
Samudra menghampiri sang ibu yang tengah duduk di bangku tunggu pasien, dengan pandangan kosong. Pria remaja duduk di samping ibunya sambil memegang tangan wanita paruh baya itu.
Tasya menatap wajah sang anak dengan tangisan yang sudah tidak bisa di bendungan lagi, kemudian dia memeluk Samudra dengan penuh haru karena hari ini sudah gagal membawa Jasmine.
"Katakan, Bu?" tanya Samudra dengan sangat lembut sambil mengelus-elus punggung sang ibu, agar wanita paruh baya itu bisa tenang dan menceritakan semuanya.
Tasya melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah sang anak dan mulai menceritakan kejadian tadi, di mana Jasmine sama sekali tidak peduli kalau ayahnya koma di rumah sakit.
Samudra merasa bersedih, mendengar ucapan sang ibu kalau Jasmine tidak mau menemui ayah kandung gadis itu.
"Bu, tenang saja, Samudra akan membawa kak Jasmine datang ke sini menemui ayahnya," janji Samudra pada sang ibu.
Membuat Tasya bergembira, karena Samudra berjanji akan membawa Jasmine menemui sang suami yang tengah koma.
"Terimakasih sayang, ibu tunggu kedatangannya. Kamu tahu bukan kalau ayah ada di dalam sedang koma, sebab itu ibu meminta agar dia datang sekali saja," ucap Tasya dengan sangat lirih.
Samudra menganggukkan kepalanya kemudian bergegas pergi dari sana, karena ingin membujuk sang kakak agar melihat keadaan ayah kandung gadis itu.
Samudra mengendari motor sport miliknya dengan kecepatan tinggi, agar ia bisa segera sampai di mansion. Setelah sampai pria itu langsung berjalan masuk ke dalam menuju kamar sang ayah.
Saat di depan pintu kamar sang ayah, ia tidak langsung mengetuk pintu melainkan menguping pembicaraan Jasmine dan Aldalin. Terdengar mereka tengah berbincang serius karena Samudra tidak jelas mendengar ucapan orangtuanya.
'Apa yang sedang mereka bicarakan, aku tidak bisa mendengarkan karena suara ayah sangat kecil. Begitu juga dengan kak Jasmine,' batin Samudra.
Saat tengah menguping, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan dia terjatuh ke lantai. Sontak membuat Aldalin terkejut. Ya, yang membuat pintu adalah pria itu.
"Samudra, apa yang kamu lakukan?" tanya Aldalin sambil menatap wajah sang anak,dan Samudra bergegas bangun.
"Sebenarnya, Sam ingin membawa kak Jasmine untuk berjalan-jalan agar dia lebih segar," jawab Samudra dusta.
__ADS_1
Karena tidak mungkin dia berkata jujur pada sang ayah atau kakaknya, yang sudah pasti akan menolak keinginannya itu dengan mentah-mentah.
Aldalin menatap ke arah Jasmine yang tengah duduk di sofa sambil melirik ke arah mereka berdua. Kemudian pria itu berkata, "Pergi saja. Tapi, ingat kakakmu itu sedang mengandung."
Samudra menganggukkan kepalanya kemudian dia masuk ke dalam dan duduk di samping sang kakak. Sedangkan Aldalin langsung pergi dari sana menuju kantor karena ada sedikit masalah.
"Ada apa, Sam?" tanya Jasmine dengan sangat lembut sambil menatap wajah sang adik.
Samudra tertawa kecil, agar menutupi alibinya saja. Pria itu mulai menceritakan apa keinginannya dengan dusta, dan Jasmine menuruti keinginan sang adik yang ingin membawanya berjalan-jalan.
"Tunggu di luar, kakak akan berganti baju," ucap Jasmine yang bergegas bagun dari duduknya.
"Siap, Bunda!" Samudra bergegas pergi dari kamar sang ayah menuggu Jasmine di depan rumah.
Jasmine sama sekali tidak merasa curiga pada sang adik, dan mengikuti apa saja keinginan Samudra. Kini ia tengah bersiap-siap berangkat bersama pria remaja itu.
