Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 53 Serba salah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aldalin sudah berada di taman dekat rumah Tasya, karena pria itu tengah menyusun rencana pertunjukan yang di susun rapi bisa berhasil.


Rasa sakit di dalam hatinya kian bertambah, saat Aldalin di halangi bertemu dengan sang istri. Yang sudah jelas-jelas dia berhak atas kehidupan Jasmine.


'Tasya, ini semua kau yang menginginkan. Kalian akan malu seumur hidup!' batin Aldalin.


Pria itu sudah habis kesabaran, menghadapi dua manusia yang sangat licik itu. Mereka mempu memanipulasi keadaan demi keinginan mereka.


Sakit, sesakit-sakitnnya. Persamaan Aldalin kian hancur mengingat kembali penghianatan sang istri bersama sepupunya.


Flashback on.


Aldalin duduk lemas karena melihat dua garis merah, padahal dia dan sang kekasih belum melakukan apapun sejak mereka jadian beberapa bulan lalu.


"Apa ini!?" tanya Aldalin penuh emosi.


Tasya hanya diam sambil meneteskan air mata yang sejak tadi tidak ada henti-hentinya, karena merasa sangat hancur mengetahui bahwa dia hamil anak selingkuhannya yang sama sekali tidak mau bertanggung jawab.


"Aku hamil," ungkap Tasya dengan lirih.


Aldalin mengelus dadanya, karena nyeri saat Tasya mengatakan dia hamil. Padahal, mereka sama sekali tidak pernah berbuat apa-apa sejak berpacaran.


"Anak siapa!?" tanya Aldalin dengan sangat emosi mendengar ucapan Tasya barusan.

__ADS_1


Tasya berjalan mendekati Aldalin dan bersujud di kaki pria tersebut dengan sangat kuat.


"Lepaskan!" teriak Aldalin sambil mencoba melepas tangan Tasya dari kakinya. Namu, wanita itu sangat erat berpegang sehingga pria itu gagal.


"Katakan kau hamil anak siapa!?" tanya Aldalin dengan sangat emosi sekali lagi, karena ucapannya sama sekali tidak di jawab.


"Gilang!"


Bak di sambar petir di siang bolong, Aldalin mendengar ucapan Tasya barusan. Pacarnya hamil bersama sepupunya.


"Kau menikah dengan dia saja! Jangan pernah kau menemuiku lagi!" seru Aldalin sambil bergegas pergi dari sana.


"Mas Al, tunggu!" teriak Tasya yang mencoba untuk mengejar Aldalin.


Flashback off.


'Kau masih bisa tertawa pagi ini. Tapi, besok sudah tidak akan ada lagi senyum di wajahmu itu,' batin Aldalin.


Aldalin tersenyum simpul saat melihat semua rencananya sudah tersusun rapi, dan hanya menunggu terget utama datang bersama yang lain, untuk meramaikan acara itu.


Tanpa di sadari oleh Aldalin, ternyata Samudra sejak tadi melihat apa saja yang di kerjakan oleh sang ayah. Pria remaja itu hanya bisa melihat karena, tidak tahu harus berbuat apa.


'Aku bingung harus berbuat apa? Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan ini. Bukankah itu adalah aib ibuku yang harus aku tutupi?' batin Samudra sambil berpikir.

__ADS_1


Samudra di landa dilema, sehingga dia bergegas pergi dari sana menuju ke sesuatu tempat untuk melancarkan aksinya.


*. *. *.


Jasmine hanya diam di dalam kamar sambil merenungi nasibnya, yang di kurung di dalam rumah hanya karena sang ibu takut dia di ambil oleh suaminya. Bukankah itu lucu?


'Ternyata aku salah ... suamiku benar kalau ibu tidak benar-benar menyayangi aku, dan dia hanya ingin membuat suamiku hancur untuk yang kesekian kalinya. Apakah aku harus kembali?' batin Jasmine sambil berpikir.


Gadis itu bingung harus berbuat apa dan bagaimana caranya agar dia terbebas dari sang ibu. Jasmine tidak bisa berpikir jernih saat ini karena semua masalahnya menjadi satu.


Yang pertama, dia bingung harus seperti apa di rumah sang ibu yang jelas-jelas tidak menyayanginya dengan tulus.


Yang kedua, Jasmine bingung harus pulang bersama Aldalin atau tidak? Karena, dia masih belum bisa mencintai pria itu yang selama ini menjadi ayahnya.


Yang ketiga, tidak mungkin dia tetap bertahan hidup bersama kedua orang tuanya yang hanya memanfaatkannya saja untuk kepentingan pribadi mereka.


"Tuhan, bantu Jasmine menghadapi masalah ini," ucap Jasmine lirih sambil meneteskan air matanya.


*. *. *.


Difa sangat merindukan sahabat baiknya, karena sudah lama sekali tidak pernah bertemu. Gadis itu berniat akan menemui Jasmine di mansion Aldalin sore hari setelah dia selesai bekerja.


Difa dan Jasmine sudah bersahabat dengan baik. Bahkan, mereka seringkali menceritakan masalah pribadi masing-masing, karena sudah tidak ada rasa canggung lagi.

__ADS_1


'Jasmine, aku sangat merindukanmu sayang,' batin Difa lirih.


Bersambung.


__ADS_2