Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 50 Ungkap Jasmine


__ADS_3

Jasmine dan Aldalin saling menatap satu sama lainnya, dengan sangat dalam dan rasa rindu yang membara. Namun, gadis itu dengan cepat membuang pandangan.


"Istriku, ayo kita pulang." Aldalin hendak memegang tangan Jasmine. Namun, gadis itu langsung mundur.


Aldalin langsung menatap ke arahnya dengan pandangan sedih, karena sang istri sudah menjauh dan ia berpikir semua ucapan Samudra tadi pagi ada benarnya.


"Kenapa?" tanya Aldalin dengan sangat lembut sambil menatap wajah manis Jasmine.


Gadis itu langsung bergegas masuk ke dalam. Namun, tangannya di tarik oleh Aldalin masuk ke dalam pelukannya.


'Pelukan ini sangat nyaman, tapi ... aku tidak bisa terus seperti ini? Karena aku ingin bersama kedua orang tuaku,' batin Jasmine sambil berpikir.


Bagaimana cara dia mengatakan yang sejujurnya pada sang suami, yang saat ini ada di hadapannya.


"Katakan?" tanya Aldalin yang semakin memeluk Jasmine dengan erat, jangan dia benar-benar sangat merindukan sang istri.


Jasmine melepaskan pelukan mereka, kemudian menatap wajah sang suami. Dengan keberanian yang sudah di kumpulan dia mencoba mengungkapkan isi hatinya.


"Sebenarnya, Jasmine ingin kita pisah," ucap Jasmine dengan sangat lembut. Namun, mengiris hati.


Aldalin terdiam sambil terus menatap wajah Jasmine dengan sangat lirih. Pria itu tidak menyangka kalau sang istri akan berkata seperti itu.


'Aku sangat mencintainya, apa aku salah mencintai anak tiri ku?' batin Aldalin sambil berpikir.


Jasmine dapat jelas melihat raut wajah sang suami berubah sejak ungkapannya tadi, sehingga dia mencoba untuk menjelaskan.


"Setelah anak kita lahir, barulah kita berpisah."


Bak di sambar petir di siang bolong, Aldalin langsung memegang tangan sang istri dengan sangat lembut.


"Jangan sampai aku terluka untuk yang kedua kalinya, jika itu sampai terjadi. Maka aku akan melenyapkan kau dan ibumu juga ayahmu!" seru Aldalin sambil bergegas masuk ke dalam.


Jasmine terdiam mendengar ucapan sang suami yang sangat mengancamnya tadi, sehingga dia hanya duduk di sofa tanpa mengejar Aldalin ke dalam.


'Ayah berkata seperti itu padaku, apa karena dia marah atau memang sifatnya seperti ini?' batin Jasmine sambil berpikir.


Gadis itu sangat takut akan ucapan Aldalin tadi, yang mengancam akan membunuhnya dan sang ibu jika dia meninggalkan pria itu.

__ADS_1


*. *. *.


Aldalin berjalan dengan sangat terburu-buru masu ke dalam, karena ingin segera melihat dua manusia busuk yang sangat di bencinya.


"Tasya! Gilang!" teriak Aldalin sampai di telinga wanita paruh baya itu, dan langsung cepat-cepat ke luar dari kamar.


Tasya membulatkan mata melihat adanya Aldalin di hadapannya dengan berjalan mendekatinya. Wanita paruh baya itu langsung mundur. Namun, sang menantu sama sekali tidak memperdulikan hal itu.


Tasya mengembuskan nafas dalam-dalam, karena sudah tahu sang menantu datang untuk apa.


"Kau ja-lang! Jangan buat anakmu seperti kau!" seru Aldalin dengan sangat kesal.


Karena sang istri tidak mau pulang bersamanya, dan dia berpikir hal itu ada sangkut pautnya dengan mantan istrinya.


"Dasar ja-lang!" teriak Aldalin membuat Jasmine langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Karena gadis itu takut kalau suaminya akan membunuh sang ibu, dan ucap suaminya terus-menerus masuk ke dalam pikirannya.


"Mas Al!" teriak Jasmine sambil berlari menghampiri sang ibu dan memeluk wanita paruh baya itu.


Sontak membuat Aldalin terkejut, karena melihat Jasmine memeluk wanita yang sudah menghancurkan dirinya.


