Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 23 Maaf Aldalin


__ADS_3

Satu bulan kemudian ...


Sejak Aldalin mengetahui jika Jasmine adalah wanita malam itu, dia sangat tidak percaya jika sudah membunuh anaknya beberapa bulan lalu.


Aldalin merasa putus asa tidak bisa menemukan Jasmine, sehingga dia persikap seperti orang depresi.


"Tuan, apa? Anda akan seperti ini saja?" tanya Jhoni.


Jhoni berdiri di hadapan Aldalin, karena ia sedang mengirimkan berkas-berkas dari Kantor ke mansion tuannya itu.


"Biarkan aku seperti ini, karena aku pantas mendapatkannya. Kau tahu? Ternyata wanita malam itu adalah Jasmine dan dia hamil anakku," ucap Aldalin lirih.


Hati Jhoni tersentuh saat tuannya sudah mengetahui semuanya tentang malam itu. Ya, walaupun dia juga baru tahu jika Jasmine hamil anak Aldalin.


"Bukankah, dia masih hamil?" sahut Jhoni yang keceplosan akan ke adaan Jasmine saat ini. Aldalin langsung menatap tajam ke arah Jhoni lalu ia menghampirinya.


"Masih hamil?"


Jhoni menutup mulut menggunakan tangannya.


"Jangan sampai aku ketahuan, jika sampai itu terjadi maka aku akan habis di tangannya saat ini juga,' batin Jhoni.


"Katakan! Apa kau tahu tentang Jasmine selama ini?" tanya Aldalin.


"Saya tidak tahu, tadi saya hanya menebaknya saja tidak lebih," jawab Jhoni dengan cepat dan kali ini Aldalin tidak mempercayainya.


"Aku sangat yakin, jika ini ada hubungannya dengan dia karena tidak mungkin anak buahnya sama sekali tidak menemukan Jasmine. Aku akan menyelidiki semua ini sendiri dan tidak bisa mempercayainya lagi," batin Aldalin.


"Baiklah, kau boleh pergi dari sini!" ucap Aldalin sambil mengibaskan tangannya, kemudian Jhoni bergegas pergi dari sana.


Jhoni bernafas lega karena Aldalin sama sekali tidak mencurigai tingkahnya tadi saat gugup, kini ia mulai kembali ke Kantor untuk menyelesaikan pekerjaan milik tuannya.


Sejak Aldalin tidak masuk Kantor satu bulan terakhir ini Jhoni seringkali mengabiskan waktunya di Kantor. Bahkan, ia juga jarang pulang karena pekerjaan yang menumpuk.


"Untungnya aku aman kali ini, semoga saja tuan tidak mencurigai ku lagi. Walaupun aku merasa sangat kasihan, sepertinya aku harus memberitahu Jasmine tentang ini," ucap Jhoni.


Jhoni berniat akan memberitahukan semuanya kepada Jasmine mengenai apa yang ia tahu. Bahkan juga ingin bercerita jika sebenarnya gadis itu bukanlah anak Aldalin.

__ADS_1


*


*


Aldalin bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah Jhoni karena yakin jika Jasmine ada di sana, ia merasa sangat bodoh saat tidak memeriksa rumah Jhoni.


"Seharusnya aku paham dengan semuanya, mengapa Jasmine tidak bisa di temukan. Karena memang dia di sembunyikan oleh anak buah ku sendiri! Aku ini memang bodoh sampai aku tidak tahu dengan rencananya itu!" ucap Aldalin sambil bergegas pergi menuju rumah Jhoni.


Aldalin mengemudikan mobilnya sendiri karena tidak mau sampai ada yang tahu jika ia ingin memastikan, Jasmine ada di rumah Jhoni saat hatinya mulai ragu pada kaki tangannya itu pagi ini.


"Jika dia ada di sana apa yang harus aku lakukan? Aku harus meminta maaf? Ah, selama hidupku ini tidak pernah aku meminta maaf pada siapapun," ucap Aldalin sambil terus mengemudikan mobilnya.


Setelah sampai di depan gerbang rumah Jhoni, ia hanya diam saja di dalam mobil karena bingung harus seperti apa saat ini.


