
Jasmine memberanikan dirinya untuk menatap wajah ibunya Azam, dengan rasa takut sehingga ia hanya diam tidak menjawab.
Sang ibu melirik ke arah perut Jasmine yang membuncit dan memeluk gadis itu dengan sangat lembut.
"Ternyata, anak ibu sudah menikah dan akan segera memiliki anak," ucap Bu Jima dengan sangat bahagia.
Sedangkan Jasmine dan Azam saling menatap satu sama lainnya, dengan sangat terkejut karena ucapan dari bu Jima.
Salah satu tetangga yang dari tadi menguping langsung menghampiri mereka, dengan rasa kepo yang membara.
"Wah, pulang-pergi bawa istri dan calon anak," sambung tetangga bu Jima dengan sangat bahagia.
Bu Jima melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada tetangganya tersebut.
"Terimakasih, anak saya ini mana tahan lama menduda di kota dan dia juga tinggal sendirian di sana," sahut Bu Jima dengan senyumannya.
Azam dan Jasmine semakin tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini, yang mereka bisa lakukan hanyalah diam saja.
"Ya sudah, saya pulang dulu kasihan istri Azam kelelahan," ucap tetangga bu Jima yang berlalu pergi.
"Ayo, masuk menantu ibu," ucap bu Jima sambil menarik tangan Jasmine masuk ke dalam rumahnya.
'Bagaimana ini? Masa iya aku di kira sudah menikah sama wanita hamil itu dan pasti juga sudah memiliki suami,' batin Azam.
Jasmine duduk di ruang tamu yang hanya beralaskan tikar, karena rumah Azam terlihat sangat sederhana.
Azam duduk di samping Jasmine lalu membisikan sesuatu.
"Kita bicara di dalam kamar saja," bisik Azam dengan sangat lembut dan Jasmine menganggukkan kepalanya.
Bu Jima datang sambil membawakan air hangat untuk Jasmine yang sedang mengandung.
"Terimakasih, jangan repot-repot biar Jasmin ambil saja sendiri di dapur Bu," ucap Jasmine sambil mengambil air dari ibunya Azam.
Bu Jima tersenyum bahagia karena ia mendapatkan menantu yang baik dan sopan seperti Jasmine.
"Nama yang cantik, seperti orangnya," sahut Bu Jima dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah sejak tadi.
__ADS_1
"Bu, kami masuk ke dalam dulu kasihan Jasmin sedang hamil muda," sambung Azam dengan sangat lembut dan Bu Jima menganggukkan kepala.
"Jasmin masuk ke dalam kamar dulu. Ya Bu," pamit Jasmine dengan sangat sopan kepada Bu Jima.
"Iya," jawab Bu Jima yang menatap kepergian anak dan menantunya.
Setelah sampai di dalam kamar, mereka berdua langsung menutup pintu kamar dan juga menguncinya lalu duduk di ranjang Azam.
"Maaf bagaimana ini, aku bingung menjelaskan semuanya kepada ibu dan warga sini. Jika mereka tahu kita tidak menikah maka mereka akan menikahkan kita detik itu juga," ucap Azam dengan sangat bingung saat ini.
"Kak Azam, biarkan saja seperti ini karena aku tidak memiliki suami," ungkap Jasmine, membuat Azam membuka mulutnya lebar-lebar karena sangat terkejut.
"Lalu anak ini?" tanya Azam sambil menunjuk ke arah perut Jasmine yang membuncit.
Jasmine tidak menjawab dan mala menangis tersedu-sedu sehingga Azam panik, ia takut tangisan gadis itu akan terdengar di telinga sang ibu.
Sehingga Azam langsung memeluk Jasmine agar gadis itu bisa tenang dan berhenti menangis.
"Ceritakan saja padaku, karena aku akan mendengarkan ceritamu," ucap Azam dengan sangat lembut agar Jasmine mau bercerita padanya.
