
Saat sore hari tiba, Jasmine sudah bersiap-siap untuk mencari pekerjaan, karena ia ingin melanjutkan kembali hidupnya dengan awal yang baru.
Jasmine berjalan menyusuri jalanan yang sangat ramai orang sehingga mata melihat gadis tomboi, terlihat gadis tersebut sedang memarkirkan motornya dan mobil di sebuah mall.
"Difa, benar-benar seperti seorang preman pasar. Padahal dia itu wanita," ucap Jasmine sambil menatap sahabatnya dengan berdecak pinggang.
Difa melihat wanita yang di kenali, kemudian ia menghampiri Jasmine yang ada di sebrang jalan.
"Jasmine, mau kemana?" tanya Difa yang seperti abang-abang pasar. Jasmine tersenyum kemudian memegang tangan Difa.
"Sayang, jadilah seorang wanita seperti diriku ini," kekeh Jasmine.
Difa langsung menoyor kepala Jasmine, karena sudah berkata seperti itu padanya.
"Kita ini sama-sama wanita miskin, yang harus bekerja apa saja! Sudah dulu pekerjaan ku masih banyak!" Difa langsung berlari kembali ke tempat asalnya.
Jasmine melanjutkan kembali langkahnya menyusuri jalan, saat di tengah perjalanan ia merasa pusing tiba-tiba. Sehingga dia duduk di pinggir jalan.
"Ada apa dengan diriku ini? Mungkin saja karena aku tidak mau makan nasi?" tanya Jasmine pada dirinya sendiri.
Jasmine mengingat jika dirinya merasa tidak berselera makan, sejak kepergian sang ayah beberapa hari lalu.
Tiba-tiba saja hatinya terasa sangat nyeri saat mengingat tentang sang ayah. Seketika ia langsung ingat malam kelam itu.
Jasmine menangis di tepi jalan karena ia merasa bingung harus berbuat apa saat ini. Gadis itu pun menangis tersedu-sedu. Kemudian ada seseorang dari belakangnya yang memberikan sebuah sapu tangan.
Jasmine tidak mengambil sapu tangan tersebut ia mala menoleh, dan menatap wajah laki-laki tersebut kemudian ia langsung bangun.
"Maaf, aku tidak butuh bantuan dari mu!" Jasmine bergegas pergi dari sana dengan berlari agar bisa segera menjauh.
Laki-laki tersebut mengejar Jasmine kemudian menarik tangan gadis itu.
"Jasmine, aku minta maaf atas sikap ku selama ini padamu. Aku juga ingin memperbaiki hubungan kita," ucap Darwin sambil melepaskan tangannya.
"Sebaiknya lupakan saja! Karena aku sudah menikahi laki-laki dewasa, dan aku menjadi simpanan. Karena hidup miskin membuat ku gila!"
"Jasmine!" teriak Darwin yang menatap kepergian Jasmine.
__ADS_1
Jasmine tidak ada pilihan lain, akhirnya ia kembali ke mansion dan duduk di depan pos ronda.
"Sangat sulit untukku mencari pekerjaan, karena aku tidak memiliki lulusan apapun. Sebaiknya aku memberanikan diriku untuk meminta pekerjaan pada ayah saja," ucap Jasmine lirih.
Seketika Jasmine menangis lagi, entah mengapa saat dirinya mengingat sang ayah ia akan langsung menangis tersedu-sedu.
'Lupakan! Jasmine, karena jika ibu tidak datang maka kau akan selalu seperti ini untuk selamanya, aku sudah menerima semuanya untuk menebus kesalahan ibu pada ayah,' batin Jasmine.
Jasmine dengan cepat menghapus air matanya yang mengalir deras, ia langsung bangun berjalan masuk ke dalam dan melirik ke arah atas kamar sang ayah. Dengan memberanikan dirinya naik ke atas lalu masuk ke dalam kamar ayahnya.
Entah apa yang membuatnya sangat berani untuk masuk ke dalam kamar sang ayah, tidak seperti biasanya yang sama sekali tidak memiliki keberanian.
