
Tiga hari kemudian ...
Samudra sedang mengintai lokasi pembangunan mall di salah satu lokasi, karena pria itu ingin memastikan bahwa wanita yang merusak properti mereka datang lagi.
Saat tengah menunggu, akhirnya seorang berjubah hitam datang membawa sebuah botol. Sontak Samudra sangat terkejut. Dia langsung memberikan kode agar para anak buahnya menangkap wanita tersebut.
"Siapa wanita itu?" tanya Samudra pada diri sendiri.
Pria itu langsung menghampiri anak buahnya, kemudian mereka semua berpencar, agar wanita itu terkepung oleh mereka semua.
Wanita yang memakai jubah hitam itu, menuangkan minyak ke seluruh bangunan dan tertawa lepas.
"Kehancuran mu akan di mulai, mas Al!" teriak wanita itu.
Samudra terkejut wanita itu mengenali sang ayah, dan langsung menangkap wanita tersebut.
"Jangan! bergerak!" teriak Samudra.
Wanita tersebut mengigit lengan Samudra, sehingga pria itu kesakitan dan melepaskannya.
"Tangkap dia!" seru Kenan.
Semua anak buah Samudra mengejar wanita tersebut. Namun, mereka kehilangan jejak wanita itu. Sehingga Samudra sangat kesal.
'Yang pasti dia mengenal ayah,' batin Samudra.
Samudra sudah mengetahui apa motif wanita itu merusak properti mereka, dan hampir membakar semua bangunan yang sudah 60 persen lagi selesai.
*
*
*
Jasmine duduk di bibir kolam renang, dan menggoyangkan kakinya di dalam air sambil menatap langit.
"Jasmine," panggil Azam.
Jasmine langsung menoleh dan tersenyum, kemudian Azam mendekatinya dan duduk di simpang gadis itu.
"Ada apa kak?" tanya Jasmine dengan sangat lembut.
"Tidak, hanya saja kamu terlihat sangat bersedih. Apa ada masalah?" tanya Azam sambil menatap wajah Jasmine.
Jasmine terdiam dan menggelengkan kepalanya, karena dia berpikir kalau dia melahirkan maka semua keluarga akan tahu bahwa anaknya cacat.
"Lalu, apa yang membuatmu bersedih?" tanya Azam dengan sangat lembut. Namun, Jasmine tidak menjawab pertanyaannya.
"Kamu rindu Difa?" tanya Azam lagi, dan Jasmine langsung menatap wajah pria itu.
__ADS_1
"Iya," jawab Jasmine cepat.
Azam langsung tersenyum mendengar jawaban Jasmine, dan dia memegang tangan kakak iparnya itu dan berkata, "Aku akan membawanya datang."
Jasmine tersenyum, dan reflek memeluk Azam dengan erat dan langsung melepaskan pelukan mereka.
"Maaf kak, Jasmine sangat bahagia tadi sampai lupa dan memeluk kakak," ucap Jasmine dengan pelan.
Azam tersenyum dan menganggukkan kepala, dan bergegas pergi dari sana. Hatinya bahagia saat Jasmine memeluknya tadi, walaupun itu hanya kekhilafan gadis itu saja.
Azam mengendarai motor matic milik Samudra, karena dia tidak bisa mengendarai mobil yang di belikan oleh Aldalin beberapa bulan lalu.
'Astaga! Aku lupa kalau akan menjemput dia, dan kami nanti pasti akan terlihat mesra karena berboncengan,' batin Azam.
Setelah sampai di depan rumah Difa, Azam langsung menghentikan motornya di depan halaman rumah Difa dan bergegas mengetuk pintu rumah gadis itu.
Difa sedang mandi, langsung cepat-cepat menyelesaikan ritual mandinya dan bergegas memakai handuk. Kemudian berjalan dengan perlahan dan membuka pintu rumahnya.
"Difa!" pekik Azam, saat melihat gadis itu hanya menggunakan handuk yang mencapai baha mulusnya.
"Apa?" tanya Difa dengan sangat penasaran kenapa pria terkejut saat dirinya membuka pintu.
Azam tidak menjawab, dan langsung menarik tangan Difa masuk ke dalam karena takut ada yang melihat mereka dan salah paham.
"Ada apa?" tanya Difa sambil melepaskan tangannya dari cengkeraman Azam.
