Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 69 Kota B


__ADS_3

Satu kelas tertawa mendengar ucapan Difa, dan Azam benar-benar sangat malu dia langsung menarik tangan gadis itu ikut bersamanya.


"Om, kita mau ke mana?" tanya Difa sambil terus mengikuti langkah Azam.


Azam tidak menggubrisnya dan terus berjalan, menuju taman kampus kemudian duduk di sana.


"Ada apa Om?" tanya Difa dengan sangat santai.


Seperti tidak bersalah sedikitpun, sedangkan Azam menatap jengkel pada gadis itu yang sudah membuatnya sangat malu.


"Dasar kamu. Ya, sudah membuat aku malu dan sekarang seperti orang yang tidak berbuat apapun," jawab Azam ketus.


"Ya elah, Om ... cuma gitu doang marah," ucap Difa dengan entengnya.


Azam membuka mulut lebar-lebar, mendengar ucapan gadis itu yang tidak menganggap hal tadi serius.


"Cuma?" tanya Azam dan Difa menganggukkan kepala.


Gadis itu beranjak bangun. Namun, tangannya di tarik oleh Azam masuk ke dalam pelukannya.


"Lepaskan!" jerit Difa.


Azam tidak menggubrisnya dan semakin erat memeluk gadis itu.


"Kalau kamu bilang tadi cuma. Sekarang tidurkan lagi anakku," bisik Azam di telinga Difa.


Gadis itu bergidik ngeri membangkang hal tersebut. Walaupun dia belum menikah akan tetapi, sedikitnya dia tahu apa yang di maksudkan oleh Azam karena pernah menonton film dewasa bersama Jasmine dulu.


'Apa maksudnya menidurkan anaknya, adalah itu? Kalau benar, habislah aku. Wanita di bawah dan pria di atas,' batin Difa bergidik ngeri.


Azam melepaskan pelukannya karena melihat Difa menggelengkan kepala, dan dia sudah tahu pasti gadis itu berpikiran kotor.


"Jangan berpikir kotor. Ya!" Azam bergegas pergi dari sana meninggalkan gadis itu sendirian.


Difa menatap kesal pada Azam, dan dia mengikuti langkah pria itu dari belakang.


"Dasar laki-laki aneh, dia yang memulainya kok," gumam Difa sambil berjalan masuk ke dalam kelas.


*


*


*

__ADS_1


Jasmine dan Aldalin sudah sampai di kota B, dan kini mereka berada di villa yang Aldalin punya. Mereka berdua masuk ke dalam kamar dan menidurkan tubuhnya karena sangat lelah.


"Mas Al, kenapa tadi kita tidak naik Jet pribadi saja?" tanya Jasmine dengan sangat lembut.


Aldalin membalikkan badannya dan menatap wajah Jasmine dengan sangat lekat, kemudian mencium puncak kepala gadis itu.


"Karena aku ingin kita seperti orang pada umumnya," jawab Aldalin dengan sangat lembut.


Jasmine tersenyum dan langsung masuk ke dalam pelukan Aldalin, dan dia menghirup aroma tubuh sang suami yang membuatnya sangat tenang.


'Tenang sekali aku, andai saja aku dan ayah seperti ini saat aku menjadi anaknya,' batin Jasmine.


Gadis itu masih saja menganggap Aldalin seperti ayahnya, walaupun mereka sudah menikah dan melakukan hal itu sampai dirinya hamil.


"Jasmine, ayo kita mandi setelah itu makan siang," ucap Aldalin dengan sangat lembut.


Jasmine menganggukkan kepala dan beranjak bangun. Namun, gadis itu menghentikan langkah saat melihat Aldalin juga ikut bersamanya.


"Ada apa?" tanya Aldalin sambil menaikkan sebelah alisnya melihat Jasmine menatap dirinya.


"Apa kita mandi bersama?" tanya Jasmine balik.


Aldalin tersenyum dan kembali duduk di bibir ranjang sambil mempersilahkan Jasmine mandi terlebih dahulu, dan gadis itu bergegas masuk ke dalam tanpa membawa handuk.


"Walaupun sedikit jahat. Tapi, aku senang menggodanya, dan lagi pula kami juga sudah menikah dan akan memiliki anak," ucap Aldalin girang.


