Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 06 Luka di tangan yang sama


__ADS_3

Kedua mata Jasmine mulai terbuka, dia melihat Dokter tengah memeriksa dirinya. Lalu mata gadis itu melirik ke arah samping yang terdapat Bi sini di sana.


"Bik, kenapa? Jasmine ada di sini?" tanya Jasmine dengan sangat lemah


Dokter dan Bik Sinta langsung menatap ke arah Jasmine yang tengah bertanya.


"Istirahat saja, karena pendarahan yang kamu alami ini wajar dan tidak terlalu berbahaya. Itu semua terjadi saat malam pertama tiba," jelas Dokter tersebut.


"Dok, apa? Non Jasmine boleh pulang?" tanya Bik Sinta. Dia tidak mungkin selalu ada di rumah sakit karena pekerjaannya akan terbengkalai.


"Boleh, saya sarankan dia harus istirahat total sampai lukanya sembuh apa lagi di bagian sensitifnya. Itu adalah bagian yang sangat rentan," jawab Dokter tersebut.


"Dok, kalau begitu saya mau pulang sekarang saja," sambung Jasmine.


Dokter tersebut langsung membuatkan resep obat Jasmine, kemudian memberikan kepada Bi Sinta.


Bik Sinta membantu Jasmine duduk di kursi roda kemudian, ia mendorongnya menuju luar.


"Non, kita pulangnya naik taksi saja. Ya?" tanya Bik Sinta sambil mengehentikan laju kursi roda Jasmine.


"Emangnya Bibi banyak uang? Tadi itu biaya pengobatan Jasmin sangat mahal Bik. Setelah sampai rumah, Jasmine bayar ya," jawab Jasmine sekaligus bertanya.


"Bibi memberikan semuanya karena Bibi sayang sama Non," ucap Bi Sinta.


Bi Sinta memanggil taksi, kemudian dia membawa Jasmine masuk ke dalam di bantu oleh Supir taksi tersebut.


Bi Sinta memberanikan diri untuk bertanya, karena itu adalah permintaan Samudra sebelum ia pergi ke rumah sakit.


"Bi, jika kak Jasmine sudah membaik tolong tanyakan padanya kenapa menjual diri!"


"Non, ceritakan pada Bibi kenapa? Non melakukan semuanya?" tanya Bi Sinta dengan sangat lembut.


Jasmine langsung menatap wajah Bi Sinta, karena pernyataan dari wanita paru paya itu.


"Karena, Jasmine ingin bebas dari ayah. Namun, semua itu salah besar karena ayah sama sekali tidak melepaskan aku," jawab Jasmine lirih.


Entah mengapa, saat ia menyebutkan nama sang ayah terasa sangat nyeri di hatinya, seketika Jasmine menangis tersedu di dalam pelukan Bi Sinta.


"Sudah Non, Bibi akan selalu ada untuk Non," sahut Bi Sinta yang mengelus-elus rambut Jasmine dengan lembut.


Bi Sinta sangat menyayangi Jasmine, karena ia sudah bekerja di mansion Aldalin Kusnaeni sejak lima belas tahun yang lalu.


*

__ADS_1


*


Aldalin sedang meninjau proyeknya yang ada di Kota Banda Aceh, saat itu juga laki-laki dewasa seumurannya menghampiri dia.


"Al, kembalikan milikku!" seru lelaki itu.


"Kau bilang ini milikmu! Lalu milikku mana?" sahut Aladin.


"Kau tidak berhak atasnya! Karena dia milikku! Kau harus mengembalikannya kepadaku!" seru laki-laki tersebut.


Aldalin tersenyum simpul kemudian memegang pundak laki-laki tersebut dengan sangat kuat.


"Kembalikan milikku! Aku juga kembalikan milikmu!" Aldalin bergegas pergi dari sana.


"Al! Kumohon!" teriak laki-laki tersebut.


Aldalin tidak memperdulikan ucapan laki-laki tersebut, ia terus saja berjalan menuju mobilnya.


Aldalin masuk ke dalam mobilnya dan Supirnya langsung mengemudikan mobil menuju Kantor, selama di perjalanan dia terus-menerus mengingat wajah laki-laki tadi yang setiap hari yang di lihatnya.


