
Difa menepuk keningnya, karena sudah berbuat hal yang tidak sopan memberikan air bekas miliknya pada orang tua. Sebab, dia tidak tahu kalau mereka sudah berciuman secara tidak langsung.
"Maafkan saya. Ya Om?" ucap Difa yang mengambil kembali air minumnya dari tangan Gilang.
Gadis itu meminum kembali airnya karena merasa sangat haus, sontak membuat Gilang membuka mata lebar-lebar.
"Astaga bocil!" teriak Gilang dengan frustasi.
Difa langsung menatap wajah pria tua itu dan duduk di sampainya. "Ada apa Om?" tanya Difa dengan sangat polos.
"Astaga!" seru Gilang sambil memegang kepalanya yang terasa seperti berputar-putar.
"Om!" jerit Difa sambil membantu Gilang memijat kepala pria tua tersebut.
"Aduh Om, sudah penyakitan masih saja keluyuran," gumam Difa sambil terus memijat kepala Gilang.
Pria itu dapat jelas mendengar ucapan Difa, sehingga dia menarik tangan gadis itu dan mereka berdua saling bertatapan.
"Saya memang penyakitan, dan kamu bisa tertular karena kita minum air yang sama," ucap Gilang.
Difa bergidik ngeri saat mendengar ucapan Gilang, dan dia langsung cepat-cepat bangun sehingga Gilang terjatuh ke tanah.
"Aaahhhkkk!" jerit Gilang dan pria itu pingsan karena keadaannya belum benar-benar pulih.
"Astaga Om! Menyusahkan saja!" Difa langsung membantu pria itu bangun dengan kesusahan.
Sebab, tubuh Gilang sangat berat sedang Difa tidak memiliki tenaga dan dia akhirnya berhasil membantu Gilang duduk kembali di bangku. Namun, pria itu tak kunjung sadar.
Azam baru saja tiba di taman, dan melihat Difa bersama seorang pria dewasa yang seumuran dengan Aldalin sedang duduk mesra.
"Wah anak itu, baru juga di suruh tunggu bentar sudah duduk sama pria tua saja!" gumam Azam sambil berjalan mendekati Difa.
Sesampainya dia sana, Azam berdiri tepat di belakang Difa dan menepuk pundak gadis itu dengan perlahan.
"Om Azam!" pekik Difa saat melihat Azam ada belakangnya.
"Baru juga di suruh tunggu bentar, kamu mala duduk sama pria tua itu. Mana pingsang lagi, kamu apain dia coba?" tanya Azam dengan bertubi-tubi, membuat Difa kesal.
"Tanyanya bisa nanti saja tidak? Tolong bantu aku!" punya Difa sambil menahan tubuh Gilang yang jauh ke tubuhnya.
Azam langsung membantu Difa dan berganti posisi, kini dia yang memeluk Gilang sambil memberikan minyak kayu putih ke hidung pria itu.
"Bagaimana ceritanya, dia pingsan?" tanya Azam sambil menatap wajah Difa yang cengengesan.
__ADS_1
"Sebenarnya ... " Gadis itu menceritakan semuanya yang di dengarnya dari awal, sampai dia minum di botol yang sama dengan pria itu.
Azam menepuk keningnya karena merasa Difa benar-benar sangat idiot, memberikan orang minum sembarangan.
"Kau benar-benar sangat tidak waras lagi. Sekarang cepat bantu aku membawanya ke rumah sakit!" pinta Azam.
Difa membantu Azam memapah Gilang masuk ke dalam Mobil Azam, dan membawa pria itu ke rumah sakit.
Azam duduk bersama Difa dan Gilang di belakang, mereka berdua terus mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Gilang.
"Tunggu!" tahan Azam saat Difa hendak menuangkan isi minyak kayu putih yang masih banyak, ke hidung pria itu.
"Ada apa?" tanya Difa dengan sangat penasaran, kenapa Azam mengentikan langkahnya.
"Kau sudah gila? Menumpahkan semua isi ke hidungnya?" tanya Azam.
"Habisnya dia tidak sadar-sadar juga," jawab Difa dengan polos.
