
Aldalin mempercayai ucapnya Jasmine, karena saat ini ia sedang berbahagia karena akan mendapat apa yang di inginkan.
"Bersiaplah, kita akan ke hotel!" ucap Aldalin dengan ketus membuat Jasmine terkejut. Bukan ucapan ketus yang mengejutkan gadis itu. Akan tetapi, kata hotel sangat mengejutkannya
"Hotel?" tanya Jasmine.
"Iya, sudahlah jangan banyak bertanya kau ingin bebas atau tidak dariku?" Aldalin langsung bergegas pergi dari sana.
Jasmine tersenyum bahagia karena dirinya akan segera bebeas dari sang ayah, dan juga berfikir jika ibunya dangan untuk menjemputnya malam ini.
"Bebas? Aku akan bebas dan merasakan hidup bahagia bersama dengan anakku?"
Jasmine merasakan nyeri di hatinya saat mengingat kejadian kelam satu malam bersama sang ayah, dan mengelus dadanya sambil membereskan barang-barang, saat ia mengemasi asesorisnya tidak sengaja menjatuhkan anting.
Ya, anting tersebut hanya sebelah karena yang sebelah terjatuh di hotel saat dirinya bermalam bersama sang ayah.
Setelah selesai berkemas-kemas kini Jasmine sudah bersiap dengan koper besar yang ia bawa, dan berjalan mendorong kopernya menuju ruang tamu di sana dia bertemu dengan Bi Sinta.
"Non!"
Bi Sinta berlari memeluk Jasmine karena ia sudah tahu jika gadis itu akan pergi dari mansion.
"Bi, jangan bersedih bukankah kita masih bisa bertemu lagi?" tanya Jasmine sambil melepaskan pelukannya, lalu meneteskan air mata dengan sangat deras.
"Iya, Non jaga diri baik-baik," pesan Bi Sinta kepada Jasmine dan ia mengangguk kepala.
Aldalin datang dengan tampilan yang sangat rapi dan wangi malam ini, karena akan bertemu dengan mantan istrinya dan bermalam dengannya.
Tiba-tiba saja hati Jasmine terasa nyeri saat melihat sang ayah, entah mengapa ia merasa tidak mau berpisah dari ayahnya. Walaupun dia tahu tidak akan bahagia saat bersama ayahnya.
'Aku harus bisa melupakan ayah. Karena aku sedang hamil dan harus pergi sejauh-jauhnya dari sini,' batin Jasmine.
"Dimana, Sam?" tanya Aldalin kepada Bi Sinta.
Jasmine juga baru ingat jika sang adik tidak terlihat sama sekali, sehingga ia bersedih tidak bisa melihat wajah adiknya.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, dia di mana Tuan," jawab Bi Sinta sambil menundukkan wajahnya.
"Anak itu, ada apa dengannya sudah beberapa hari ini dia sama sekali tidak terlihat." Aldalin bergegas berjalan menuju luar.
"Bi, saya permisi dulu."
Jasmine melambaikan tangannya, dan berjalan mengikuti langkah sang ayah sampai di luar.
Jasmine berhenti sejenak di depan pintu mobil, karena ia merasa sangat lelah membawa koper yang lumayan besar. Jhoni menghampiri Jasmine lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Jasmine.
"Saya akan membantu kamu, karena malam ini adalah malam jebakan untuk tuan. kamu ikuti saja saya nantinya atau kamu akan dalam masalah," bisik Jhoni di telinga Jasmine.
Jasmine membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat wajah Jhoni yang sangat serius padanya.
'Ya ampun, bagaimana ini? Aku harus berbuat apa?' batin Jasmine sambil berfikir.
Jhoni membawa koper milik Jasmine dan memasukannya ke dalam bagasi, lalu ia dan gadis itu masuk ke dalam mobil mereka duduk di depan berdua, sedangkan Aldalin di belakang seorang diri.
"Jhon, apa anak buah kita ada di sana? Untuk menangkap mereka berdua jika menjebak ku?" tanya Aldalin dengan sangat tegas. Jhoni tersenyum sambil melajukan mobil menuju hotel.
"Sudah, semuanya sudah saya siapkan Tua," jawab Jhoni sambil melirik ke arah Jasmine yang ada di sampingnya.
"Mereka kira aku bodoh, mana ada seorang Aldalin Kusnaeni di bohongin!" seru Aldalin sambil menatap ke arah Jasmine dari spion mobil.
'Jika ayah sudah tahu, lalu? Untuk apa aku juga ikut dengannya menemui ibu dan suaminya itu?' batin jasmine sambil berfikir.
"Tuan, tenang saja karena saya dan anak buah sudah berkumpul di hotel itu tidak akan ada yang curiga sama sekali," ucap Jhoni sambil melirik ke arah Big Bos-nya dari kaca spion.
"Bagus, kau adalah kaki tangan ku yang sangat aku percayai," sahut Aldalin dengan wajah yang tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
Jasmine hanya diam saja karena tidak tahu harus berbuat apa saat ini, karena ia sangat takut akan apa yang terjadi padanya nanti.
Setelah mereka sampai di hotel mereka bertiga turun dan lagi-lagi Jhoni mendekati Jasmine, ia mulai membisikan sesuatu di telinga gadis itu tanpa sepengetahuan dari Aldalin.
"Kamu pastikan harus berada didekat saya saja, karena saya sangat tahu apa yang akan di lakukan oleh tuan," bisik Jhoni dengan sangat lembut.
__ADS_1
Jasmine menganggukkan kepalanya lalu berjalan di samping Jhoni, karena ia juga takut akan apa yang terjadi nantinya karena ulah dari sang ibu.
Lagi-lagi ibunya membuat ulah dan ia harus menanggung dengan pasrah.
Jasmine berjalan sambil terus berfikir bagaimana dengan dirinya selanjutnya, sehingga ia tidak fokus berjalan sehingga dan menabrak seseorang.
Bruuk!
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Jasmine yang membantu laki-laki tersebut bangun dan mereka saling menatap.
"Jasmine!"
"Ha, kau di sini? Maaf aku buru-buru," ucap Jasmine yang bergegas pergi bersama dengan Jhoni.
Laki-laki tersebut hanya menatap kepergian Jasmine bersama dengan seorang laki-laki dewasa.
"Apa ini alasannya dia menolak ku? Karena dia sudah menjadi simpanan laki-laki tua," ucap laki-laki tersebut sambil terus berjalan.
Jhoni berjalan dengan perlahan bersama dengan Jasmine, rasa penasaran pada laki-laki tadi membuatnya ingin bertanya-tanya pada gadis itu.
"Jasmine, siapa laki-laki tadi?" tanya Jhoni yang menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Jasmine.
"Hanya teman lama saja, kami tidak memiliki hubungan apapun Om," jawab Jasmine. Ya dia memang memanggil Jhoni dengan sebutan Om, karena umur pria itu sama dengan ayahnya.
"Oh, kita masuk ke dalam kamar ini dan ingat pesan saya tadi," pinta Johni yang bergegas masuk ke dalam.
Jasmine mengikut langkah Jhoni masuk ke dalam di sana sama sekali tidak ada orang.
"Loh, di mana semua orang?" tanya Jasmine sambil menatap seluruh ruangan yang kosong.
"Tunggu saja, mereka masih ada di kamar satu lagi ingat! Jangan berjauhan dari saya karena saya tahu apa yang akan terjadi nantinya," jawab Jhoni dan Jasmine menganggukkan kepalanya.
'Tuhan, lindungilah aku dan bayiku. Semoga s
tidak terjadi sesuatu kepadaku dan bayiku,' batin Jasmine.
__ADS_1
Jasmine ******* ***** ujung bajunya karena ia merasa sangat takut saat ini, dan Jhoni dapat melihatnya kecemasan gadis itu melalui ekspresi wajahnya.
Bersambung.