Jasmine mengambil foto sang ayah yang ada di meja, kemudian ia membawanya masuk ke dalam kamarnya. Setelah sampai di dalam kamar dan menidurkan tubuhnya sambil memeluk foto ayahnya.
"Hiks, ayah jika saja nyawa Jasmin bisa ditukar dengan kasih sayang dari ayah. Maka sudah lama aku akan menukarnya," ucap Jasmine sambil mengisi kepergian sang ayah.
Entah mengapa ia menjadi seperti ini yang terus-menerus merindukan sang ayah, walaupun ayahnya pergi untuk beberapa minggu saja.
*
*
"Mungkin saja, aku rindu untuk menyiksanya," ucap Aldalin.
Aldalin menghisap rokok dan juga meminum Bir, itu semuanya sudah menjadi kebiasaan baginya setelah kepergian Tasya.
*
*
Tasya menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang suami, karena ia mendapatkan kabar buruk jika suaminya mengetahui anak mereka dalam maslah besar saat ini.
"Mas, ini semua salahku karena aku yang meninggalkan mereka pada mas Al, karena aku mengira dia tidak akan berubah. Ternyata aku salah dia tega meniduri anak yang sudah di besarkan seperti anaknya sendiri," ucap Tasya dalam isak tangisannya.
"Sudah, sebaiknya kita cari di mana tinggalnya Aldalin dan mencari tahu tentang anak kita," sahut Gilang.
Gilang tak kalah cemas dari sang istri karena anak satu-satunya ada bersama dengan pria jahat.
__ADS_1
"Maafkan ibu sayang, karena ulah ibu kamu yang menanggung semuanya," ucap Tasya dengan isak tangisnya.
"Jangan menyalah dirimu, karena semua yang terjadi ini mungkin semuanya adalah takdir," sambung Gilang yang mendoakan agar anaknya baik-baik saja bersama Aldalin.
*
*
Dua Minggu kemudian ...
Jasmine sama sekali belum bekerja karena ia masih ingin menunggu kepulangan sang, dan ingin meminta pekerjaan pada ayahnya.
Pada pagi ini, Jasmine sedang berjalan dengan masih menuangkan piyaman, semua orang menatap dirinya saja. Ia tidak peduli akan tatapan orang-orang dan langsung masuk ke dalam warung yang menjual soto ayam.
"Bu, soto satu seperti biasa makan di sini!" ucap Jasmine kemudian mendudukkan bokongnya di bangku.
"Siap! Neng," jawab penjual soto tersebut.
Jasmine merasa tidak bersemangat karena dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang ayah, walaupun ia seringkali melihat wajah ayahnya dari ponsel Samudra.
'Kenapa? Waktu terasa sangat lambat berjalan, apa karena? Aku yang tidak sabar yang aku tunggu tiba?' batin Jasmine.
Setelah sampai pesanannya, ia langsung makan dan menghabiskan makanannya yang sudah di pesan tadi.
Setelah selesai Jasmine langsung membayar dan bergegas pulang, karena hari ini ia akan membersikan kamarnya yang sudah lumayan berserakan.
Setelah sampai Jasmine langsung buru-buru masuk ke dalam kamarnya, dan langsung membereskan barang-barang dan juga baju-bajunya. setelah itu ia bergegas mandi.
Saat di dalam kamar mandi, ia terdiam melihat jejak kepemilikan sang ayah di sana dengan jumlah yang cukup banyak.
"Bekas ini saja, lama sekali hilangnya? Setelah hilang aku tidak akan berbuat seperti itu lagi. Karena sama saja aku juga tidak akan bebas dari sini," ucap Jasmine dengan semangat dan lemah.
Setelah selesai Jasmine langsung bergegas keluar dan pergi ke dalam kamarnya, setelah sampai ia langsung menggunakan baju lalu menatap dirinya di cermin.
"Bukankan, aku sudah lama tidak makan nasi lagi?" ucap Jasmine sambil melihat perutnya yang membuncit dari dalam cermin.
Bersambung.
__ADS_1