
Jasmine baru saja selesai melakukan ritual mandi, kini dia tengah menyisir rambut dan melihat perutnya sudah sangat membuncit. Padahal usia kehamilannya masih memasuki bulan keempat.
Gadis itu bergegas pergi dari kamar menuju kamar ibu mertuanya, yang sudah satu hari ini tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
Saat Jasmine mengetuk-ngetuk pintu kamar sang mertua, matanya melirik ke arah Azam yang baru saja ke luar dari dalam kamar. Kemudian mereka saling menatap satu sama lain.
'Jasmine hatiku ingin sekali memiliki mu. Namun, semuanya tidak akan terjadi sampai kapanpun,' batin Azam.
Pria itu langsung menghampiri Jasmine dan tersenyum manis kepada sang kakak iparnya.
"Malam kakak ipar," sapa Azam dengan sangat lembut dan manis.
Jasmine tersenyum dan tertawa kecil mendengar Azam memanggilnya dengan sebutan kakak ipar. Gadis itu menundukkan wajah dan berkata, "Panggil saja Jasmine, jangan kakak ipar."
Azam menaikan sebelah alisnya kemudian ia menyadari bahwa Jasmine belum sepenuhnya mencintai sang kakak.
'Ternyata dia belum menerima kak Al, apakah aku masih memiliki peluang?' batin Azam.
Jeanine melambaikan tangan agar Azam melihatnya, karena sejak tadi pria itu terus diam saja tidak menjawab ucapannya. Pria itu pun tersadar dan langsung menganggukkan kepala.
"Iya, aku rasa tidak begitu!" Azam menjawab ucapan Jasmine dengan asal, membuat gadis itu merasa heran.
'Apanya yang tidak begitu? Aku tadi, hanya berkata jangan panggil kakak ipar dan dia menjawab dengan kata itu. Seperti tidak nyambung saja,' batin Jasmine.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, karena dia sama sekali tidak mengerti jawaban dari Azam.
"Aku ingin melihat ibu, permisi." Jasmine langsung masuk ke dalam kamar sang mertua, sedangkan Azam bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Bu Jima menatap sang menantu yang baru saja masuk kamarnya, kemudian dia menghampiri gadis itu dan mengelus-elus perut buncit Jasmine.
Gadis itu hanya diam saja, karena dia sangat menyukai orang yang mengelus-elus perut buncitnya. Entah mengapa sejak hamil Jasmine Sanga menyukai hal itu.
"Ada apa, Nak?" tanya Bu Jima sambil membawa Jasmine duduk di sofa.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya ingin melihat keadaan Ibu saja," jawab Jasmine dengan sangat lembut.
Bu Jima dan Jasmine mengobrol bersama dan gadis tersebut menceritakan apa yang akan terjadi besok. Sontak membuat wanita paru paya itu terkejut.
Jasmine lega menceritakan bebannya pada sang mertua, karena dia tidak bisa menahan hal itu sendirian. Berbeda dengan Aldalin yang sama sekali tidak memerlukan curhat pada orang lain.
Dugaan Jasmine itu salah besar, karena saat ini Aldalin Kusnaeni duduk bersama dengan Jhoni mengutarakan isi hatinya. Pria dewasa bertubuh kekar tersebut tidak bisa menahan.
Jhoni sebagai membantu serbaguna dengan mudah otw menemui sang majikan, dan kini ia mendengarkan ucapan dari Aldalin tentang besok di pengadilan.
Jhoni memberikan saran untuk Aldalin, untuk mengikuti apa saja rencana Tasya. Karena dia tahu kalau wanita paru paya itu akan menang dalam keadaan apapun.
"Baiklah, kalau seperti ini," jawab Aldalin yang sudah mendengar pendapat Jhoni sejak tadi.
"Iya Tuan," jawab Jhon.
Aldalin bersedih, karena dia tidak mau sampai Jasmine tinggal bersama dengan Tasya maupun Gilang. Pria itu menyusun rencana agar sang istri tetap bersamanya dan dia mendapat satu ide.
