
Setelah selesai Dokter memeriksa keadaan Jasmine, semua orang yang menunggu gadis itu langsung masuk ke dalam.
"Jasmine, aku sangat mencemaskan mu," ucap Difa dengan lirih.
Gadis itu langsung menghampiri Jasmine dan, ia langsung duduk di samping gadis itu. Kemudian, memegang tangannya dengan lembut.
"Jasmine, ahkirnya kami baik-baik saja. Tadi, aku sangat mencemaskan calo bayimu," ucap Difa dengan lembut.
Aldalin langsung memeluk Jasmine dan, dia juga mencium seluruh wajah gadis itu dengan lembut. Azam yang melihatnya langsung mengambil Difa.
"Hei, matamu dijaga, jangan sampai ternodai akan perlakuan Kak Al," bisik Azam di telinga Difa.
Difa hanya menganggukkan kepala, karena jujur, dia belum pernah di cium seseorang apa lagi oleh pacarnya.
"Apa hal itu tidak baik?" tanya Difa sambil berbisik.
Azam terdiam, kemudian mencaritahu Difa bila pasangan yang belum menikah tidak boleh melakukan hal yang dilakukan oleh Aldalin.
'Aku mengerti sekarang,' batin Difa.
Gadis itu pun duduk di sofa bersama dengan Azam, mereka berdua merasa mengantuk sampai keduanya tertidur pulas.
"Ya ampun, mereka berdua sangat menyusahkan saja! Tidur di sini, bagaimana denganku?" gumam Aldalin.
__ADS_1
Pria itu pun bergegas duduk di bangku samping Jasmine, kemudian tertidur dengan pulas tanpa mengingat Samudra, yang masih berada di ruangan transfusi darah.
. . .
Keesokan harinya . . .
Jasmine membuka kedua mata dan, melihat sekelilingnya terlihat dia ada di rumah sakit. Kemudian dia melihat, adanya sang sahabat juga di sana.
"Apa yang terjadi?" gumam Jasmine.
Gadis itu langsung mengingat kembali, kejadian semalam dan, dia langsung memegang perut yang masih buncit.
"Aku masih hamil, aku mengira, anak ini sudah tidak ada. Sebab, semalam pendarahan ku sangat banyak dan, ini ada yang mendonorkan darah untuk ku," ucap Jasmine dengan lema.
"Sayang," ucap Aldalin dengan lema.
Pria itu terbangun, saat Jasmine mengelus rambutnya dan, dia pun langsung beranjak dari duduknya, kemudian memeluk sang istri dengan lembut.
"Aku senang, karena kamu dan anak kita selamat," ucap Aldalin dengan sangat senang.
Jasmine menitihkan air mata, karena dia juga senang sang anak masih hidup. Walaupun, bayi itu akan terlahir dengan cacat.
'Aku tidak akan rela kehilangannya, walaupun dia akan terlahir dengan cacat,' batin Jasmine lirih.
__ADS_1
Aldalin melepaskan pelukannya, kemudian dia mengelus-elus perut Jasmine dengan lembut dan, mencium perut sang istri.
"Anak papa sehat-sehat ya di dalam," ucap Aldalin.
Sontak, pria itu langsung mengingat Samudra yang masih di dalam ruangan transfusi darah dan, dia pun bergegas pergi dari sana tanpa berpamitan kepada Jasmine.
"Astaga! Aku sampai lupa, kalua Samudra masih ada di dalam sana," gumam Aldalin sambil terus berjalan.
Sesampainya di ruangan transfusi darah, Aldalin tidak melihat keberadaan sang anak, membuatnya sangat cemas.
"Ya ampun, di mana Samudra?" tanya Aldalin dengan cemas.
Pria itu pun bergegas pergi dari ruangan trasfusi darah, kemudian melihat sang anak di depan ruangan ICU.
"Siapa yang bersama dengan Samudra?" tanya Aldalin.
Pria itu menatap ke arah Samudra dengan dalam dan, mengetahui siapa yang ada bersama sang anak.
"Gilang, mau apa dia di sini?" gumam Aldalin sambil terus berjalan mendekati sang anak.
"Samudra!" panggil Aldalin.
Samudra dan Gilang langsung menatap ke arah Aldalin, terlihat pria itu kesal pada Gilang. Kemudian, dia menghampiri mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG.