
Pada pagi ini tidak seperti biasa, Jasmine harusnya membuatkan sarapan sang ayah. Namun, ia mendapat kabar dari Samudra jika ayahnya keluar kota untuk satu bulan ke depan.
Entah mengapa, Jasmine merasa tidak senang saat mendengar kepergian sang ayah. Ia mala merasa sedikit bersedih karena tidak bisa melihat ayahnya dalam satu bulan ke depan.
"Seharusnya aku senang, kenapa aku bersedih? Karena kepergian ayah," ucap Jasmine dengan lirih.
Entah mengapa, ia merasa tidak bersemangat karena sang ayah tidak ada di sini, ia juga sama sekali tidak bernafsu makan sedikitpun dan berfikir jika dirinya merindukan ayahnya.
*
*
Aldalin sampai di kota J dalam waktu singkat, karena dia berangkat pagi-pagi sekali dengan menggunakan jet pribadinya. Sekarang dia pun sudah berada di kawasan proyek pembangunan mall terbesar di kota J, sebab dia adalah pengusaha properti yang berhasil memenangkan tender proyek pembangunan mall tersebut.
"Al ... " panggil laki-laki tua yang seumuran dengannya, sontak saja membuat Aldalin langsung menoleh.
"Kau lagi. Mau apa kau?!" tanya Aldalin ketus sambil tatapan tajam ke arah Gilang.
"Kumohon, pertemukan aku dan anakku. Karena hidupku tidak akan lama lagi. Ini permintaan terakhir ku," ucap Gilang dengan sangat lirih. Karena sudah beberapa kali ia ingin menemui anaknya. Namun, di cegah oleh Aldalin.
"Itu karma untukmu! karena kau sudah merebut semua kebahagiaan ku! Dan aku tidak akan melupakannya," sahut Aldalin dengan sangat sinis, sambil tersenyum simpul kemudian memegang pundak Gilang.
"Katakan pada Tasya, jika anaknya sudah tidak virgin lagi saat ini dan terutama pada mu, karena anak mu sudah menderita!" seru Aldalin.
Sontak membuat Gilang langsung memegang kerah baju Aldalin, dan juga menatap wajah Aldalin dengan tajam.
"Kenapa kau menyiksanya? Kumohon jangan sakiti dia," pinta Gilang pada Aldlain.
"Cik, kau sudah terlambat. Karena sebelumnya kau tidak berfikir seperti itu dan katakan saja pada istrimu, jika dia mau anaknya selamat, dia harus menemuiku dan bermalam denganku atau aku akan selalu membuat anaknya menderita," ucap Aldalin.
Kemudian Aldalin bergegas pergi dari sana, karena ia sangat malas bertemu dengan musuhnya itu.
"Al, kumohon jangan seperti itu!" teriak Gilang, akan tetapi, Aldalin tidak menggubrisnya dan terus berjalan.
Aldalin duduk di pinggir danau sambil melemparkan batu, kemudian ada seorang anak kecil laki-laki yang menghampirinya.
"Permisi Tuan, apa saya bisa membantu Anda?" tanya anak laki-laki yang umurnya sekitar lima belas tahun.
__ADS_1
Aldalin melirik ke arah anak tersebut lalu menaikan sebelah alisnya, karena ia merasa tidak memiliki masalah yang besar.
"Tapi, saya tidak ada masalah," jawab Aldalin yang menatap wajah anak tersebut dengan sangat dalam.
"Tuan, saya bisa melihat jika Anda akan segera memiliki anak lagi, dan kali ini akan ada sedikit masalah karena Anda sendiri yang memulainya," ucap anak tersebut sambil bergegas pergi.
"Memiliki anak? Sedangkan aku saja tidak memiliki istri atau ... wanita malam itu karena aku tidak memakai pengaman, ya ampun. Bagaimana ini? Mungkin anak kecil itu hanya asal bicara saja," ucap Aldalin yang mencoba untuk melupakan ucapan anak tadi.