"Aku akan membuat kalian sakit! Karena kalian sudah mengkhianati ku!" seru Aldalin.


*


*


"Kenapa? Aku, yang selalu saja menanggung semua kesalahan ibu pada ayah? Kenapa?" tanya Jasmine pada dirinya.


Jasmine membuka tas, lalu nyeri di dadanya kembali datang saat ia melihat serpihan jam tangan laki-laki yang sudah menidurinya.


"Semoga saja, laki-laki ini tidak mencari keberadaan ku dari mami Sairin, karena aku sudah berpesan agar dia merahasiakan hal tentang ku," ucap Jasmine yang mengingat kembali saat masih di hotel.


"Mami, Jasmine mohon rahasiakan identitas ku jika laki-laki itu bertanya."


Jasmine sengaja ingin merahasiakan identitas dirinya, karena ia tidak mau berada di dalam masalah besar karena sudah bermalam dengan laki-laki tua yang di pikir pasti sudah memiliki anak dan istri.


Tiga hari kemudian ...


Pagi ini Jasmine sudah bisa berjalan kembali dengan normal, ia pun bergegas membuatkan sarapan untuk sang ayah.


Sudah tiga hari Jasmine tidak membuat sarapan. Namun, sang ayah sama sekali tidak marah padanya sehingga ia penasaran kenapa ayahnya tidak marah.


Setelah sampai di dalam kamar sang ayah, Jasmine tidak melihat keberadaan ayahnya sehingga ia langsung menaruh sarapan di meja.

__ADS_1


"Sepertinya, ayah masih ada di dalam kamar mandi."


Jasmine bergegas membersihkan tempat tidur sang ayah, karena ia ingin cepat-cepat pergi dari kamar ayahnya.


Saat Jasmine mengelap lampu tidur, tidak sengaja tanyanya menjatuhkan kota kecil yang berisikan jam tangan.


Jasmine cepat-cepat melihat kondisi jam tangan sang ayah, karena ia takut jika ayahnya akan marah.


"Ya ampun, aku dalam maslah besar," ucap Jasmine sambil menatap ke arah jam tangan yang sudah terpecah belah.


Pada saat itu juga Aldalin baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk saja.


"Apa, yang kau lakukan?" tanya Aldalin.


Jasmine langsung membalikan badannya sambil memegang jam tangan yang rusak.


"Ayah, Jasmin tidak sengaja menjatuhkan kotak ini dan jam ini rusak," ungkap Jasmine.


Jasmine sangat takut amukan dari sang ayah. Kali ini ia terkejut saat melihat ayahnya hanya diam saja, padahal ia merusak jam tangan mahal yang harganya bisa membeli sebuah pulau.


"Apa, Ayah tidak marah?" tanya Jasmine.


Kemudian ia mendekati sang ayah yang tengah meminum air putih.


"Kau itu, berisik sekali!" ucap Aldalin sambil menatap ke arah Jasmine.


Mereka saling berhadapan lalu mata gadis itu melirik ke arah tangan ayahnya yang terluka, Jasmine refleks langsung memegang tangan sang ayah.


"Apa, Ayah terluka?" tanya Jasmine.


Kemudian ia melihat jika luka di tangan sang ayah adalah luka bekas cakaran seseorang.


Aldalin merasakan hal yang di rasakan saat Jasmine memegang tangannya, seperti saat wanita yang ia bayar malam itu.


'Tidak mungkin, ini hanyalah kebetulan saja,


ini kali pertamanya menyentuh ku karena sebelumnya aku yang selalu menyentuhnya,' batin Aldalin.


"Lepaskan! Sebaiknya kau pergi dari sini! Jam tangan itu memang sudah rusak, kembalikan saja ke tempatnya semula," ucap Aldalin dengan sangat ketus.


Jasmine langsung menuruti keinginan sang ayah dan langsung bergegas keluar dari kamar sambil membawa keranjang baju kotor.


Sesampainya di luar Jasmine mengingat kembali luka di tangan sang ayah tadi.

__ADS_1


'Luka ayah, sama seperti saat aku melukai laki-laki malam itu. Kenapa? Ini seperti sama, apa ini karena aku terlalu memikirkan semuanya menjadi satu?' batin sambil berfikir.


Bersambung.


__ADS_2