Setelah sampai di luar, ia langsung naik ke tas motor sport milik sang adik dan melingkarkan tangannya di pinggang kekar Samudra. Sontak membuat pria itu terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
"Tangan ini, memangnya harus seperti ini? Maksudnya apa ayah tidak akan marah nanti?" tanya Samudra dengan senyuman manisnya.
Jasmine mencubit pinggang sang adik karena sudah menggodanya tadi, kemudian dia berkata, "Jangan bicara seperti itu lagi, kamu akan tetap menjadi adikku sampai kapanpun itu."
Samudra menganggukkan kepala kemudian mulai melajukan motornya menuju rumah sakit, dengan kecepatan pelan bahkan lebih celat siput berjalan ketimbang motor mahalnya.
Jasmine tahu betul mereka akan ke mana. Namun, dia sama sekali tidak berpikir sang adik akan membawanya menemui sang ayah yang tengah koma.
'Ini seperti jalan menuju rumah sakit? Tapi, kenapa dia membawaku ke RS?' batin Jasmine sambil berpikir.
Gadis itu tidak berani bertanya pada Samudra, karena takut pria itu aman marah padanya karena terlalu banyak bertanya. Sehingga Jasmine hanya diam dan mengikuti sang adik.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah sakit, Jasmine dan Samudra berjalan masuk ke dalam rumah sakit dengan perlahan sambil bergandengan tangan. Gadis itu semakin bertanya-tanya dalam benaknya. Namun, tidak mau protes apa saja yang di inginkan sang adik.
Kini mereka sudah sampai di ruang rawat inap, terlihat ada seorang pria yang terbaring lemah di atas ranjang. Jasmine sama sekali tidak pernah bertemu dengan sosok laki-laki tersebut.
"Sam, dia siapa? Kenapa kita menemuinya?" tanya Jasmine dengan sangat cemas dan takut berada di sana.
Samudra bingung harus menjawab apa. Saat dia hendak menjawab pertanyaan Jasmine datanglah Tasya dan menjawab.
"Dia ayahmu, Nak." Tasya berjalan menghampiri sang anak dan memeluk gadis itu, karena Jasmine hanya diam saja tidak karena sangat terkejut.
"Ayahku?" tanya Jasmine sekali lagi takut dia salah sudah mengira pria itu adalah ayah kandungnya.
Tasya menganggukkan kepala, kemudian memeluk sang anak yang sudah sangat di rindukan sejak lama. Kali ini gadis itu hanya diam menerima pelukan hangat dari ibunya.
'Pelukan ini sangat hangat, apakah aku sudah memaafkan Ibu?' batin Jasmine sambil berpikir.
Gadis itu meneteskan air matanya, kemudian melepaskan pelukan mereka dan berlari memeluk sang ayah yang masih koma.
"Ayah! Jasmine di sini, kenapa? Kalian meninggalkan aku pada ayah Al! Yang selalu menyiksa anak kalian ini!" Jasmine menangis sambil berteriak-teriak. Mencurahkan isi hati yang selama ini di pendam gadis itu.
Samudra menangis sambil memeluk sang ibu. Mereka berdua tidak tahan melihat Jasmine mencurahkan isi hati yang selama ini di simpan sendiri.
"Ayah tahu? Jasmine hamil, anaknya ayah Al karena kesalahan kalian!" Jasmine manggis histeris dan air matanya menetes ke tangan sang ayah.
Jasmine semakin terisak-isak sambil menceritakan semua yang sudah di lalui, bersama dengan Al sampai malam kelam itu. Membuat Tasya pingsang.
Untungnya Samudra sigap menangkap sang ibu. Sedangkan Jasmine masih mencurahkan isi hati pada sang ayah yang sama sekali tidak menggubris ucapannya. Sebab, pria itu tengah koma.
Samudra membawa sang ibu duduk ke sofa dan mengoleskan minyak kayu putih ke hidung ibunya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Ibu sadar juga," ucap Samudra sambil menyantap sang ibu yang sudah sadar.
Bersambung.