
Aldalin bergegas masuk ke dalam mobil, duduk bersebelahan dengan Jasmine. Gadis itu menatap wajah sang suami yang terlihat sangat kesal.
'Aku tidak berani bertanya lagi, dan sebaiknya aku diam saja,' batin Jasmine.
Aldalin masih saja mengingat kembali kejadian tadi saat Tasya bicara, akan membawa hak asuh Jasmine ke jalur hukum. Dia tau bahwa itu akan menjadi masalah jika sampai ke pengadilan.
'Aku akan mencari cara agar dia tidak membawa kasus ini ke pengadilan, kalau itu terjadi maka aku akan mendapatkan masalah besar,' batin Aldalin.
Aldalin menatap wajah Jasmine yang terlihat begitu sedih sejak bertemu dengan Tasya tadi, sehingga dia langsung memeluk sang istri dan juga mencium puncak kepala gadis itu.
Sontak saja Jasmine langsung membuang pandangannya ke arah kaca mobil. Hatinya berdetak kencang saat Aldalin mengelus-elus kepalanya.
"Setelah sampai di rumah, aku ingin bercerita tentang kejadian tadi padamu," ucap Aldalin dengan sangat lembut.
Jasmine menjawab dengan gumam saja, membuat Aldalin langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang istri kecilnya.
"Ada apa?" tanya Aldalin.
Jasmine merasa bingung akan pertanyaan dari sang suami, sehingga dia hanya menggelengkan kepalanya. Hal itu semakin membuat Aldalin penasaran kan dia tahu kenapa gadis itu bersikap dingin padanya.
'Aku tahu dia kenapa, pasti ini gara-gara Tasya yang mengatakan bahwa Jasmine adalah anaknya. Sampai di rumah nanti aku akan bercerita tentang Tasya padanya,' batin Aldalin.
Selama di perjalanan Jasmine hanya diam saja begitu juga dengan Aldalin, karena ia tahu istrinya itu sedang memikirkan tentang Tasya.
Setelah sampai di rumah, Aldalin dan Jasmine langsung masuk ke dalam kamar mereka karena pria itu akan menceritakan kejadian tadi.
Kini pengantin baru itu duduk saling berhadapan dan Aldalin berkata, "Kamu ingin tahu dia tadi siapa, bukan?"
Jasmine langsung menganggukkan kepalanya, karena jujur dia juga sangat penasaran wanita tadi ibunya atau bukan.
"Dia benar-benar ibumu," ungkap Aldalin.
Deg!
Jasmine langsung terdiam, kemudian air matanya mengalir deras membasahi seluruh wajah. Gadis itu bukan bersedih bertemu sang ibu. Namun, mala sebaliknya sangat membenci ibunya sendiri.
__ADS_1
Jasmine tahu kalau wanita tadi adalah ibunya, sebelum Aldalin bercerita. Gadis itu menganggukkan kepala sambil menatap wajah sang suami.
"Jasmine tidak mau bertemu dia lagi, jangan sampai dia menemui kita lagi," ucap Jasmine.
Aldalin menaikkan sebelah alisnya, karena ia mengira kalau Jasmine akan senang bertemu dengan sang ibu, dan gadis itu malah membenci Tasya.
'Bagus, Jasmine akan memudahkan aku agar masalah ini tidak masuk jalur hukum. Aku tidak bisa membiarkan mereka menang dariku,' batin Aldalin.
*. *. *.
Azam merasa sangat bosan berada di kantor karena dia sama sekali tidak mengerti apa-apa, soalnya pekerjaan yang akan berpindah tangan padanya.
Azam memilih pergi dari kantor beralasan ingin membeli sesuatu, kalau tidak anak-anak buah Aldalin tidak akan membiarkan dia pergi.
'Dasar anak buah bodoh, dengan ucapan dusta ku percaya saja,' batin Azam. Pria itu berjalan menuju Swalayan terdekat dan duduk di kantor satpam.
Seorang gadis yang tengah memarkirkan motor langsung menghampiri Azam, karena dia mengira pria itu adalah pemilik Swalayan karena penampilannya.
"Permisi Tuan, apa Anda butuh bantuan?" tanya Difa dengan sangat lembut dan sopan.
