Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 85 Pemakaman


__ADS_3

Samudra mambawa tubuh Nana masuk ke dalam, membuat Jasmine dan Aldalin terkejut. Sebab, anaknya pulang bersama seorang wanita.


"Sam, ada apa?" tanya Jasmine dengan cemas, melihat Nana tidak berdaya.


Samudra meletakan tubuh Nana di kamar tamu, kemudian duduk sambil mengatur nafasnya.


"Kak Jasmine ibunya Nana meninggal," jawab Samudra.


Membuat semua orang di sana terkejut, termaksud Bu Jima yang sangat terpukul adiknya meninggal.


Sehingga wanita paru paya itu terjatuh ke lantai dengan keadaan lemas, dan Azam langsung menghampirinya.


"Bu tidak apa-apa?" tanya Azam dengan sangat cemas melihat sang ibu terjatuh.


Aldalin menghampiri ibu tirinya dan membantu sang ibu berjalan menuju ruang tamu, dan duduk di sofa.


"Bersiaplah, kita semua akan datang ke pemakaman ibunya Nana," ucap Aldalin sambil bergegas pergi.


Jasmine mengikuti langkah sang suami, karena dirinya ingin bersiap-siap untuk pergi ke pemakaman ibunya Nana.


Bu Jima menangis sambil berjalan menuju kamarnya yang di bantu oleh Azam, karena mereka ingin bersiap-siap.

__ADS_1


.


.


Jasmine berganti baju bersama Aldalin, mereka mengunakan baju serba hitam dan bergegas ke luar dari dalam kamar.


Sesampainya meraka di ruang tamu, di sana belum ada siapa-siapa. Sehingga Aldalin memutuskan untuk menunggu di dalam mobil bersama Jasmine.


"Mas Al, kasihan sekali om Jhoni," ucap Jasmine lirih sambil berjalan masuk ke dalam mobil.


Aldalin juga sedih, karena dia berpikir kalau seandainya Jasmine pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Bagaimana dengannya tetap bertahan hidup?


"Sudahlah, jangan terlalu di pikiran. Ingat kamu sedang mengandung anak kita yang sebentar lagi akan melihat dunia ini," jawab Aldalin.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Aldalin pada sang ibu dan Bu Jima menganggukkan kepalanya.


Supir Aldalin langsung mengemudikan mobil menuju pemakaman ibunya Nana, karena tadi dia sudah bertanya pada Jhoni ada di mana saat ini sang asisten.


Selama di perjalanan, semua hanya diam dalam pikiran masing-masing sampai mereka tidak di pemakaman ibunya Nana.


Di sana terdapat banyaknya papan buangan dari Aldalin dan rekan bisnisnya yang lain, atas turut berdukacita yang mendalam untuk Jhoni.

__ADS_1


Semua orang turun dari mobil, dan berjalan menuju pemakaman dan terlihat Jhoni sangat rapuh di sana sambil memandangi kepergian sang istri.


Aldalin menghampiri Jhoni dan memeluk sang asisten, yang sudah mengabdi padanya dengan sangat baik selama ini.


"Jhon, sabar jangan terlalu larut dalam memikirkan tentang kepergian Nandini," ucap Aldalin dengan pelan.


Jhoni tersenyum kemudian dia berkata, "Terimakasih Taun, Anda sangat baik pada saya selama ini."


Semua orang yang ada di sana terharu melihat Aldalin dan Jhoni, kemudian memulai acara pemakaman Nandini.


Hati Jhoni seakan hancur berkeping-keping, melihat kepergian sang istri untuk selamanya. Padahal, mereka baru saja bersama setelah berpisah.


'Kenapa tuhan mengambil Nandini begitu cepat? Padahal, aku masih rindu padanya sejak perpisahan kami belasan tahun lalu,' batin Jhoni lirih.


Pria itu menahan tangisnya, agar tidak pecah karena dia tidak ingin Nandini bersedih saat melihatnya menangis.


'Kamu pasti bisa Jhoni,' batin Aldalin.


Aldalin sedih melihat Jhoni menahan tangis, dan dia menjauh dari sang asisten kemudian mendekati Jasmine dan memeluk sang istri.


"Kalau lelah, kamu duluan saja masuk mobil, nanti aku menyusul," bisik Aldalin di telinga Jasmine.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum dan bergegas pergi dari sana, karena perut yang sudah membesar membuatnya kelelahan kalau berdiri terlalu lama.


...Bersambung....


__ADS_2