Jasmine merasa sangat malu membangkang dirinya mandi berdua bersama sang suami, dan hal itu tidak akan terjadi karena dia tidak mau.


"Jasmine, jangan berpikir yang bukan-bukan seperti itu," gumam Jasmine sambil terus menggosok setiap inci tubuhnya.


Setelah selesai mandi, Gadis itu membuka mata lebar-lebar mengingat dia sama sekali tidak membawa handuk.


"Ya ampun, aku lupa membawa handuk. Bagaimana ini?" Jasmine berpikir keras bagaimana caranya ke luar.


Sampai satu cara masuk ke dalam pikirannya. Gadis itu berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.


"Mas Al! Bisa ambilkan handuk!" jerit Jasmine dari dalam kamar mandi.


Aldalin tersenyum penuh kemenangan, dan membawa handuk pendek itu menuju Jasmine. Dia langsung memberikan pada sang istri dan tetap berada di tempat.


"Terimakasih Mas Al!" Jasmine menutup pintu kamar mandi dan langsung mengenakan handuk.


Lagi-lagi dia membuka mata lebar-lebar, melihat handuk tersebut hanya menutupi bawah gua miliknya.

__ADS_1


"Astaga! apa lagi ini?" Jasmine menatap dirinya lewat cermin dan melihat dirinya sangat seksi.


Perut buncitnya yang membuat handuk itu terlihat pendek, dan dia ragu-ragu untuk ke luar karena ada sang suami di dalam kamar.


"Jasmine ke luar, mas mau masuk!" teriak Aldalin dari luar dengan sengaja agar sang istri ke laur.


Tidak ada pilihan lain, Jasmine langsung berjalan ke luar dari kamar mandi dan Aldalin tidak berhenti menatap sang istri.


Tubuh mulus san ramping yang Jasmine miliki walaupun dia tengah hamil tua, hal itu membuat Aldalin sangat bergairah.


"Katanya mau mandi," ucap Jasmine dengan cepat karena takut melihat sang suami terus menatapnya.


"Iya." Aldalin bergegas masuk ke dalam dan Jasmine langsung cepat-cepat memakai baju.


Setelah selesai mengunakan baju, Jasmine merapikan penampilannya kemudian menyiapkan baju sang suami dengan rapi.


"Bagaimana jika ayah memintaku untuk melayaninya? Apa aku harus melakukannya?" tanya Jasmine pada diri sendiri.


Gadis itu takut membayangkan hal itu saat pertama kali melakukannya bersama Aldalin dulu, walaupun hal itu tidak di senagaja tetap saja Jasmine merasakannya.


Jasmine masih ingat betul setiap sentuhan dari Aldalin malam kelam itu, walaupun kejadian itu sudah lama dia masih mengingatnya secara detail.


Aldalin masih menggosok setiap inci tubuh, dia juga menyukur bulu-bulu halus yang tubuh di sekitar pisang ambon miliknya.


"Pisang kenapa kamu bangun. Bagaimana caranya agar aku bisa menidurkan mu lagi?" tanya Aldalin pada dirinya sendiri.


Pria itu bergegas menyelesaikan ritual mandinya yang bergegas masuk ke luar dari dalam kamar mandi. Setelah ke luar dia melihat sang istri sudah menyiapkan bajunya.


Aldalin pun berjalan mendekati Jasmine dan mengecup kening sang istri, kemudian ke wajahnya dan berhenti tepat di bibir gadai itu.


Aldalin langsung melahap benda kenyal itu tanpa izin dari sang pemilik. Mereka berdua seperti tersengat listrik saat melakukan hal itu.


Jasmine merasakan hal seperti malam itu lagi, dan dia hanya diam menikmati setiap sentuhan dari Aldalin.


Cukup lama Aldalin melahap bibir ranum Jasmine, sehingga gadis itu kehabisan oksigen dan dia menghentikan lajunya.


"Mas Al ki-" terputus karena Aldalin langsung melahap bibir ranum itu lagi.


Jasmine hanya diam karena dia juga menginginkan hal itu. Aldalin berlahan melepas pengaman gunung kembar kenyal milik sang istri dan mere-mas benda tersebut.


...Bersambung....


Gimana ni? Lanjut gak? Aldalin jenguk anaknya? 😁

__ADS_1


__ADS_2