*
*
Tiga hari kemudian ...
Hari-hari yang dilalui oleh Jasmine sangat membuatnya tidak bersemangat, dan juga tidak tahu kenapa yang jelas ia merasa sangat merindukan sang ayah.
Jasmine berada di bibir kolam sambil memainkan air menggunakan kaki, ia juga menghela nafasnya dalam-dalam sambil menatap ke arah langit biru.
"Euum, tiga hari saja ayah pergi sudah seperti satu tahun lamanya, apalagi satu bulan ... aku sangat merindukan ayah. Walaupun dia selalu menyiksa ku, " ucap Jasmine dengan lirih.
"Apa ini? Ada yang sedang merindukan ayah rupanya. Seharusnya Kakak bahagia, karena tidak ada ayah di sini?" Sindiran Samudra membuat Jasmine langsung menundukkan wajahnya.
"Aku tahu semuanya, walaupun ayah sering berlaku kasar pada ku, tapi aku tetap sayang padanya seperti saat ini. Aku merindukannya," jawab Jasmine dan air mata yang lolos begitu saja dari kelopak matanya tanpa seizinnya.
"Jangan bersedih, kita akan menelfon ayah melalui video call dan Sam akan mengatur supaya kakak tidak terlihat oleh ayah," usul Samudra, dan Jasmine menganggukkan kepalanya.
Karena Jasmine berfikir jika dirinya sangat bahagia bisa melihat keadaan sang ayah, karena ia sangat merindukan laki-laki yang sudah membesarkannya.
Samudra mulai melakukan panggilan video call dan sang ayah langsung menjawab.
📱Ayah.
[Halo, sayang.]
Seketika, hati Jasmine nyeri mendengar dan melihat laki-laki yang sudah beberapa hari ini di rindukan.
[Halo, apa? Ayah tidak akan pulang lagi? Karena ada yang merindukan Ayah?]
__ADS_1
Samudra melirik kearah Jasmine yang ada di sampingnya.
[Tunggu satu bulan lagi, karena ayah ingin menyelesaikan pekerjaan ini dulu, kamu baik-baik di sana jika uang habis katakan saja!]
Jasmine tersenyum saat melihat senyuman laki-laki yang selama ini tidak pernah tersenyum padanya.
[Siap Ayah!]
Samudra mengangkat tangannya ke udara, dan juga melirik ke arah Jasmine yang terlihat sangat bahagia, saat melihat ayah mereka dari panggilan video call.
[Euum ayah tutup dulu telfonnya, karena masih ada pekerjaan yang sangat penting, bay.]
Jasmine memasang wajah sedih karena layar ponsel Samudra sudah mati dan tidak terlihat sang ayah lagi.
Samudra melihat perubahan raut wajah kakaknya sehingga ia langsung mencubit hidung Jasmine.
"Kak Jasmine, ayah itu pergi hanya satu bulan saja! Bukan selamanya, jangan bersedih seperti itu karena Kak Jasmine terlihat jelek," kekeh Samudra.
'Benar juga, bukankah ayah dulu sering pergi dan jarang pulang lalu? Aku tidak seperti saat ini?' batin Jasmine.
"Benar, mungkin ini karena ... " Jasmine tidak bisa meneruskan ucapannya, karena hampir saja keceplosan.
"Karena?" tanya Samudra.
Jasmine bingung harus menjawab apa sehingga ia bangun dan berlari masuk ke dalam.
"Kak Jasmine!" teriak Samudra.
Jasmine tidak menghiraukan panggilan dari adiknya,sehingga ia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Jasmine duduk sambil mengingat-ingat kembali kejadian malam itu, saat sang ayah memperlakukan dirinya dengan sangat lembut walaupun ia merasakan sakit yang luar biasa.
"Ya ampun, kenapa? Aku jadi seperti ini sih?" tanya Jasmine.
Jasmine langsung membuang pikiran itu, kemudian ia bergegas pergi menuju dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Bersambung.
__ADS_1