Jasmine mulai menceritakan semuanya pada Azam dari dirinya menjual dirinya sampai ia hamil, dan ternyata ia hamil anak ayahnya sendiri yang membuatnya bingung saat ini.
Azam sangat terkejut mendengar cerita Jasmine ia merasa sangat kasihan kepada gadis itu.
"Tenanglah di sini, karena aku dan ibu akan menyayangi sebagai keluarga. Walaupun kita harus berpura-pura menjadi suami-istri," ucap Azam.
Jasmine teringat saat Azam mengelus-elus perutnya saat di dalam bus, jika Azam mengatakan jika dirinya memiliki istri.
"Bukankah kakak sudah memiliki istri?" tanya Jasmine dengan sangat berani.
"Dia sudah meninggal saat melahirkan anakku, dan anakku juga ikut bersamanya," jawab Azam yang terlihat bersedih saat ia mengingat kejadian itu.
"Maaf, jika aku membuat kakak bersedih," ucap Jasmine dengan sangat lembut.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kamu istirahat saja pasti kamu lelah akan perjalanan yang panjang tadi," ucap Azam yang mulai beranjak dari duduknya.
"Terimakasih, atas semuanya kak," ucap Jasmine lalu Azam menganggukkan kepalanya dan bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
Azam mulai berjalan menuju belakang rumahnya yang di penuhi oleh pepohonan yang berbuah lebat, ia mulai mengambil keranjang dan mengambil beberapa buah mangga dan buah jambu Jamaika.
Ia juga mengambil buah jeruk yang sudah masak untuk Jasmine, karena ia tahu jika wanita hamil akan suka dengan buah.
Setelah mencuci buah-buahan ia meletakkannya di meja makan, lalu kembali ke belakang untuk mengambil sayuran yang segar.
Yang di tanam sendiri oleh ibunya, setelah itu mencuci semua sayuran dan meletakkan di dapur, setelah itu ia mengambil ember dan membawanya menuju kolam ikan yang ada di samping rumah.
Walaupun ia sudah satu tahun tidak berada di rumahnya, semua yang ada di rumah masih terawat dan terjaga di sini. Termaksud ikan mas yang di peliharaannya sudah besar-besar.
Azam menangkap tiga ekor ikam mas dan membawanya ke dapur, agar sang ibu bisa langsung memasak makanan untuknya.
Bu Jima datang ke dapur dan melihat jika anaknya sudah menyiapkan bahan masakan, ia langsung bergegas untuk memasak makanan untuk menantunya dan anaknya.
"Zam, di depan rumah buah delima banyak sekali mungkin ada yang matang, jika ada ambilkan untuk Jasmine," pinta Bu Jima.
"Baik," jawab Azam yang bergegas pergi menuju luar untuk melihat ada buah delima yang matang atau tidak.
Saat ia tengah memetik buah delima, ada sahabatnya menghampirinya.
"Azam, sudah lama sekali tidak bertemu," ucap laki-laki tersebut sontak membuat Azam menoleh.
"Lalu kau ingin aku seperti apa?" tanya Azam sambil memegang dua buah delima yang masak
"Tidak ada, sejak kapan kau menyukai buah delima?" tanya Amit dengan sangat heran melihat perilaku Azam.
"Karena istrinya lagi hamil!" sahut tetangga Azam yang sejak tadi sudah menguping.
"Azam, kau menikah tidak memberitahu ku sama sekali," ucap Amit sambil menatap wajah Azam yang terlihat biasa saja tanpa ekspresi.
"Sudah, banyak sekali ceritanya sampai aku tidak bisa bercerita padamu saat ini," sahut Azam dengan sangat cuek dan juga tanpa ekspresi wajahnya.
"Ya sudah, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita semuanya," ucap Amit yang tersenyum manis kepada sahabatnya tersebut.
Lalu mereka berpelukan dengan sangat lama untuk menghilangkan rasa rindu yang sudah sangat dalam.
Bersambung.
__ADS_1