Azam langsung menoleh dan memperhatikan penampilan gadis yang ada di hadapannya, dari ujung rambut sampai kaki kemudian berkata, "Saya mau minum."
"Anda tidak masuk, Tuan?" tanya Difa sambil terus menatap wajah pria yang ada di hadapannya.
Azam bangun dari duduknya kemudian memberikan selembar uang berwarna merah, sontak membuat Difa terkejut langsung bertanya.
"Ini untuk apa, Tuan?" tanya Difa sambari memegang uang sari Azam tadi.
"Untuk minuman ini, ambil saja kembaliannya," jawab Azam membuat gadis itu mengerutkan keningnya.
"Bukankah ini, Swalayan milik Tuan?" tanya Difa dengan sangat polos.
Azam tertawa dan memegang kening Difa yang mengeluarkan keringat, kemudian dia memberikan gadis itu sapu tangannya.
"Kalau itu Swalayan milikku, untuk apa aku membayarnya." Azam berucap sambil bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
"Cik, aku tertipu lagi. Hei! Tunggu!" Difa mencoba mengejar Azam. Namun, tidak bisa karena banyak motor yang baru sampai sehingga dia harus mengerjakan tugasnya.
Difa ingin mengembalikan uang Azam karena pria itu hanya membeli minuman senilai lima ribu rupiah, dan uang yang di berikan padanya seratus ribu rupiah.
'Sudahlah, kalau aku bertemu dia lagi maka akan aku kembalikan uangnya ini,' batin Difa.
*. *. *.
Jhoni bersama dengan Nana di mall, karena gadis itu membeli perlengkapan untuk kuliah beberapa minggu lagi. Mereka banyak sekali membeli perlengkapan kuliah dan beberapa barang pribadi.
"Ayah, itu obat apa?" tanya Nana sambil menatap ke arah obat bergambarkan pria dewasa bertubuh kekar, yang ada di tanga Jhoni.
Sontak saja Jhoni langsung menyimpan obat tersebut ke dalam saku celananya, karena takut sang anak mengetahui obat apa itu sebenarnya.
"Tidak ada, ayo kita lanjutkan lagi," ucap Jhoni sambil tersenyum manis kepada sang anak. Nana sama sekali tidak ingin tahu lagi obat apa itu, dia berjalan bersama sang ayah mengelilingi mall membeli apa saja kebutuhannya.
*. *. *.
Aldalin memijat kepala Jasmine, karena tadi gadis itu mengeluh sakit. Dengan sangat sigap dia langsung mengerjakan tugas sebagai seorang suami.
Jasmine tertidur pulas di pangkuan Aldalin, karena pijatan sang suami sangat enak dan pusing yang di rasakan juga sudah hilang.
'Jasmine, aku sangat menyesal sudah memperlakukan mu dengan tidak baik. Kalau saja waktu bisa di putar kembali maka aku akan membuatmu seperti seorang ratu,' batin Aldalin.
Aldalin sangat menyesali perbuatannya dari dulu yang memperlakukan Jasmine dengan sangat buruk. Bahkan, sampai gadis itu hamil di usia yang masih mudah.
*. *. *.
Tasya menangis di samping tubuh sang suami yang tengah terbaring lemah, karena sakit yang di deritanya. Pria itu sangat ingin bertemu dengan anaknya sebelum menghembuskan nafasnya terakhirnya.
"Mas Gilang, aku akan mencari cara agar kita bisa bertemu Jasmine." Tasya menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh sang suami.
Gilang sama sekali tidak menjawab ucapan sang istri, karena dia sudah tidak sadarkan diri sejak dua hari terakhir ini.
"Mas Gilang, bertahanlah demi anak kita karena dia akan menjadi seorang ibu dan kita menjadi nenek dan kakek," ucap Tasya sambil mengingat kembali kejadian tadi saat dirinya melihat perut Jasmine yang membuncit.
__ADS_1
Wanita paru paya itu bertekad untuk menjalankan rencananya, untuk membawa hak asuh Jasmine ke pengadilan agar sang suami melihat sang anak untuk yang terakhir kalinya.
Bersambung.