Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 22 Aldalin sudah mengetahuinya


__ADS_3

Satu Minggu kemudian ...


"Aaahhhkkk! Kerja kalian semuanya tidak becus!" seru Aldalin sambil melemparkan benda yang ada di hadapannya.


"Taun maafkan kami, karena saya dan anak-anak yang lain sudah mencari Jasmine di kota ini. Tapi, sama sekali tidak menemukan gadis itu," jawab anak buah Jhoni.


"Kalian tidak becus!" sentak Aldalin membuat semua anak buah Jhoni bergegas pergi dari sana. Jhoni mulai mendekati majikannya itu yang sedang emosi.


"Tuan, maafkan saya juga belum bisa mencari keberadaan Jasmine karena saya juga harus mengurus pekerjaan Tuan," ucap Jhoni dan Aldalin menganggukkan kepalanya saja.


"Kalau begitu saya permisi dulu!"


Aldalin mengibaskan tangannya lalu Jhoni mulai pergi dari sana.


Sepasang mata melihat gerak-gerik Jhoni sangat mencurigakan sejak satu minggu terakhir ini, ia langsung mengikuti kemana perginya Jhoni.


"Aku merasa dia adalah dalang semuanya, karena dia terlihat sangat mencurigakan sejak hilangnya kak Jasmine," ucap Samudra sambil terus mengikuti kemana perginya Jhoni.


Ya, yang mengikuti Jhoni adalah Samudra karena ia merasa curiga akan sikap Jhoni beberapa hari lalu. Saat dirinya bertanya di mana rumah Jhoni berada.


"Oh, lalu di mana rumah mu? Biar aku saja yang mengambil barang itu," ucap Samudra dengan sangat lembut.


Jhoni merasa sangat cemas dan Samudra dapat melihat wajah cemas itu, sehingga ia curiga apa yang sebenarnya sedang di sembunyikan oleh Jhoni.


Samudra menghentikan motornya tekat di depan gerbang rumah Jhoni, karena ia merasa jika itu adalah rumahnya Jhoni.


"Aku yakin jika ini rumahnya, aku akan masuk ke dalam dan melihat apa yang di sembunyikan olehnya, dariku dan semua orang," ucap Samudra yang mulai turun dari motornya.


Jhoni masuk ke dalam dan sudah di sambut oleh Bi Indi yang mengambil tasnya, lalu ia berhenti sambil menatap kesana kemarin.


"Jasmine mana?" tanya Jhoni pada Bi Indi.


"Ada di dalam Tuan, dia mula dan dari pagi belum memakan apapun." Bi Indi menjawab sambil bergegas pergi dari sana.


Samudra sangat jelas mendengar ucapan Jhoni yang menyebut nama Jasmine, perlahan ia mendekati rumah Jhoni dengan mengendap-endap.

__ADS_1


Jhoni bergegas pergi menuju kamar tamu karena ia ingin memastikan jika Jasmine baik-baik saja, saat ia masuk ke dalam terlihat jika Jasmine sedang berbaring lemah.


"Jasmine, saya panggilkan dokter saja. Ya?" tanya Jhoni dengan sangat lembut dan Jasmine langsung bangun.


"Tidak usah, saya di sini hanya merepotkan om saja," jawab Jasmine.


"Jasmine, kamu itu sudah seperti anak saya sendiri jadi jangan menanggap saya seperti orang asing," sahut Jhoni.


Tanpa mereka sadari ternyata, Samudra mendengar dan melihat jelas jika kakaknya yang sedang ia cari, ada pada kaki tangan ayahnya sendiri.


Samudra langsung berjalan masuk ke dalam kamar tersebut.


"Ternyata kamu penghianat! Duri dalam daging!" teriak Samudra.


Sontak membuat Jhoni terkejut bukan main, ia langsung berjalan mendekati tuan mudanya dan berhadapan dengan Samudra.


"Maafkan saya Taun muda, ini semuanya saya lakukan untuk melindungi Non Jasmine dari ayah kalian," jelas Jhoni dengan takut.