"Tidak! Aku tidak akan meminta maaf. Aku juga tidak bisa menghukumnya lagi karena sudah membunuh anak kami," ucap Aldalin sambil terus mantap ke arah rumah Jhoni.


Saat Aldalin melihat rumah Jhoni tiba-tiba saja pintu rumah terbuka, lalu ia membuka mulutnya saat melihat wanita yang sudah lama tidak di temui.


Hati Aldalin tiba-tiba terasa sangat nyeri saat melihat perut Jasmine yang sudah sangat jelas membuncit, ia menatap wajah Jasmine dari dalam mobil.


Air matanya tiba-tiba saja meluncur dengan sendirinya tanpa izin darinya, lalu ia menghapus air mata yang mengalir deras.


Jasmine merasa sangat bosan berada di dalam rumah sehingga ia duduk di bangku teras, dan mengelus-elus perutnya yang sudah terlihat basar karena miliki tubu yang terlalu kecil.


"Anak ibu, jika nanti kita sudah bertemu maka kita akan menulis kisah kita berdua tanpa adanya, ayah ... "


Jasmine langsung menangis tersedu-sedu saat dirinya mengingat kembali wajah ayahnya, dan ia juga sangat merindukan laki-laki itu beberapa bulan terakhir ini.


Aldalin semakin terisak saat melihat Jasmine mengatakan jika masih hamil, lalu ia turun dari mobilnya dan berjalan dengan perlahan menuju rumah Jhoni.


Saat Aldalin sudah ada di hadapan Jasmine ia hanya diam saja sambil memandangi wajah gadis itu dan perutnya.


"Jasmine."


Panggil Aldalin dengan pelan dan Jasmine langsung menolehkan wajahnya.


"Ayah!"

__ADS_1


Jasmine langsung cepat-cepat bangun dan hendak melangkah masuk kedalam, akan tetapi, Aldalin langsung berlari menghalangi jalan gadis itu.


"Jangan pergi! Aku ingin berbicara sebentar saja padamu ini tentang anak ki-" terputus karena Jasmine langsung menyerang ucapnya.


"Jangan ucapkan apa-apa lagi, jika Ayah hanya ingin melukai hati ini tolong pergi saja!" potong Jasmine dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Bukan, aku ingin meminta maaf padamu," ucap Aldalin lirih.


Jasmine menatap wajah ayahnya, karena baru kali ini ia mendengar kata maaf yang di ucapkan oleh sang ayah.


"Maaf," ucap Aldalin sekali lagi dengan air matanya yang mengalir deras, membuat Jasmine ikut menangis tersedu-sedu.


Aldalin menarik tangan Jasmine masuk ke dalam pelukannya, lalu mereka menangis tersedu-sedu bersama.


Jasmine menangis bukan karena merasa sedih akan tetapi, ia menangis saat melihat ayahnya menangis untuk yang pertama kalinya.


"Jasmine pulanglah! Masih banyak hal yang aku akan sampaikan kepada mu," pinta Aldalin sambil melepaskan pelukannya.


"Maaf, Jasmine tidak mau," jawab Jasmine yang mulai menjauh dari Aldalin.


"Aku tidak akan menghukum mu lagi, aku janji," pinta Aldalin dengan bersungguh-sungguh.


"Bukannya aku tidak mau tetapi, aku takut jika sampai ayah tahu jika aku hamil anaknya,' batin Jasmine.


"Tidak," jawab singkat Jasmine.


Aldalin terdiam sejenak lalu berfikir jika ia akan menemui Jasmine besok untuk membujuk gadis itu lagi.


"Baiklah, aku akan memberikan mu waktu untuk berpikir dan tidak memaksamu lagi," ucap Aldalin dan Jasmine hanya diam saja.


Saat Aldalin akan melangkahkan kakinya ia berhenti saat Jasmine memanggil namanya.


"Tunggu Ayah!"


Aldalin berhenti dan membalikkan badannya lalu menatap wajah Jasmine.


"Bisakah? Jasmin memeluk Ayah sekali lagi saja?" tanya Jasmine.

__ADS_1


Aldalin menganggukkan kepalanya lalu ia mulai memeluk Jasmine dengan sangat lembut.


Bersambung.


__ADS_2