
Difa bersiap-siap berangkat menuju rumah sakit, karena dia ingin menjenguk ayah sambungnya Samudra. Walaupun lebih tepatnya ingin melihat pujaan hatinya.
Gadis itu berjalan ke luar dari rumah dan naik ojek agar segera sampai di rumah sakit, selama di perjalanan dia terus-menerus mengingat kembali wajah Samudra.
'Tampannya wajah adik sahabatku itu,' batin Difa.
Setelah sampai di rumah sakit, dia langsung berjalan menuju ruangan inap ayah sambung Samudra. Namun, saat di perjalanan matanya melirik arah wanita yang tengah mengandung duduk di kursi roda.
"Jasmine!"
Jasmine langsung menoleh dan semua orang juga ikut menoleh. Difa langsung berlari memeluk Jasmine yang sudah sangat di rindukannya itu.
"Jasmine!"
"Difa!"
Kedua wanita itu menangis tersedu-sedu sambil berpelukan dengan hangat, dan semua orang hanya menatap ke arah mereka.
'Ada hubungan apa kak Jasmine dan wanita itu. Bukankah dia satu kampus denganku?' batin Nana.
Samudra langsung teringat akan permintaan sang ayah yang sangat merindukan Jasmine, dan dia langsung menarik tangan Aldalin menjauh dari keramaian.
"Ada apa?" tanya Aldalin yang menatap heran pada sang anak, mengapa membawanya menjauh.
"Sebenarnya ... " Samudra menceritakan semua pada Aldalin dan pria itu menganggukkan kepala.
"Kita beritahu kakakmu dulu," ucap Aldalin dengan lembut.
Walaupun hatinya masih sakit dengan kenyataan yang di hadapinya. Namun, Aldalin mencoba untuk tegar agar tidak ada yang tahu kalau dia juga lema.
Mereka kembali dan duduk di bangku sambil melihat Jasmine dan Difa saling menangis dan berpelukan.
"Jasmine, gue rindu banget sama elo," ucap Difa sambil melepaskan pelukan.
"Gue juga," jawab Jasmine lirih.
Jhoni hanya melihat saja, karena dia tidak tahu apapun tentang Jasmine dan Difa karena dia tidak mengenal wanita itu.
Setelah puas melepas rindu, mereka berdua saling tertawa, dan melihat semua orang melihat mereka dengan sangat aneh.
"Maaf semuanya," ucap Difa dengan sangat lembut dan malu-malu.
"Sudah selesai kalian bersedih?" tanya Aldalin dengan sangat cuek.
Difa dan Jasmine saling menganggukkan kepala, dan Aldalin mendorong kursi roda Jasmine menuju ruang rawat Gilang, bersama Samudra dan Difa. Sedangkan Nana dan Jhoni memilih melihat keadaan Nandini yang semakin memburuk.
Setelah sampai di dalam ruang inap Gilang, Jasmine terdiam dan langsung menghampiri pria yang tengah terbaring lema di atas tempat tidur pasien.
"Ayah!" Jasmine manggis sambil memeluk pria itu dengan sangat erat.
__ADS_1
Aldalin menghampiri Jasmine dan Samudra, begitu juga dengan Difa. Meskipun dia sama sekali tidak mengenal Gilang.
Gilang sangat bahagia dan menangis, karena anaknya datang memeluknya dengan sangat hangat.
"Maafkan kesalahan ayah selama ini," ucap Gilang dengan lirih.
Jasmine melepaskan pelukannya dan membantu Gilang duduk, kemudian dia juga memegang tangan sang ayah dengan sangat lembut.
"Lupakan masa lalu, dan kita hidup di masa depan," ucap Jasmine dengan lembut.
Gilang tersenyum dan mencium tangan sang anak dengan sangat lembut, kemudian matanya melirik ke arah gadis yang ada di sampingnya.
'Bukankah dia yang kemarin berciuman dengan ku? Walaupun tidak secara langsung,' batin Gilang.
Difa tersenyum saat Gilang menatap dirinya, dan dia juga mendekati Gilang kemudian berkata, "Om sudah sembuh?"
"Kamu yang membuat saya kemarin masuk rumah sakit," jawab Gilang.
Sontak membuat Difa membuka mulut lebar-lebar, dan melihat semua orang yang ada di sana menatap dirinya dengan tajam.
