
Warning Bab ini mengandung emosi jiwa, jangan emosi ya karena masalah lalu Aldalin akan terbongkar.
Jasmine dan Samudra ikut bersama sang ayah-ibunya pulang, karena gadis itu ingin tinggal bersama kedua orang tuanya. Sedangkan pria remaja itu tidak akan tinggal karena dia ingin pulang dan menceritakan semua pada Aldalin.
Kini Jasmine berada di kamar sang ibu, merawat ayahnya yang masih sakit dan belum lancar bicara.
"Ayah, Jasmine akan selalu bersama kalian walaupun ... " Jasmine tidak meneruskan ucapannya, karena dia sedih mengingat Aldalin yang selama ini menjadi ayahnya.
"Katakan, Nak?" tanya Tasya yang sangat penasaran apa yang membuat anaknya bersedih.
Jasmine menatap wajah sang ibu, kemudian dia memeluk wanita paru paya itu dengan erat. Rasa yang sebelumnya tidak pernah ada kini muncul dan membuatnya hangat, tenang.
'Tuhan, apakah keputusan yang akan Jasmine ambil itu salah?' batin Jasmine sambil berpikir.
Jasmine mengambil keputusan untuk berpisah dengan Aldalin kalau anak mereka sudah terlahir, karena gadis itu tidak bisa mencintai ayah sambungnya sebagai seorang suami.
*. *. *
Samudra duduk bersama sang ayah dan menceritakan tentang Jasmine, yang tidak mau pulang dan juga ingin berpisah. Pria paruh baya itu sangat kesal mendengar ucapan anaknya.
"Ini semua pasti keinginan wanita ja-lang itu!" seru Aldalin dengan sangat kesal.
Samudra tidak mau ikut campur lagi, karena tujuannya menceritakan itu semua agar kakaknya bisa segera terbebas dari sang ayah.
'Semua ini aku lakukan, hanya untuk kak Jasmine terbebas dan bukan aku ingin ayah bertengkar dengan ibu,' batin Samudra.
"Di mana rumah mereka?" tanya Aldalin dengan sangat kesal karena dendam pada mantan istrinya.
Aldalin berpikir semua adalah rencana jahat Tasya, karena tadi pagi Jasmine sama sekali tidak mau bertemu dengan wanita itu dan suami dari mantan istrinya.
"Jangan bertengkar ayah, semuanya bisa di selesaikan dengan baik-baik," ucap Samudra sambil memberikan alamat rumah sang ibu.
"Jangan khawatir," jawab Aldalin sambil bergegas pergi dari hadapan sang anak.
Aldalin berjalan dengan terburu-buru menuju mobilnya dan masuk ke dalam, setelah itu dia langsung mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Pria itu sangat kesal karena berpikir Jasmine terhasut omongan Tasya, karena sejak tadi sang istri tidak berkata ingin menemui mantan istrinya itu. Bahkan, gadis itu mengatakan tidak mau bertemu dengan ibunya dan ayah kandungnya.
"Awas kau ja-lang! Aku akan membalasmu!" seru Aldalin.
Setelah sampai dia langsung turun dari mobil dan berjalan menuju rumah mantan istrinya, dia menghentikan langkah tepat di depan pintu rumah tersebut.
__ADS_1
Hatinya terasa sangat sakit mengingat kembali rumah itu, karena sang istri dulu selingkuh dan tidur bersama di rumah yang ia datangi saat ini.
'Tasya, kau tega mengkhianati aku dan tidur bersamanya. Tanpa memikirkan anak-anak kita, dan salahkan aku ingin mengambil anak yang selama ini sudah aku jaga dan menjadi istriku?' batin Aldalin.
Tanpa di sadari oleh Aldalin, air matanya menetes dan dia mengingat penghianatan beberapa belas tahun yang lalu.
Flashback on.
Aldalin mendapatkan poto sang istri tengah bercumbu dengan seorang pria di sebuah rumah. Dengan hati yang bergetar hebat dia meletakan Samudra yang masih berusia empat tahun di tempat tidur.
"Jasmine, jaga adikmu. Ya, sayang." Aldalin mengecup puncak kepala gadis kecil itu dengan perlahan.
"Ayah, mau ke mana?" tanya gadis kecil yang masih berusia lima tahun itu dengan sangat polos.