Azam menepuk keningnya dan langsung mengambil minyak kayu putih dari tangan Difa, agar gadis itu tidak nekad melakukan aksinya yang tertunda tadi.
*
*
*
'Semoga aku dan Nana bisa bersama tanpa ada gangguan dari wanita ja-lang itu,' batin Samudra.
Pria itu menghampiri Nana dan duduk di samping sang kekasih hatinya, tanpa memperhatikan adanya Jhoni di sana.
"Kamu sudah makan, Sayang?" tanya Samudra dengan sangat lembut.
Nana langsung menoleh dan menggelengkan kepala, kemudian kembali menyandarkan kepalanya di dada sang ayah yang ada di sampingnya.
"Tadi om sudah belikan makanan. Tapi, dia sama sekali tidak mau makan. Coba kamu bujuk dia," sahut Jhoni.
Samudra sangat bahagia mendengarkan ucapan Jhoni yang memintanya untuk membujuk Nana, karena hal itu sangat mudah menurutnya.
"Tentu saja Om, karena Samudra tidak akan membiarkan tuan putri ini kelaparan," ucap Samudra dengan sangat percaya diri.
"Nana maunya makan sama kak Azam," ucap Nana.
Samudra dan Jhoni Saling menatap dan memberikan kode masing-masing, agar salah satu di antara mereka menghubungi Azam dan memintanya datang agar Nana mau makan.
__ADS_1
'Sialnya, kan' aku pacarnya kenapa mala paman yang di minta datang?' batin Samudra penuh tanya.
Saat hendak menelpon Azam, Samudra melihat Azam dan Difa membawa seorang pria masuk ke ruangan IGD yang melewati mereka.
"Itu paman Azam. Tapi, membawa siapa dia?" tanya Samudra sambil bergegas bangun dan berjalan.
Jhoni melihat kepergian Samudra dan tidak mau mengikuti langkah tuan muda itu. Karena, sang anak tidak ada yang menemani walaupun dia sangat penasaran apa yang terjadi.
'Siapa pria yang di bawa Azam tadi? Sudah pasti itu bukan tuan Al, karena dia sedang berbulan madu bersama Jasmine,' batin Jhoni penuh tanya.
Nana seakan tidak bersemangat untuk hidup lagi, karena sang ibu tak kunjung sadarkan diri sejak dua hari lalu. Gadis itu tidak bisa membangkang ibunya pergi meninggalkannya selama-lamanya.
'Aku tidak mau sampai ibu meninggalkan kami, karena aku tidak akan sanggup. Apa lagi saat ini aku mengetahui bahwa Sam berselingkuh,' batin Nana.
*
*
*
Samudra membuka mata lebar-lebar melihat siapa pria yang di bawa masuk ke IGD oleh Azam dan Difa. Pria itu langsung ikut masuk ke dalam dan menghampiri pria yang tergeletak lema itu.
"Ayah!" jerit Samudra.
Azam dan Difa sama-sama terkejut mendengar Samudra memanggil pria itu dengan sebutan ayah. Yang artinya pria itu adalah ayahnya Jasmine juga.
'Ternya dia ayah sambungnya Sam, dan ayah kandungnya Jasmine,' batin Difa.
Azam sudah tahu kalau Samudra menyebut pria itu dengan sebutan ayah, karena mereka tadi pagi sudah bercerita tentang siapa ayah kandung Samudra.
'Ternyata dia pria itu,' batin Azam.
Dokter langsung menangani Gilang dan memasangkan selang infus, karena pria itu terlalu stress sehingga keadaanya kembali lema.
"Pastikan dia istirahat dengan cukup, dan jangan banyak besan agar kesehatannya baik. Karena, beliau sudah semakin sehat dan kemungkinan penyakitnya akan segera sembuh kalau dia selalu bahagia," ucap Dokter tersebut.
"Baik, Dok." Samudra menjawab dengan sangat lirih.
Karena pria itu sedih melihat ayah kandungnya sakit dan terlihat sangat pucat, walaupun dia sama sekali tidak menyukai pria itu.
'Walaupun aku membencinya. Tatap saja dia ayahku dan akan selamanya menjadi ayahku,' batin Samudra.
...Bersambung....
__ADS_1