
Difa dan Azam ke luar dari dalam rumah, mata gadis itu langsung membulat sempurna saat melihat motor yang terparkir di depan rumahnya.
"Hei! Ada apa?" tanya Azam sambil bergegas naik ke tas motor.
Difa mendekati Azam dan menepuk ruang kosong di belakang pria itu.
"Kita akan duduk sedekat ini?" tanya Difa dengan sangat tidak percaya, kalau mereka akan duduk berboncengan dengan sangat dekat.
Azam menghela nafas dalam-dalam, dan mengusap kasar wajahnya. Kemudian menarik tangan Difa naik ke atas motor.
"Kau pikir aku ini Sam? Yang pandai membawa apa saja! Aku hanya bisa mengendari motor," ucap Azam kesal.
Difa hanya diam, dan Azam langsung mengemudikan motor dengan kecepatan sedang. Sambil memperhatikan wajah gadis itu dari spion mobil.
'Dasar gadis aneh, dia pikir aku pandai mengendarai apa saja seperti Sam,' batin Azam kesal.
Selama di perjalanan mereka berdua hanya diam dalam pikiran masing-masing. Sebab, merasa sama-sama kesal.
'Dasar duda gila, aku, 'kan hanya bertanya apakah kami akan berboncengan. Dia malah marah padaku, huuh ... dasar kutub,' batin Difa.
30 menit kemudian ...
Setelah sampai di rumah, Difa langsung turun bersamaan dengan Azam sehingga mereka berdua terjatuh bersama motor itu juga.
"Aaahhh!" jerit Difa.
__ADS_1
"Sial!" teriak Azam.
Pria itu langsung bangun dan membantu Difa bangun, kemudian menatap tajam gadis itu sambil membangunkan motor Sam.
"Kau ini kalau tidak membuat aku naik darah, apa tidak bisa?!" tanya Azam dengan kesal.
Difa tidak menjawab ucapan Azam, dia langsung masuk ke dalam dan meninggalkan pria itu sendiri di luar.
"Dasar Bocah!" geram Azam.
Difa masuk ke dalam dan melihat adanya Bu Jima, langsung menghampiri wanita paru paya itu.
"Pagi Bu." Difa mencium tangan Bu Jima dengan sangat lembut, kemudian duduk di samping wanita paru paya itu.
'Gadia ini sangat sopan, aku ingin dia menjadi menantu ku,' batin Bu Jima.
Difa tersenyum, sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Jasmine yang belum di lihatnya.
"Bu, Jasmine mana?" tanya Azam yang baru saja sampai dan duduk di samping sang ibu.
Bu Jima menatap sang anak dengan sangat lembut, kemudian memegang tangan Azam.
"Dia pacar kamu?" tanya Bu Jima balik.
Difa dan Azam langsung menatap satu sama lainnya, kemudian mereka menatap wajah Bu Jima yang sejak tadi terus tersenyum.
__ADS_1
"Tidak!" teriak keduanya dengan serempak.
Bu Jima semakin tersenyum dan berkata, "Kalian mungkin berjodoh."
"Tidak!" teriak Azam dan Difa lagi secara bersamaan.
Mereka langsung menutup mulut masing-masing, karena sudah dua kali berucap secara bersamaan.
"Ada apa?" tanya Jasmine yang baru saja sampai dan langsung duduk di samping Difa.
Gadis itu langsung memeluk sang sahabat dengan sangat lembut, kemudian mereka saling menangis menuangkan rasa rindu yang terpendam.
"Gua kangen banget sama elo," ucap Difa lirih.
"Gue juga," jawab Jasmine lirih.
Azam menghela nafas dalam-dalam, karena melihat dua wanita itu sangat dramatis. Sebab, kemarin mereka baru saja bertemu di rumah sakit.
'Dua gadis aneh itu,' batin Azam.
Pria itu bergegas pergi dari sana, karena malas melihat kelakuan gadis aneh. Walaupun meraka bersikap wajar-wajar saja. Namun, di mata Azam sangatlah aneh.
Bersambung.
Halo teman-teman, semoga author bisa update lagi. Ya, karena lagi masak-masak ni untuk menjelang bulan suci Ramadhan bagi yang menjalankan.
__ADS_1