'Aku memiliki rencana, agar Jasmine tetap bersama ku walaupun aku kalah nantinya,' batin Aldalin.
*. *. *
Selama satu jam menunggu, Jasmine tertidur di sofa dengan keadaan duduk. Aldalin masuk ke dalam kamar dan matanya melirik ke arah sofa yang terdapat sang istri di sana.
"Kasihan sekali, pasti dia sedang menunggu aku." Aldalin menghampiri Jasmine dan membawa tubuh gadis itu ke atas tempat tidur, saat dia hendak pergi tangannya di tarik oleh sang istri.
"Jangan pergi, tetaplah di sini," ucap Jasmine dengan sangat lemas. Aldalin menuruti keinginan sang istri, dia langsung menidurkan tubuhnya di samping gadis itu.
Aldalin mengelus-elus rambut Jasmine dengan sangat lembut dan juga mencium puncak kepala gadis itu. Entah mengapa dia sangat mencintai sang istri yang tengah mengandung anaknya.
'Dulu, aku tidak pernah sampai seperti ini saat Tasya mengandung anakku. Berbeda kali ini saat Jasmine hamil,' batin Aldalin.
Aldalin tertidur pulas saat memandangi wajah Jasmine yang kian bersinar, karena sedang mengandung.
__ADS_1
*. *. *.
Samudra berada di ruang rawat inap ayah tirinya, karena sang ibu yang memintanya datang melihat keadaan pria itu. Hatinya tersentuh melihat ayah dari kakaknya sedang kritis seperti ini.
"Samudra, ibu mohon bantu membawa kakakmu ke sini untuk melihat ayahnya yang sedang koma," ucap Tasya dengan sangat lirih.
Samudra memegang tangan sang ibu kemudian berkata, "Samudra akan mencoba itu. Tapi, ibu harus tenang."
Tasya menganggukkan kepala karena dia sangat berharap Jasmine bisa menemui sang suami, dan permintaan Gilang untuk yang terakhir kalinya bisa terpenuhi kalau suaminya itu meninggal dunia.
Samudra tidak tega melihat ayah tirinya terbaring lemah, karena dia juga seorang anak jika Aldalin yang ada di sana mungkin saja ia tidak akan sanggup.
'Sebernya aku tidak menyukai Om itu, karena aku berpikir bagaimana kalau yang ada di sana adalah ayahku?' batin Samudra sambil berpikir.
Samudra memeluk sang ibu dengan sangat lembut, karena dia sudah mulai memaafkan Tasya dan mencoba memperbaiki hubungan mereka.
*. *. *.
Jhoni bersama dengan Nana sedang nonton film Drakor berdua, karena Nandini tidak menyukai film tersebut. Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang tengah menonton.
Nana berada di pangkuan Jhoni, karena pria itu yang memintanya agar sang anak duduk di pangkuannya. Sebab, sejak gadis itu kecil dia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu.
Nana mau saja karena dia juga sangat merindukan ayahnya yang sejak kecil tidak ada untuknya, dan gadis itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bersama sang ayah.
"Ayah, sudah saja menontonnya karena ada adegan itu," ucap Nana sambil memeluk sang ayah, karena tidak ingin melihat adegan pembuahan.
"Baik," jawab Jhoni.
Jhoni langsung mematikan ponselnya, dan menggendong sang anak ke dalam kamar karena hari sudah sangat larut. Ya, mereka berdua menonton di ruang tamu tadi.
Nana sangat bahagia di perlakukan seperti anak kecil oleh sang ayah, walaupun dia sudah besar tetap saja ingin di manja-manja. Jhoni meletakan tubuh sang anak dengan perlahan kemudian mencium puncak kepalanya.
"Selamat malam sayangku," ucap Jhoni dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Malam juga," jawab Nana dengan senyuman bahagia karena sang ayah sangat menyayanginya.
Bersambung.