
Malam hari ini Jasmine merasa sangat nyaman, tidur di kasur yang sangat empuk. Karena beberapa hari terakhir ia selalu sakit saat bangun tidur, di tambah lagi dia seringkali masuk angin saat bangun.
"Kenapa, uang itu sangat banyak? Tapi, bagaimana cara agar aku bisa mengembalikan uang itu? " pikir Jasmine.
Jasmine berfikir, tidak mungkin memberikan uang itu kepada ayahnya langsung, karena itu sangat tidak bisa.
*
*
*
Satu Minggu kemudian ...
Aldalin sudah pulang pada pagi ini karena ia benar-benar sangat ingin pulang, karena dia merindukan mansionnya. Ya, walaupun lebih tepatnya ingin cepat-cepat melihat wajah yang selalu mengusiknya setia malam.
Karena Aldalin sampai di mansion masih pagi sekali, mansionnya terlihat sangat sepi.
Kaki Aldalin berjalan begitu saja menuju dapur sambil membawa peper bang, yang ia bawah dari kota J.
Aldalin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu gudang dan langsung membuka, tanpa mengetuk atau memanggil terlebih dahulu seperti biasanya.
Aldalin membulatkan mata tidak percaya, melihat Jasmine masih tidur. Bukan karena gadis itu masih tidur, yang membuatnya terkejut kenapa bisa anaknya berada di atas kasur.
"Jasmine!" teriak Aldalin membuat Jasmine terkejut dan ia langsung bangun dengan sangat cepat.
"Ayah!" pekik Jasmine sambil menghadap sang ayah.
"Apa, semua ini?" tanya Aldalin yang mengecilkan suaranya.
Jasmine merasa takut akan pertanyaan sang ayah, sehingga ia ******* ***** ujung piyamanya.
"Katakan!" bentak Aldalin membuat Jasmine langsung menjawab.
"Semuanya apa, Ayah?" tanya Jasmine yang tidak mengerti sama sekali apa yang di maksudkan oleh sang ayah tadi.
"Kasur itu, dan satu lagi anak buah ku mengatakan selama aku pergi kau sama sekali tidak bekerja. Lalu kau makan apa dan kasur ini dari mana?" tanya Aldalin dengan nada renda dan bertubi-tubi, hal ini untuk pertama kalinya padanya.
"Karena ... karena ... " Jasmine tidak bisa meneruskan ucapannya, karena ia tidak mungkin berkata jujur jika ia membeli kasur itu.
__ADS_1
"Karena, apa!" bentak Aldalin dan Jasmine hanya diam kemudian mulailah air matanya berjatuhan.
Mata Aldalin melirik ke arah tas Jasmine yang terlihat ada uang yang sangat banyak, kemudian Aldalin langsung bergegas menghampiri tas itu dengan terburu-buru.
Lalu Aldalin mengambil uang yang berjumlah lumayan banyak serikat lima belas juta rupiah. langsung membawanya ke hadapan Jasmine dan melemparkan uang tersebut.
"Darimana uang ini? Apa kau mencurinya dariku!" teriak Aldalin dengan sangat kuat sehingga semua yang ada di mansion terbangun, dan bergegas melihat apa yang terjadi.
"Ti-dak Ayah, mana mungkin Jasmin berani melakukannya," jawab Jasmine dengan terbata-bata karena ia sangat takut. Jika ayahnya akan menghukumnya lagi kali ini.
"Kau, pandai sekali berbohong, lalu uang ini semuanya darimana!" teriak Aldalin sambil mendaratkan tamparan di wajah Jasmine.
Plak!
Jasmine memegang wajahnya yang terasa sangat sakit, kemudian ia memberanikan dirinya untuk menatap wajah Ayahnya.
"Itu uang dari laki-laki itu, karena dia merasa puas karena Jasmin masih virgin dan dia yang memberikannya kepada Jasmin. Dan Jasmin tidak pernah mau mencuri apapun!" Jasmine langsung berlari keluar dari mansion.
