Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 40 Pernikahan.


__ADS_3

Pada pagi hari ini, Jasmine sudah selesai dengan balutan busana yang sangat indah. Ia terlihat sangat cantik saat ini karena makeup yang menambah tampilannya.


Jasmine sudah berada di gedung pernikahan bersama dengan Nana, dan juga keluarga Nana karena ia tidak memiliki keluarga.


Walaupun sebenarnya ia memiliki kedua orang tuanya akan tetapi, sama sekali tidak memberitahu tentang pernikahannya kepada kedua orang tuanya. Karena dia berfikir jika dirinya sama sekali tidak pernah melihat kedua orang tuanya.


'Bukannya aku ingin membenci mereka, akan tetapi, apa yang aku alami saat ini karena ulah keegoisan meraka berdua,' batin Jasmine.


"Kak Jasmine, kamu sangat cantik." Nana mendekati Jasmine yang berada di depan meja hias bersama, dengan seorang MUA yang sedang merapikan penampilannya.


Jasmine tersenyum lalu ia memegang tangan Nana, dia sudah menganggap Nana sebagai adiknya sejak pertama kali bertemu dengannya.


"Terimakasih, aku sudah menganggap mu sebagai adikku sendiri sejak kita bertemu," sahut Jasmine dengan sangat lembut.


Nana tersenyum dan memeluk Jasmine dengan erat, karena ia juga sudah menganggap Jasmine sebagai kakaknya.


*


*


Johni bersama dengan Nandini sedang melihat apakah semuanya lancar, karena setelah Aldalin tiba, ia langsung mengutus penari khas kota A menari sebelum Aldalin memasuki ruangan.


Johni mengubah semua acara yang akan di adakan hari ini, karena pernikahan Aldalin kali ini ia akan membuatnya, seperti pernikahan asal kota A.


"Semuanya siap, pastikan para penari sudah siap karena tuan Aldalin sebentar lagi tiba," ucap Jhoni pada semua anak buahnya.


Nandini tersenyum bahagia, saat ia melihat suaminya sudah sangat sukses sekarang, lain halnya dengan dulu Jhoni hanya seorang ojek yang hidup pas-pasan.


'Aku menyesali semuanya, andai saja aku tidak meninggalkan Jhoni. Mungkin saja dari dulu aku bahagia tanpa harus sakit-sakitan seperti ini,' batin Nandini.


*


*


Aldalin bersama dengan keluarga sedang di perjalanan menuju gedung pernikahan, meraka semuanya sama-sama diam di dalam mobil.


Samudra diam karena ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, untuk membatu Jasmine yang tidak mau menikah dengan ayahnya.

__ADS_1


Sedangkan Azam, masih tidak bisa menerima kenyataan jika wanita yang ia cintai harus menikah dengan kakaknya.


Bu Jima diam karena ia merasa sangat bahagia melihat anak sambungnya menikah, walaupun ini bukan pernikahan pertama buat Aldalin.


Sedangkan Aldalin, terdiam karena banyak sekali yang ia pikirkan saat ini menjadi satu.


'Semoga saja semua lancar, masalah perasaan dan hati Jasmine bisa belakangan. Yang terpenting saat ini aku harus tetap menikahinya,' batin Aldalin.


Setelah rombongan Aldalin sampai mereka langsung di sambut dengan tarian khas kota A yang sangat indah.


Aldalin tersenyum kepada Jasmine yang ada di hadapannya, karena ia melihat wajah Jasmine seperti seorang Barbie.


'Dia terlihat cantik, sama saat aku menikahi ibunya dulu. Ah, mengingat masa lalu membuat aku sakit akan pengkhianatan mereka,' batin Aldalin.


Azam sangat terpana akan kecantikan Jasmine saat ini, ia sama sekali tidak berkedip sedikitpun saat melihat gadis itu.


'Jasmine, andai saja kita bertemu lebih awal. Pasti aku akan menikahi mu dan aku yang ada di sana,' batin Azam, sambil menatap ke arah pelaminan.


Setelah selesai acara tarian khas Kota A, mereka semua langsung berjalan menuju ruang pernikahan.


