaknya selalu dihukum.
Samudra membawa tubuh Jasmine naik ke atas, lalu ia memberikan nafas buatan karena kakaknya itu pingsan akibat terlalu banyak menelan air.
"Maafkan Sam."
Setelah Samudra memberikan nafas buatan, Jasmine terbangun dan memuntahkan semua air yang di minumnya tadi.
Kemudian Jasmine melirik ke arah sang ayah yang terlihat sangat tidak peduli padanya.
__ADS_1
"Apa yang ibumu lakukan! Aku juga melakukannya padamu!" bentak Aldalin.
Jasmine langsung meneteskan air matanya, saat sang ayah berkata akan melakukan apa yang ibunya berbuat.
"Salahku apa, Ayah?" tanya Jasmine dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Samudra langsung menyelimuti seluruh tubuh Jasmine menggunakan handuk.
"Salahmu? Kehidupanmu itu adalah salahmu!" seru Aldalin.
Aldalin ingin pergi dari sana tapi, langkanya terhenti saat Samudra berteriak.
"Lalu! Sam ini apa? Bukankah kami satu ibu satu Ayah!" teriak Samudra untuk pertama kalinya kepada sang ayah.
Aldalin langsung membalikkan badannya, saat mendengar ucapan dari Samudra kemudian tersenyum simpul.
"Berani kamu melawan sekarang! Kamu anak ayah sedangkan dia, anak ibu ja-lang kalian itu!" Aldalin langsung berlalu pergi dari sana.
Jasmine menangis tersedu-sedu sambil memeluk dirinya sendiri. Kemudian datanglah para pelayan yang sejak tadi hanya melihat.
"Non, apakah? Non baik-baik saja?" tanya Bi Sinta sambil memegang tangan Jasmine.
Jasmine hanya diam tidak menjawab ucapan dari Bi Sinta.
"Maafkan kami, sebab tidak bisa membantu Non," tambah Bi Sinta.
"Sam bawa masuk ke dalam. Ya? pasti air malam sangat dingin?" tanya Samudra dengan sangat lembut.
Jasmine hanya diam dan merasa sangat sakit hati, terasa nyeri mengingat kembali kejadian tadi saat sang ayah menghukumnya.
'Kenapa? Aku yang selalu dihukum atas perbuatan ibu? Aku ingin ibu menjelaskan semuanya padaku kenapa ayah sangat membenci ku,' batin Jasmine.
"Den, bawa saja Non Jasmin masuk ke dalam," pinta Bi Sinta.
Samudra langsung mengendong tubuh Jasmine masuk ke dalam.
"Kasian sekali dia, kenapa? Kesalahan bu Tasya harus dilampiaskan kepada Jasmine," ucap Bi Sinta dengan lirih.
Dia tidak sanggup harus melihat setiap hari Tuannya menghukum Jasmine, walaupun gadis itu tidak membuat kesalahan apapun.
"Entahlah, sebaiknya kita doakan agar, tuan Aldalin bisa menyayangi Jasmine," sambung Pak Kumar yang baru saja sampai.
"Semoga saja, kasihan dari kecil Non Jasmine selalu diperlakukan tidak baik oleh ayahnya sendiri," sahut Bik Sinta.
Merekapun pun bergegas pergi dari sana untuk melanjutkan kembali pekerjaan masing-masing.
*
*
__ADS_1
Samudra membawa Jasmine ke dalam kamarnya, kemudian ia memberikan baju ganti untuk kakaknya itu.
Jasmine menerima baju dari Samudra, kemudian ia langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.
Setelah selesai ia langsung ke luar dan duduk di sofa. Samudra datang membawakan air hangat untuknya ia pun langsung menerima air itu.
"Kak Jasmine, Sam sudah tidak tahan lagi akan perlakuan ayah kepadamu," ucap Samudra.
"Sam, bukankah kamu di sini baik-baik saja? Lalu untuk apa? Mengkhawatirkan aku ini. Tidak usah cemas, aku sudah terbiasa seperti ini dari kecil," sahut Jasmine.
"Sam, tidak bisa melihat Kak Jasmine selalu saja dihukum oleh ayah, karena kesalahan ibu. Kita pergi dari sini dan jangan kembali lagi," usul Samudra.
Dia sangat menyayangi kakaknya itu, sehingga Samudra tidak mau jika Jasmine terus-menerus dihukum.
"Sam, jika kita pergi maka lima menit kemudian ayah sudah berhasil menangkap kita," jawab Jasmine.
Kemudian ia menatap ke arah Samudra yang ada di hadapannya.
"Sam, sudah tidak tahan lagi dan Sam akan mencari keberadaan ibu, agar Kak Jasmine terbebas dari ayah," ucap Samudra.
Dia sangat bersungguh-sungguh mencari keberadaan ibu mereka, agar kakaknya bisa bebas dari hukuman sang ayah.
Jasmine hanya diam saja karena dia tidak mau membuat adiknya itu khawatir lagi, sehingga dia menuruti keinginan Samudra.
*
*
Aldalin duduk di ruangan kerjanya sambil menghisap rokok, dan juga meminum Bir dengan jumlah banyak.
"Tasya, jika kau menyakitiku! Aku juga melakukan itu pada anakmu. Saat aku melihat wajahnya pasti aku teringat bajingan itu!"
Aldalin melemparkan gelas kosong ke lantai sehingga gelas tersebut pecah seribu, kemudian ia kembali meminum Bir langsung dari botolnya.
"Tasya, aku pasti membuat anakmu, merasakan apa yang aku rasakan saat bersamamu!" teriak Aldalin.
Dia melemparkan semua barang-barang yang ada di hadapannya, sehingga semuanya pecah dan berserakan.
*
*
Jasmine tidur di sofa kamar Samudra, karena dia ketiduran saat mendengarkan cerita dari sang adik.
"Sam berjanji, akan mencari keberadaan ibu agar kakak tidak lagi dihukum oleh ayah," janji Samudra pada Jasmine yang sudah terlelap.
Samudra perlahan membopong tubuh Jasmine menuju tempat tidurnya, kemudian meletakan tubuh gadis itu dengan sangat perlahan. Agar sang empunya tidak terbangun.
Bersambung.
__ADS_1