"Difa?" tanya Jasmine.
"Difa katakan?" tambah Samudra.
Difa menceritakan semua yang terjadi kemarin, dari awal bertemu sampai mereka berciuman dengan cara tidak langsung.
Semua orang terkejut mendengarnya, dan langsung menatap tajam ke arah mereka berdua yang sudah berciuman.
"Sudahlah, bukankah itu tidak di sengaja?" ucap Samudra yang mencoba untuk mencairkan suasana.
"Benar," jawab Difa.
Semua orang di sana mulai cair dan kembali bercerita bersama-sama.
*
*
*
Tasya sangat kesal karena mendapati mobil Gilang di taman dan suaminya sama sekali tidak ada di sana, sehingga dia membiarkan Gilang karena sangat kesal.
"Biarkan saja! Lagi pula dia sama sekali tidak ingat padaku," ucap Tasya dengan kesal.
Entah mengapa hubungannya dengan Gilang seakan di hambang kehancuran, sejak kembali ke kota A untuk mencari keberadaan Jasmine dan juga scandal masa lalunya terbongkar.
Hal itu membuatnya kesal dan saling menyalahkan. Bahkan, mereka sudah tidak ada keharmonisan lagi sejak hati itu sampai saat ini. Mereka juga seringkali bertengkar hanya karena hal sepele.
*
__ADS_1
*
*
Azam bersama Bu Jima sarapan bersama, karena hari ini pria itu tidak kemana pun sebab hari Sabtu. Bahkan, dia juga tidak memiliki wacana ke mana pun.
"Azam, carilah istri karena ibu ingin meminang cucu," ucap Bu Jima dengan sangat lembut.
Azam langsung tersenyum dan mencium tangan sang ibu, karena jujur saja belum ada wanita yang mempu mengetuk pintu hatinya lagi saat ini.
"Sabar Bu, Azam sedang berusaha mencari calon istri dan menantu untuk Ibu," jawab Azam dengan sangat lembut.
Walaupun dia selalu di desak agar menikah lagi. Namun, hatinya masih belum bisa melupakan Jasmine dan mantan istrinya yang sudah meninggal.
Sejujurnya hanya Jasmine yang mempu membuka hatinya kembali, dan dia tidak berharap ada wanita yang membuka pintu hatinya kembali.
'Aku akan bersikap seperti biasanya sampai ada wanita yang datang sendiri padaku, karena hati ini sudah trauma mencintai wanita dan tersakiti karena tidak bisa memiliki mereka,' batin Azam lirih.
*
*
*
Jasmine berpamitan pulang karena dia merasa sangat lelah, dan Aldalin membawanya pulang. Kini tinggallah Difa dan Samudra yang ada di sana.
Samudra teringat akan Nana, dan dia berniat menghampiri kekasih hatinya. Namun, tidak mungkin dia meninggalkan Difa sendirian.
'Bagaimana ini? Sebaiknya aku tanya dulu padanya,' batin Samudra.
"Difa, aku pergi sebentar boleh tidak? Kamu di sini menemani Ayahku?" tanya Samudra.
Difa langsung menganggukkan kepalanya, dan Samudra bergegas pergi dari sana dan meninggalkan gadis itu berdua dengan sang ayah.
Gilang hanya diam saja, dan dia harus kemudian mencoba untuk mengambil air. Namun, tidak bisa karena air itu sangat jauh.
Difa yang menyadari hal itu langsung mengambil air dan memberikannya pada Gilang.
"Terimakasih," ucap Gilang.
Difa tersenyum dan duduk di samping pria itu, karena dia juga harus mengambil hati calon mertuanya. Sebab, gadis itu berharap besar bisa bersama dengan Samudra.
"Apa Om butuh sesuatu?" tanya Difa dengan sangat lembut.
Gilang tersenyum, dan dia langsung memegang kepala yang terasa sangat sakit agar Difa memijatnya.
"Difa pijat. Ya Om." Difa langsung memijat kepala Gilang dengan sangat lembut, dan juga dia bercerita tentang Samudra pada Gilang.
Sampai pria itu tertidur pulas karena pijatan dari gadis itu, dan Difa langsung bergegas dari sana.
__ADS_1
...Bersambung....