Tasya mencoba untuk membantu sang anak. Namun, Aldalin malah mendorongnya sampai dia terjatuh dan tersungkur ke lantai.


"Ibu!" teriak Jasmine.


Gadis itu langsung menghampiri sang ibu dan membantu wanita paruh baya itu bangun, kemudian menghampiri Aldalin yang sama sekali tidak peduli pada ibunya.


"Cukup Mas! Jangan pernah sebutkan ibu ja-lang lagi!" teriak Jasmine.


Hati Aldalin semakin sakit mendengar sang istri membentaknya hanya karena membela, wanita yang benar-benar adalah ja-lang.


"Besok aku akan datang, kau harus pulang. Jika tidak. Aku akan membongkar rahasia ibu ja-lang mu itu!" Aldalin bergegas pergi dengan hati yang sangat kecewa pada sang istri.


Aldalin benar-benar sangat kecewa akan sikap Jasmine padanya, karena gadis itu sama sekali tidak tahu kalau Tasya yang mengkhianati suaminya.


'Hatiku sakit, melihatnya seperti tadi. Apa dia sama sekali tidak bisa melihat apa yang sudah di perbuat oleh ibunya? Sehingga gadis itu menjadi korban?' batin Aldalin sambil berpikir.

__ADS_1


*. *. *.


Jasmine membantu sang ibu masuk ke dalam kamar, kemudian dia bergegas pergi menuju kamarnya untuk beristirahat. Ya, walaupun sebenarnya hanya untuk memenangkan dirinya.


Gadis Itu duduk sambil mengelus-elus perutnya yang sejak tadi terus bergerak-gerak, karena sang anak tahu kalau ayahnya sedang tidak baik-baik saja.


"Rahasia apa yang ibu tutupi dariku? Sampai, ayah mengancam seperti tadi?" tanya Jasmine pada diri sendiri.


Gadis itu tidak tahu kenapa hatinya sedikit ragu pada sang ibu, dan mala mempercayai ucapan suaminya tadi. Namun, dia juga tidak bisa hidup bersama ayah yang sudah membesarkannya.


*. *. *.


Aldalin duduk di balkon kamarnya sambil menghisap rokok dan juga meminum segelas bir, untuk menenangkan pikiran yang selalu saja memikirkan tentang penghianatan Tasya bersama Gilang.


Bagaimana dia bisa melupakan semua itu, karena Gilang adalah sepupunya yang berselingkuh dengan sang istri.


'Sakit hati ini. Namun, aku sudah mencintai Jasmine yang dulu menjadi target sasar utama balas dendamku. Walaupun gadis itu sama sekali tidak bersalah,' batin Aldalin.


Pria itu sangat menyesali perbuatannya selama ini yang sudah menghukum gadis kecil, yang dulu selalu membuat hatinya sejuk karena perbuatan Tasya yang semakin menjadi-jadi.


Flashback on.


Aldalin duduk di teras rumah sambil memikirkan sifat sang istri yang kian berbuah, dan sama sekali tidak bisa di nasehati oleh siapapun.


"Ayah," panggil gadis kecil itu dengan sangat imut, sambil berjalan menghampiri Aldalin.


Jasmine duduk di samping sang ayah sambil memeluk pria itu dengan sangat lembut, karena gadis kecil itu tahu ayahnya sedang bersedih. Ya, walaupun dia sama sekali tidak mengerti apa yang membuat Aldalin bersedih.


"Apa Jasmine buat salah, Ayah?" tanya Jasmine dengan sangat polos dan imut, karena gadis itu masih berusia lima tahun kurang.


Aldalin tertawa kemudian menciumi seluruh wajah gadis kecil itu, karena setiap dia bersedih pasti Jasmine yang akan membuatnya kian bersemangat kembali.


Flashback off.


Aldalin tersenyum mengingat kembali wajah Jasmine masih kecil, dan gadis itu sangat imut membuatnya kian sangat menyesali perbuatannya selama ini.


"Aku sangat keterlaluan padanya? Apa, dia bisa memaafkan aku kembali?" ucap Aldalin sambil menatap langit-langit malam.

__ADS_1


Pria itu sudah merima kalau Jasmine ingin berpisah darinya, karena dia tahu rasanya bertahan dengan keterpaksaan.


Bersambung.


__ADS_2