"Kau itu mengapa hanya menggunakan handuk saja?" tanya Azam sambil menunjuk tubuh gadis itu.
"Menyalahkan aku," ucap Azam.
Difa hendak menjawab ucapan Azam. Namun, matanya melihat ada kecoak di bawah kakinya dan langsung melompat ke dalam pelukan Azam.
"Turun!" seru Azam sambil memegang kedua paha Difa, karena gadis itu mencekik lehernya.
"Tidak! kecoa!" teriak Difa sambil menggoyangkan tubuhnya, karena merasa sangat jijik pada hewan itu.
Sehingga handuk yang di kenakan melorot dan memperlihatkan gunung kembar miliknya, membuat Azam menelan ludahnya dan menjatuhkan tubuh gadis itu.
Difa membuka mulut lebar-lebar, karena handuk yang di kenakannya terlepas dan memperlihatkan keindahan tubuhnya.
"Tutup matamu!" teriak Difa.
Azam menutup matanya. Namun, dia mengintip dari sela-sela jarinya dan tersenyum nakal.
Difa langsung mengenakan handuknya kembali dan bergegas masuk ke dalam kamarnya, dengan sangat malu karena Azam sudah melihat tubuh polosnya tadi hanya gara-gara kecoak.
"Malu sekali aku tadi. Bagaimana ini?" Difa bergegas memakai baju dan merapikan penampilannya.
Kemudian gadis itu duduk di bibir ranjang sambil mengingat kembali kejadian tadi, dan merasa sangat malu karena kejadian tadi.
__ADS_1
"Mau di telakkan di mana wajahku ini?" Difa berucap sambil berjalan ke luar dari kamarnya dan menghampiri Azam.
Pria itu tersenyum nakal dan menggoda Difa, dengan memegang tangan gadis itu kemudian mereka saling menatap.
"Ternyata kau itu cantik luar dan dalam," ucap Azam dan Difa langsung menampar pipi pria itu dengan kuat.
Plak!
"Kalau saja Om tidak menjatuhkan aku, maka semua itu tidak akan terjadi!" seru Difa dengan kesal.
"Menyalahkan saja! Bocah ini," kesal Azam sambil mengelus-elus pipinya yang terasa sakit, akibat pukulan dari gadis itu.
Mereka berdua saling adu mulut, sampai Azam lupa tujuan utamanya datang ke rumah gadis itu.
*
*
*
Jhoni mengerjakan tugas dari Aldalin tadi, dan dia mendapatkan keganjalan saat memeriksa laporan keuangan yang di kelola oleh salah satu orang kepercayaan Aldalin.
"Ini tidak beres, aku yakin dia sudah bersekongkol dengan wanita iblis itu!" geram Jhoni.
Pria itu langsung berjalan ke luar dari dalam ruangannya sambil membawa berkas tersebut, masuk ke dalam ruangan sang bos yang ada di sampainya.
"Permisi Tuan," ucap Jhoni dengan sangat lembut.
"Duduk!" pinta Kenan.
Jhoni langsung duduk dan memberikan berkas itu pada Aldalin, dan pria itu tersenyum. Entah mengapa Jhoni juga tidak tahu mengapa sang bos mala tersenyum bukannya marah.
"Jhon, ini sangat bagus untuk kita. Karena, dia sudah masuk dalam jebakanku." Aldalin membisikan rencananya pada Jhoni dan kedua pria itu tersenyum.
"Benar-benar sangat bagus," ucap Jhoni.
Jhoni tidak tahu kalau Aldalin merencanakan hal yang sangat di luar dugaan, karena sang bos sudah lama tidak masuk kantor sejak hari pernikahan itu.
*
*
*
Azam dan Difa sama-sama saling diam, karena sejak tadi mereka terus saling menyalahkan atas apa yang terjadi tadi.
Azam menepuk keningnya, karena baru ingat apa tujuan utamanya datang ke rumah gadis aneh itu.
"Astaga! Difa, aku lupa kalau harus menjemput mu. Sebab, Jasmine merindukan gadis aneh seperti mu," ucap Azam.
__ADS_1
Bella langsung tersenyum dan bergegas bersiap-siap, karena dia juga sangat merindukan sang sahabat baiknya.
Bersambung.