Samudra tidak menjawab ucapan Jhoni dan ia langsung berjalan menghampiri kakaknya, lalu memeluk wanita yang sudah sangat di rindukan satu minggu ini.


"Kak Jasmine, kamu itu sudah seperti ibu yang menggantikan posisinya, dan aku sama sekali tidak tahu tentang ini? Bukankah aku selalu ada di pihak mu?" tanya Samudra dengan kecewa.


"Sam, kamu itu masih kecil dan kamu juga harus kuliah jangan gara-gara kakak ini, kamu jadi tidak bisa kuliah dengan benar," jawab Jasmine dengan sangat lemah.


Samudra memegang tangan kakaknya lalu ia meneteskan air mata, saat ini pria remaja itu merasa menjadi adik yang tidak berguna karena tidak bisa melindungi Jasmine.


"Hei, laki-laki tidak boleh menangis seperti ini kakak hanya ingin kamu merahasiakan hanya untuk sementara waktu saja," pinta Jasmine kepada adiknya tersebut. Samudra menganggukkan kepalanya lalu menatap wajah Jhoni.


"Aku sangat kecewa padamu! Karena tidak melibatkan aku dalam masalah sebesar ini," ucap Samudra dengan kesal.


"Taun muda, maafkan saya karena saya takut tuan Aldalin akan mengetahui ini semuanya, kasih Non Jasmine sedang hamil dan dia harus di siksa terus," sahut Johni sambil menatap wajah tuan mudanya tersebut.


"Sudah lupakan saja, yang terpenting aku dan kakakku bisa bertemu seperti ini," ucap Samudra dengan lega, karena ia sudah bertemu dengan Jasmine yang sudah sangat di rindukan.


*

__ADS_1


*


Aldalin berjalan masuk ke dalam kamar Jasmine karena ia ingin memastikan jika gadis itu tidak ada di sana.


Aldalin sempat berfikir jika Jasmine tidak dapat di temukan karena gadis itu tidak pergi kemana-mana, melainkan ada di dalam kamar saja tanpa keluar.


Setelah Aldalin masuk ke dalam dan sama sekali tidak melihat adanya Jasmine, sehingga ia masuk kemudian duduk di bibir ranjang.


"Kemana anak ini? Biasanya aku mencarinya hanya butuh waktu lima jam saja. Kenapa sekarang sampai satu minggu dia belum juga di temukan?" tanya Aldalin pada dirinya sendiri.


Mata Aldalin melirik ke arah benda yang berkilau ia langsung mengambilnya, lalu membuka mulut lebar-lebar saat melihat anting wanita.


"Apa ini? Milik Jasmine?"


Aldalin benar-benar sangat tidak percaya akan apa yang temukan saat ini, sehingga ia langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil sebelah anting itu.


Setelah sampai di dalam kamar ia langsung mengambil kota kecil yang di simpan di dalam lemari, perlahan ia membukanya dan mengambil satu anting wanita tersebut dan mencocokkan.


Hatinya seakan tak bisa merasakan apa-apa lagi saat ini, ia langsung mengingat kembali kejadian di mana dirinya memperlakukan Jasmine. Aldalin mengingat saat ia menggugurkan kandungan gadis itu beberapa minggu lalu.


"Gugurkan! anak haram itu!"


Aldalin menelan ludah dalam-dalam saat mengingat kata-kata itu kembali, ternya yang di sebutkan anak haram adalah anaknya sendiri.


"Pantas saja aku mendengar suara Jasmine, ternyata memang dia orangnya," ucap Aldalin yang kembali mengingat malam itu.


Aldalin tidak percaya sudah tidur dengan anak sambungnya sendiri, lalu ia mengingat kembali saat malam penyatuan dengan sangat lembut itu.


"Aku benar-benar sudah melakukan, bersama dengan Jasmine dan aku juga sudah membunuh anak ku sendiri," ucap Aldalin yang sangat menyesali perbuatannya waktu itu.


Bersambung.


Aldalin Kusnaeni.


__ADS_1


Jasmine.



__ADS_2