
Azam mengemudikan mobil menuju rumah sang sahabat dengan kecepatan tinggi, sebab ia sangat cemas akan keadaan Jasmine, yang membutuhkan banyak darah.
"Apakah dia selamat, apa tidak? Astaga, kenapa aku berpikir dan bukan-bukan," gumam Azam sambil terus mengemudikan mobilnya.
Setelah sampai di rumah sang sahabat, ia pun turun dari mobil kemudian berjalan menuju rumah sahabatnya dan, mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut.
Tak berselang lama, akhirnya pintu terbuka dan, terlihat seorang gadis cantik yang masih menggunakan piyama ke luar dari rumahnya.
"Ya ampun Om, ada apa sih? Kenapa jam segini datang, apa tidak ada hari esok?" tanya Difa sambil mengucak-ngucak kedua matanya.
"Sudah tidak ada waktu lagi, bukankah darahmu dan darah Jasmine sama?" jawab Azam dengan cemas, sambil menarik tangan gadis itu ke luar dari rumahnya.
Difa membuka matanya lebar-lebar saat mendengar sang sahabat kritis, kemudian dia menghentikan langkah dan menatap wajah Azam.
"Benarkah Jasmine kritis? Tapi, golongan darah kami berbeda. Aku tidak memiliki golongan darah yang sama seperti Jasmine," ucap Difa dengan lirih.
__ADS_1
Azam mengira, Difa memiliki golongan darah yang sama seperti Jasmine. Namun, gadis itu mengatakan tidak membuat Azam terkejut.
"Bukankah waktu itu kamu yang mendonorkan darah untuk dia?" tanya Azam pada Difa.
Difa mengelengkan kepalanya, kemudian Azam mengusap kasar wajahnya. Sebab ia benar-benar tidak habis pikir mengapa bisa dia salah orang.
"Kenapa tidak memberitahu Samudra, apakah dia tidak bersih mendonorkan darah untuk kakaknya?"btanya Difa sambil menatap wajah Azam.
Azam menepuk keningnya, sebab ia sudah sangat panik sampai tidak menyadari bahwa Samudra, pemilik golongan darah yang sama seperti Jasmine.
"Tunggu Om! Aku ingin ikut," teriak Difa sambil bergegas mengunci pintu rumahnya, kemudian ia pun berlari menghampiri Azam dan, masuk ke mobil pria itu.
Azam langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, sebab ia benar-benar sangat terburu-buru ia takut Jasmine semakin kehabisan banyak darah.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Mengapa Jasmine sampai kritis dan kehilangan banyak darah?" tanya Difa dengan cemas.
__ADS_1
"Entahlah, yang jelas aku tidak mengetahui apa-apa, saat aku masuk ke dalam kamarnya, dia sudah terjatuh dan banyak mengeluarkan darah," jawab Azam dengan cemas sambil terus mengemudikan mobilnya.
Difa semakin cemas akan keadaan sang sahabat, kemudian ia pun berdoa agar Jasmine dan juga bayi yang ada di dalam kandungan gadis itu selamat.
. . .
Entah mengapa, tiba-tiba hati Tasya sangat gelisah dan cemas ia pun juga merindukan sang anak. Namun, kondisinya tidak memungkinkan ia bertemu Jasmine atau Samudra.
"Kenapa perasaanku tidak enak sejak tadi, aku terus-terusan memikirkan Samudra dan Jasmine, apa mereka baik-baik saja?" gumam Tasya, sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Tasya pun berdoa agar kedua anaknya baik-baik saja. Namun, perasaannya semakin cemas sehingga ia pun menghubungi sang suami, meminta agar suaminya melihat keadaan anak-anaknya.
"Ya Tuhan, semoga Samudra dan Jasmine baik-baik saja, aku benar-benar merasakan khawatir pada keadaan mereka. Namun, kondisiku seperti sekarang tidak memungkinkan aku bertemu dengan mereka," gumam Tasya lirih.
Ingin rasanya Tasya bergegas pergi dari rumah sakit dan, bertemu dengan sang anak. Namun, tidak bisa sebab kondisinya benar-benar sangat buruk yang, mengharuskan yang harus menginap di rumah sakit.
__ADS_1
BERSAMBUNG.