Dengan masih menggunakan piyama tidurnya dan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.
Aldalin terdiam lalu ia meletakan peper bag yang di bawa tadi ke tempat tidur Jasmine, kemudian bergegas pergi menuju kamarnya.
Samudra hanya melihat apa saja yang terjadi dari atas kamarnya.
*
*
Aldalin duduk di bibir ranjang sambil mengingat-ingat kembali, saat dirinya memberikan uang pada wanita bayaran waktu itu.
"Ya, aku memberikan dua puluh juta untuk wanita itu ... kenapa? Jumlahnya sama dengan uang dia?" tanya Aldalin sambil menatap ke arah jendela dengan pandangan kosong.
Aldalin ingat betul jika dirinya memberikan uang sebesar dua puluh juta karena merasa puas, dan dia juga masih sudah mencari informasi tentang wanita itu melalui anak buahnya. Samapi saat ini ia belum menemukan informasi apapun.
Aldalin sempat berfikir jika wanita itu adalah Jasmine dan ia langsung membuang pikirannya, karena dia tidak mau meniduri anak yang sudah di besarkan dari kecil sampai saat ini. Walaupun memperlakukannya dengan kurang baik.
*
*
__ADS_1
Jasmine duduk di bangku taman sambil menangis tersedu-sedu karena peristiwa tadi, di mana ia dikira mencuri karena memiliki uang banyak.
"Aku sadar, bagaimanapun ayah tidak akan menyayangiku seperti seperti ayah sayang pada Samudra."
Hatinya terasa sangat nyeri karena Jasmine berharap jika sang ayah pulang, ia bisa memeluk ayahnya yang sangat di rindukan selama beberapa minggu ini. Namun, itu semua hanya mimpi saja.
Jasmine merasa sangat mual karena terus menangis tersedu-sedu, dan ia langsung memuntahkan isi perutnya.
Huek ... Huek.
Jasmine merasa sangat pusing, sehingga dia tidak bisa pulang. Gadis itu menunggu keadaannya membaik barulah pulang ke mansion.
"Pasti asam lambung ku kambuh lagi, karena sudah beberapa hari ini jarang sekali makan nasi dan selalu telat makan," ucap Jasmine dengan sangat lemas dan mencoba untuk menguatkan dirinya.
*
*
Samudra sudah rapi karena ia akan pergi kuliah pagi ini, sebelum pergi dia berniat untuk menghampiri sang ayah. Sebab ingin mencari informasi tentang ibunya.
"Ayah!"
Samudra masuk ke dalam kamar sang ayah dan melihat jika ayahnya duduk santai saja, ia langsung menghampiri sang ayah dan duduk.
"Ada, apa?" tanya Aldalin sambil menatap ke arah anaknya tersebut.
"Tidak ada, hanya saja Sam ingin meminjam ponsel Ayah karena sepertinya ponsel Sam ada masalah," jawab Samudra.
Aldalin langsung memberikan ponselnya tanpa berfikir panjang, karena ia sangat menyayangi Samudra.
"Terimakasih Ayah," ucap Samudra.
Samudra mulai memeriksa ponsel ayahnya dan menemukan sebuah nomor ponsel yang bertuliskan ja-lang.
'Mungkin ini, aku akan mengirimkan nomor ini ke ponselku,' batin Samudra.
Setelah selesai mengirimkan nomor ponsel yang di ambil dari ponsel sang ayah, Samudra langsung mengembalikan dan bergegas pergi dari sana.
Karena Samudra ingin segera mencari tahu nomor ponsel siapa yang di ambil tadi dari ponsel ayahnya.
__ADS_1
"Jika benar ini nomornya ibu, aku akan meminta agar ibu menyelamatkan kak Jasmine. Karena aku sudah tidak tahan lagi melihatnya terus-menerus disakiti oleh ayah," ucap Samudra mulai mengirimkan pesan ke pada nomor tersebut.
Bersambung.