Aldalin memeluk gadis kecil itu, kemudian dia mencium wajah Jasmine dengan air mata yang mengalir deras membasahi seluruh wajahnya.
"Kenapa Ayah menangis? Apa, Jasmine buat salah?" tanya gadis kecil itu dengan sangat polos, membuat Aldalin semakin terisak-isak mengingat kembali poto istrinya.
"Sayang, jaga adik sebentar saja. Euum ayah tidak akan lama perginya," jawab Aldalin sambil menghapus air mata yang mengalir deras membasahi seluruh wajahnya.
"Baik. Tapi, janji jangan lama-lama," ucap Jasmine sambil menghapus air mata sang ayah mengunakan kedua tangannya.
Aldalin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di alamat rumah, yang di berikan oleh seseorang misterius dari ponselnya.
"Tasya, kau mengatakan sudah melupakannya dan sekarang? Kau masih berhubungan dengan dia!" Aldalin menangis sambil terus mengemudikan mobil.
Hancur berkeping-keping hatinya, karena sang istri sudah mengkhianati cintanya sebanyak dua kali. Bukan hanya itu saja, sang istri juga memiliki anak bersama selingkuhannya itu.
Setelah sampai di rumah yang di pastikan ada sang istri di dalamnya, dia langsung berjalan dengan langkah bergetar hebat. Saat dia ada tepat di depan pintu rumah tersebut, air matanya tidak bisa terbendung lagi dan langsung mengalir deras.
'Jika dia benar bercinta dengan pria itu lagi, aku akan melepaskannya dan membalas dendam ini,' batin Aldalin.
Dengan sangat kuat dia mendobrak pintu rumah tersebut dan langsung mencari keberadaan sang istri. Saat ia berjalan menuju kamar utama, dia mendengar desah sang istri.
Deg!
Hancur berkeping-keping hatinya mendengar desah itu, dan mendengar suara pria yang sangat di bencinya selama ini. Pria itu terjatuh di lantai sambil memegang dada yang terasa sangat nyeri.
"Tasya!" seru Aldalin.
Pria itu langsung mendobrak pintu kamar tersebut dan terlihat sang istri, ada di atas tubuh pria yang tengah merasakan kenikmatan surga dunia.
__ADS_1
Kedua pasangan yang tengah bercinta itu langsung mengenakan baju masing-masing, kemudian menghampiri Aldalin. Pria itu langsung memberikan buah bogem mentah pada laki-laki yang sudah bercinta dengan sang istri.
Bung!
Bung!
Bung!
"Mas Al, sudah!" teriak Tasya sambil memegang tangan Aldalin.
Pria itu terus-menerus menghajar laki-laki yang menjadi selingkuhan sang istri, kemudian dia juga mendorong Tasya yang hendak menyelamatkan selingkuhannya.
"Ja-lang, kau akan tetap seperti itu!" seru Aldalin kemudian dia menghampiri sang istri.
Plak!
Aldalin menampar pipi Tasya dengan sangat kuat, kemudian menarik sambut Wanita itu.
"Mas, maafkan aku." Tasya mengiris sakit rambutnya di tarik oleh Aldalin dengan sangat kuat.
"Al, lepaskan dia!" teriak Gilang yang masih terbaring lemah di lantai.
Aldalin semakin kuat menarik rambut sang istri, kemudian mendorong wanita itu sampai tersungkur ke lantai.
"Kita pisah, dan anak-anak akan bersamaku!" seru Aldalin sambil bergegas pergi dari sana.
"Bawa merek! Aku tidak sudi mengurusnya!" teriak Tasya.
Aldalin menghentikan langkah saat mendengar teriakan sang istri, kemudian tersenyum simpul.
"Karma itu akan di bayar tunai, kau akan mendapatkannya!" seru Aldalin sambil bergegas pergi.
Flashback off.
Aldalin menghapus air mata yang mengalir deras, kemudian dia menenangkan dirinya dan Manarik nafas dalam-dalam.
'Ingat, tujuanmu adalah membawa istri yang tengah mengandung anakmu. Jangan hiraukan manusia menjijikkan itu,' batin Aldalin.
Perlahan ia mengetuk-ngetuk pintu rumah dan seseorang membukanya.
Bersambung.
__ADS_1