Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 21 Ada sesuatu yang hilang?


__ADS_3

Aldalin tersenyum simpul saat melihat dua orang yang sangat di bencinya, perlahan ia mendekati kedua orang itu dengan sinis.


"Aku, masih berbaik hati pada kalian! Sekarang, aku tidak akan membunuh kalian harus! Melihat Jasmine menderita!" seru Aldalin.


Jhoni terkejut, bukan karena bentakan dari Aldalin tetapi. Ucapan Aldalin yang membuatnya sanga tidak percaya.


'Jika dia bukan anak tuan, artinya Jasmine anak laki-laki itu,' batin Jhoni.


"Mas, maafkan aku dan tolong jangan sakiti anakku." Tasya berucap dengan lirih.


Aldalin tersenyum simpul mendengar ucapan mantan istrinya, lalu ia membalikan badan dan menatap ke arah Tasya.


"Anakmu itu! Sudah hamil, lalu kau tahu apa yang aku buat padanya?" tanya Aldalin sambil berbalik badan kembali.


"Anakku hamil!" teriak Gilang, karena ia sangat tidak percaya jika anaknya dihamili laki-laki seperti Aldalin.


"Benar dan aku sudah menggugurkan kandungannya!" Aldalin menjawab dengan ketus, membuat Tasya langsung pingsan di tempatnya.


"Tasya!"


"Al! Kau sangat keterlaluan. Kami yang bersalah lalu kenapa? Kau membalas dendammu padanya, dia tidak salah apa-apa kami yang bersalah!" ucap Gilang.


Kemudian Gilang menatap ke arah sang istri yang pingsang, dia tidak bisa membantu Tasya karena mereka berdua di ikat di tiang yang berbeda-beda.


"Oh, lalu kau manusia macam apa? Kau pergi bersama istriku! Meninggalkan anakmu padaku!" sentak Aldalin sambil melemparkan benda yang ada didekatnya.


"Tuan!"


Jhoni menahan tangan Aldalin agar tuannya tidak emosi dan menghabisi dua orang tersebut.


"Ingat kata-kata ku ini! Sampai kau merasakan apa yang aku rasakan baru aku akan melepaskan anak mu itu!" Aldalin bergegas pergi dari sana.


"Al, kumohon bunuh saja aku! Asalkan kau melepaskan Jasmine!" teriak Gilang dan itu percuma saja, karena Aldalin sudah pergi jauh dan sama sekali tidak mendengarkan teriakannya.


Aldalin masuk ke dalam mobil dengan rasa kesal yang selalu ada di pikiran, sehingga ingin melampiaskan amarah pada Jasmine.


"Jhon, apa anak itu sudah di temukan? Karena aku yakin sekali jika anak itu masih di sekitar sini?" tanya Aldalin kepada Jhoni yang sedang mengemudikan mobil.

__ADS_1


"Belum Tuan, anak-anak belum memberikan kabar pada saya tentang Non Jasmine," jawab Jhoni dengan cepat.


Aldalin merasa sangat kesal anak yang di benci belum juga ditemukan, ia juga sangat kesal jika mengingat kembali wajah sepasang suami-istri tadi.


Aldalin dulu terkenal sangat baik dan lembut saat di khianati oleh sang istri, dari situ awal mulanya menjadi seorang laki-laki yang tidak memiliki hati dan kejam.


"Jhon, katakan pada anak-anak siksa dua manusia itu! Barulah mereka melepaskan!" titah Aldalin.


Jhoni menganggukkan kepalanya, dan menuruti semua perintah dari Aldalin.


*


*


Samudra mengemudikan motor matic dengan sangat pelan, karena tengah mencari keberadaan kakaknya.


Tadi pagi Samudra mendapatkan kabar jika kakaknya itu hilang, sampai saat ini belum ditemukan sehingga ia mencoba untuk mencari keberadaan Jasmine.


"Aku harus mencarinya sampai dapat! Karena aku ingin membawa dia pergi jauh dari sini. Setelah kami pergi tidak kembali lagi, ini terjadi pasti ada hubungannya dengan dua manusia itu," ucap Samudra sambil mengingat-ingat kembali wajah ibunya.


Akan tapi, nyatanya mereka membuat Jasmine semakin dalam bahaya.


*


*


Jasmine merasa sangat pusing dan mual karena ia belum memakan apapun dari pagi, karena gadis itu sama sekali tidak berselera makan, dia merasa jika melihat wajah sang ayah maka akan berselera makan.


"Ada apa, dengan diriku ini? kenapa aku sangat merindukan ayah dan aku akan makan saat melihat wajahnya?" ucap Jasmine lirih sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.


Jasmine meneteskan air mata saat ia mengingat wajah sang ayah, entah mengapa nyeri di dalam hatinya datang lagi dan sesak di dada juga mulai datang.


"Sakit rasanya mengingat malam kelam itu, ternyata aku salah besar mengira dia tidak akan mengenali," ucap Jasmine dengan lirih.


*


*

__ADS_1


Bi Sinta sedang mencuci baju sambil memikirkan tentang Jasmine yang tidak ada kabar sama sekali.


"Jasmine, di mana kamu sayang? bibi cemas sama keadaan kamu yang belum ada kabarnya sampai saat ini?" ucap Bi Sinta sambil meneteskan air matanya.


Entahlah, ia merasa sangat bersedih saat mengingat wajah Jasmine, karena Sinta sangat menyayangi gadis itu dari dulu sampai saat ini.


"Bi, sebaiknya kita juga mencari informasi tentang Non Jasmine," ucap Pak Kumar yang baru saja sampai.


Bi Sinta menatap ke arah Pak Kumar lalu ia mendekatinya.


"Benar juga, sebaiknya kita juga mencari informasi tentang Non Jasmine, siapa tahu kita yang berhasil menemukannya," sambung Bi Sinta dengan harapan yang besar untuk bertemu dengan Jasmine.


"Nanti saya minta sama teman-teman, jika mereka bertemu dengan Jasmine mereka akan memberitahu saya," ucap Pak Kumar.


Bi Sinta menganggukkan kepalanya karena ia sangat tidak sabar bertemu dengan Jasmine, gadis kecil yang di besarkan seperti anak sendiri.


*


*


Setelah seharian penuh berkerja, Aldalin pulang ke mansion bersama dengan Jhoni.


Aldalin bergegas masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk di bibir ranjang sambil berfikir. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang hilang.


"Seperti ada sesuatu yang hilang? Aku tidak tahu apa itu?" ucap Aldalin sambil terus berfikir apa yang hilang sebenarnya.


Sampai lelah, ia sama sekali tidak bisa berfikir apa yang sebenarnya hilang. Sehingga Aldalin memutuskan untuk membersihkan diri setelah itu dia langsung bersiap-siap.


Aldalin tidak pernah merasa kesepian sama sekali jika ia bosan maka Aldalin akan memesan gadis virgin.


Seketika Aldalin mengingat kembali kejadian malam itu, saat dirinya merasa jika wanita malam adalah Jasmine putri yang sudah hidup bersamanya sejak bayi.


"Tidak, aku hanya salah dan berimajinasi saja jika itu adalah Jasmine, karena dia saja mengatakan jika laki-laki itu mengenalnya," ucap Aldalin yang menempis pikirannya itu.


Aldalin memang sangat membenci Jasmine ia tidak pernah berfikir untuk meniduri gadis itu, menganggap anaknya sendiri walaupun sama sekali tidak pernah menyayangi gadis itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2