Jasmine bersama dengan Aldalin sudah resmi menjadi suami-istri, kini mereka duduk di pelaminan sambil menyambut kedatangan rekan bisnisnya.


"Senang mengenal mu," ucap Samudra sambil tersenyum manis kepada Nana.


Nana juga membalas senyuman Samudra, karena ia mengaggap Samudra pria paling tampan di muka bumi ini.


"Aku ingin berkenalan lebih dekat lagi dengan mu," ucap Samudra sambil tersenyum manis kepada Nana.


"Ya sudah, aku juga tidak melarang mu," sahut Nana dengan sangat lembut.


Samudra tersenyum, tanpa mereka sadari ternyata Azam melihat mereka berdua. Azam tersenyum kemudian ia menggelengkan kepalanya.


'Anak itu ada-ada saja, semoga mereka bisa bersahabat dengan baik,' batin Azam.


Samudra tersenyum, kemudian mereka melanjutkan kembali cerita mereka dengan sangat bahagia.


Sedangkan Azam berada di atas gedung sambil duduk menatap ke arah bawah gedung. Entah mengapa ia merasa hidup tapi mati saat ini.

__ADS_1


"Hidup ini keras, saat aku mulai mencintai ... dia malah menikah dengan orang lain," ucap Azam dengan lirih.


Kemudian ia mulai berlalu pergi dari atas gedung, i berjalan menuju ke tempat acara pernikahan Aldalin dan Jasmine.


Sesampainya di sana ia melihat Aldalin dan Jasmine yang akan segera pergi.


Aldalin membawa Jasmine pergi dari gedung pernikahan, karena acara telah usai dan semua orang juga sudah bubur.


Aldalin dan Jasmine berada didalam mobil berdua saja, menuju mansion untuk segera beristirahat. Sesampainya mereka di mansion.


Jasmine di bawa ke dalam kamar Aldalin, ia hanya diam saja karena tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ia harapkan Aldalin tidak menidurinya lagi.


"Jasmine, berganti baju saja setelah itu beristirahat pasti kamu lelah," ucap Aldalin dengan lembut.


"Iya Ayah." Jasmine langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Aldalin menaikkan sebelah alisnya, karena Jasmine masih saja memanggil dirinya dengan sebutan ayah.


"Ayah, dari anak-anaknya mungkin," ucap Aldalin sambil tersenyum simpul.


Sesampainya di dalam kamar mandi. Jasmine terdiam dengan semua kejadian yang masuk ke dalam pikirannya.


"Aku yakin, jika ibu tahu aku menikah dengan ayah. Mengapa mereka tidak datang, ya?" pikir Jasmine.


Jasmine mulai menggosok setiap inci tubuhnya, setelah selesai mandi ia mengambil handuk kimono yang ada di dalam kamar mandi.


Jasmine keluar dari kamar mandi, ia hanya menggunakan handuk kimono saja kemudian melihat, kalau Aldalin sudah menyiapkan piyama untuknya. Perlahan mendekati Aldalin.


"Ayah, apa Jasmine harus mel-" terputus karena Aldalin langsung memotong ucapannya.


"Beristirahat saja, aku ingin merubah diriku ini. Aku ingin menjadi laki-laki yang baik seperti dulu, untuk kamu dan anak kita, aku tahu jika diriku ini banyak salah padamu.Tapi, tolong maafkan aku kita menjalani hidup baru bersama."


Jasmine terdiam kemudian memeluk Aldalin, ia merasakan nyaman berada di dalam pelukan Aldalin. Walaupun masih saja mengaggap Aldalin sebagai ayahnya bukan suaminya.


"Maafkan Jasmine, Ayah." Jasmine menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Aldalin.


Sehingga Aldalin juga ikut menangis. Entah mengapa sejak kehamilan Jasmine ia merasa seperti seorang wanita. Yang suka menangis dan sedih tanpa Sebab.

__ADS_1


'Walaupun aku tahu Jasmine tidak akan bisa menerima aku sebagai suaminya, aku akan tetap menjadi suaminya, bukan sebagai ayahnya,' batin Aldalin.


Bersambung.


__ADS_2