Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 89 > Jangan bersedih


__ADS_3

Heppy Reading ...


Malam hari tiba . . .


Jhoni duduk diam, sambil terus mengingat kembali kenangan bersama sang istri di masa lalu dan, masa kini. Sebab, dia sangat mencintai Nandini.


"Baru saja kita bersama, kamu pergi secepat ini," ucap Jhoni lirih.


Pria itu meneteskan air mata tanpa sadar, karena dia benar-benar sangat bersedih atas kepergian istri tercinta. Tiba-tiba, Jhoni tersadar sang putri tidak ada di sampingnya saat ini.


"Ya ampun! Nana, pasti masih bersama Samudra. Tapi, sebaiknya dia tetap di sana, sebab banyak orang yang bisa menghiburnya," ucap Jhoni lirih.


Pria itu langsung bergegas pergi dari sana, karena ia ingin mengantarkan baju-baju Nana. Sebab, dia ingin sang putri tenang dulu haru Jhoni akan membawanya pulang ke rumah.


. . .


Aldalin dan, semua keluarganya tengah makan malam bersama di meja makan. Namun, Nana sama sekali tidak menyentuh makanannya sedikitpun.


"Sayang, ayolah makan," bujuk Samudra dengan lembut.

__ADS_1


Semua orang langsung menatap ke arah Nana, terlihat gadis itu masih murung dan, juga bersedih atas kepergian sang ibu.


"Nana, makanlah," tambah Jasmine.


"Nak, ayo makan. Tidak boleh terus-menerus bersedih," tambah Jima.


Wanita paruh baya itu langsung menyuapi makanan ke pada Nana dan, gadis itu langsung memakannya tanpa protes sedikitpun.


'Aku tahu, kalau Nana sangat bersedih atas kepergian ibunya. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa,' batin Jasmine lirih.


Jasmine tidak bisa menghibur Nana, karena dia juga bersedih memikirkan tentang calon bayi yang di kandung cacat. Gadis itu masih merahasiakan hal ini dari semua keluarganya.


'Biarlah, karena semua orang juga akan tahu saat bayiku terlahir beberapa bulan lagi,' batin Jasmine lirih.


Aldalin melihat sang istri bersedih, langsung tahu gadis itu tengah memikirkan apa dan, dia langsung memegang tangan Jasmine dengan lembut.


Sontak, Jasmine langsung menoleh dan melihat wajah sang suami yang terlihat sangat tampan dan, ingin sekali dia memeluk pria itu sekarang juga. Namun, tidak bisa karena banyak orang di dekat mereka.


"Jangan bersedih! Sebab, semua akan indah pada waktunya," bisik Aldalin lembut di telinga Jasmine.

__ADS_1


Jasmine menganggukkan kepala, kemudian gadis itu tersenyum manis. Entah mengapa, saat berdekatan dengan Aldalin, dia semakin bahagia dan, ingin selalu bermanja-manja.


Sedangkan Azam, sejak tadi hanya diam seribu bahasa. Sebab, dia benar-benar sangat sakit melihat kemesraan sang kakak dan, wanita yang dicintai.


'Jika ada wanita yang mencinta ku, aku berjanji akan menikahinya. Sebab, lebih enak bila dicintai daripada mencintai,' batin Azam lirih.


Mereka semua kelanjutan makan malam bersama, sampai selesai dan, datanglah Jhoni. Pria itu pun duduk di sana.


"Ayah!" Nana langsung menghampiri sang ayah dan, memeluk pria itu dengan erat juga Isak tangisannya.


"Sayang, berhentilah menangis!" pinta Jhoni.


Namun, Nana masih saja menangis tersedu-sedu karena dia kembali mengingat sang ibu yang sudah pergi meninggalkan mereka.


"Ayah, kenapa ini pergi secepat ini?" tanya Nana dalam Isak tangisnya.


Jhoni juga sedih akan pertanyaan sang putri, ingin rasanya air mata yang sejak tadi ia tahan tumpah. Namun, dia tidak ingin Nana semakin sedih melihat juga bersedih.


"Sayang, ibu sudah tenang di alam sana. Jadi, kita juga harus bahagia," jawab Jhoni dengan lembut.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2