
Aldalin sangat bahagia saat, Jasmine memeluknya seperti saat ini, walaupun hatinya tengah berbuka. Dia tidak bisa menerima kenyataan pahit itu.
'Aku akan menerima anakku, walaupun dia terlahir tidak sempurna. Karena, aku tahu tidak mungkin Tuhan mengujiku di atas kemampuan ku,' batin Aldalin lirih.
Pria itu memiliki sifat yang tidak di ketahui banyak orang, karena dia tidak pernah memamerkan hal itu. Yang di lihat banyak orang Aldalin adalah laki-laki kejam dan sebagainya. Padahal, ia seorang pria lembut dan manja.
Setelah tiba di rumah, Jasmine dan Aldalin memasang wajah biasa-biasa saja seperti tidak ada yang terjadi. Sebab, semua orang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Nak, apa hasilnya? Bagaimana anak kalian?" tanya Bu Jima dengan sangat lembut.
Aldalin tersenyum dan berkata, "Dia baik, euum Aldalin ingin membawa Jasmine istirahat."
"Iya, bawa dia ke dalam Nak," sahut Bu Jima dengan sangat lembut.
Aldalin tersenyum kemudian mengendong tubuh Jasmine masuk ke dalam kamar mereka, agar tidak ada yang bertanya-tanya lagi tentang keadaan calon anak mereka.
Azam menatap kepergian sang kakak dengan aneh, karena dia tadi melihat kalau Jasmine seperti habis menangis.
'Aku melihat kak Jasmine menangis, apa yang mereka sembunyikan dari kami semua?' batin Azam bertanya-tanya.
__ADS_1
Azam pun bertekad untuk mencari tahu apa yang di sembunyikan oleh Aldalin pada semua orang. Sebab, dia ingin mengetahui kenapa Jasmine menangis tadi padahal mereka habis memeriksa kandungan.
Hal itu sangat mencurigakan bagi Azam, karena dia tahu sekarang Jasmine jarang menangis walaupun keadaan apapun.
*
*
*
Aldalin meletakan tubuh Jasmine dengan sangat lembut, dan menghapus air mata yang terus berjatuhan membasahi seluruh wajah gadis itu.
Jasmine langsung memeluk sang suami dengan sangat lembut dan menumpahkan semua kesedihannya.
"Mas Al, apa kita sanggup melihat anak kita cacat?" tanya Jasmine yang masih berada di dalam pelukan Aldalin.
Aldalin bingung harus menjawab apa, karena dia juga sedang memikirkan hal itu. Apakah mereka sanggup melihat sang anak terlahir cacat.
"Kita harus kuat, karena tidak ada yang menyayangi anak kita selain dari kita sendiri. Kasihan dia kalau kedua orang tuanya sama sekali tidak menyayanginya," jawab Aldalin.
__ADS_1
Jasmine terdiam dan memikirkan ucapan Aldalin yang ada benarnya juga, karena anak yang terlahir cacat tidak akan di sayangi atau di sukai oleh orang.
'Aku harus kuat dan menerima kenyataan ini,' batin Jasmine lirih.
"Bagaimana kita ke kota B? Untuk, menenangkan pikiran mu dan aku?" usul Aldalin.
Karena, dia ingin membuat Jasmine rileks dan melupakan masala tentang anak mereka dan juga, Aldalin ingin sekali berlibur berdua dengan Jasmine untuk menghabiskan waktu bersama.
Jasmine menganggukkan kepala, karena dia juga butuh waktu untuk sendiri dan tidak ingin menjawab pertanyaan dari semua orang yang berada di rumah.
"Besok kita akan pergi, karena aku sudah tidak sabar lagi ingin merasakan udara segar di sana." Aldalin mencium puncak kepala Jasmine dengan lembut.
Gadis itu tersenyum malu-malu saat suaminya mencium puncak kepalanya. Entah mengapa dia juga tidak tahu saat ini terasa sangat membahagiakan baginya.
'Aku bersyukur atas semua yang sudah di berikan oleh Tuhan, karena tidak ada pemberiannya yang tidak indah,' batin Jasmine.
...Bersambung....
Halo teman-teman, kalau kalian ingin lebih dekat sama author. Yuk masuk ke dalam grup fans Cinta Terindah.
__ADS_1
Di sana kita bisa ngobrol bareng Lo.