
Jasmine membersihkan diri, sambil mengingat-ingat kembali kejadian tadi bersama Aldalin. Gadis itu tersipu malu dan melanjutkan ritual mandinya.
"Jasmine, apa yang kau pikirkan?" tanyanya pada diri sendiri.
Setelah selesai mandi, Jasmine mengunakan handuk dan bergegas ke laur. Sesampainya di luar dia melihat kamar sudah bersih dan rapi. Kasur yang sudah di ganti dengan yang baru dan semuanya juga baru.
'Secepat ini ayah membersihkan kamar kami?' batin Jasmine.
Gadis itu langsung bergegas mengunakan baju dan merapikan penampilannya, matanya melirik ke arah leher yang di penuhi jejak kepemilikan Aldalin di sana. Tanpa dia sadari Jasmine dia tersenyum malu.
'Kejadian tadi seperti mimpi saja, ini yang kedua kalinya kami melakukan hal itu dengan sadar,' batin Jasmine.
Jasmine berjalan menuju luar mencari keberadaan sang suami, dan melihat pria itu ada di meja makan tersenyum manis padanya.
"Kemarilah sayang!" Aldalin menepuk ruang kosong di sampingnya mempersilahkan Jasmine duduk.
Gadis itu tersipu malu dan duduk di sampai sang suami. Aldalin tersenyum dan mencium puncak kepala Jasmine dengan sangat lembut.
"Makanlah, setelah ini aku akan membawamu ke sesuatu tempat yang indah," ucap Aldalin lembut.
"Baik Mas Al," jawab Jasmine dengan sangat lembut.
Mereka berdua makan dengan saling menatap satu sama lainnya, dan sama-sama diam.
'Walaupun aku dan Jasmine akan memiliki anak yang tidak sempurna, aku tetap bahagia bisa bersama dengan wanita yang aku cintai," batin Aldalin.
*
*
*
"Aaahhhkkk!" teriak Tasya sambil melemparkan benda-benda yang ada di sampainya.
"Kalian tidak becus!" seru Tasya dengan geram.
Karena rencananya sudah gagal untuk mencelakai Aldalin dan berbalik padanya. Perusahaan Tasya mengalami penurunan karena ulahnya sendiri.
"Tasya, sudahlah ... sebaiknya lupakan dendammu itu pada Al, dia pria baik yang akan menjaga anak kita," ucap Gilang dengan pelan.
Pria itu sudah sembuh total dan dia sangat merindukan anak kandungnya, yang sudah menikahi dengan sepupunya.
"Mas, semua ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau sampai anak kita bersama dia," jawab Tasya dengan manja.
__ADS_1
"Aku tidak peduli akan ambisi mu itu, yang aku inginkan bertemu Jasmine dan calon cucuku!" Gilang bergegas pergi dari sana dengan kesal.
Tasya mengendus kesal, dan berniat akan terus menjalankan rencananya agar Jasmine dan Aldalin berpisah bagaimana pun caranya.
'Maafkan aku mas, aku tidak bisa menuruti keinginan mu karena Jasmine sudah cukup mendapat hukuman dari Aldalin,' batin Tasya.
Wanita itu tidak terima anaknya sellau di hukum oleh Aldalin walaupun tidak berbuat kesalahan apapun. Meskipun dia tahu semuanya bermula dari dirinya yang menyakiti hati Aldalin.
*
*
*
Bu Jima menatap poto suaminya yang sudah meninggal, dan dia menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Aku menyesal sudah meninggalkan mu mas. Tapi, semua ini bukan kemauan ku memisahkan mu dan Azam," ucap Bu Jima lirih.
Azam mengintip sang ibu dari sebalik pintu, dan dia meneteskan air matanya. Hatinya bersedih melihat ibunya menjadi istri kedua dan terluka seperti itu.
"Bu jangan bersedih lagi! Aku tidak pernah menyalahkan ibu atas semua yang terjadi ini," ucap Azam lirih.
Selama hidupnya sellau berdua bersama sang ibu dan dia tidak pernah bertanya kepada sang ibu, mengenai ayahnya karena tahu itu akan menyakiti hati sang ibu saat dia bertanya hal itu.
*
*
*
Ya, mereka berdua ke pantai yang tidak jauh dari villa berada karena Aldalin ingin memberikan sebuah kejutan untuk sang istri di sana.
Jasmine sangat terpana melihat pemandangan pantai tersebut, dan matanya melirik ke arah anak-anak yang tengah bermain. Hatinya seakan sakit mengingat kembali kalau calon anaknya tidak akan bisa bermain seperti anak-anak pada umumnya.
'Bagaimana anakku nantinya, pasti dia akan merasakan sakit di elok-elok temennya. Apakah dia bisa sekolah seperti anak-anak lainnya?' batin Jasmine lirih.
Aldalin merangkul sang istri yang terlihat bersedih melihat segerombolan anak-anak bermain dengan ceria.
"Sayang, sudahlah ... jangan di pikiran lagi! Semua ini sudah di atur oleh Tuhan untuk kita," ucap Aldalin dengan sangat lembut.
Jasmine tersenyum dan menghapus air matanya dan menatap wajah sang suami, yang sudah menguatkannya menghampiri masalah yang di laluinya saat ini.
"Aku ada kejutan untuk mu," ucap Aldalin lembut.
__ADS_1
Jasmine tersenyum dan mengikuti langkah Aldalin menuju ke sebuah pondok di pantai itu, dan matanya sangat terpana melihat poto masa kecilnya bersama Aldalin.
"Mas Al, ini semua bukankah kita?" tanya Jasmine dengan sangat tidak percaya melihat poto itu.
Aldalin menganggukkan kepala dan tersenyum sambil mengelus-elus perut Jasmine yang membuncit, dan juga mencium wajah sang istri dengan bertubi-tubi sehingga gadis itu geli.
"Mas Al, sudah!"
Aldalin tersenyum dan menghentikan aktivitasnya dan kembali menikmati hembusan angin, dan melihat poto-poto masa kecil Jasmine.
Jasmine ingin sekali kembali ke masa lalu di saat dia kecil, dan bahagia bersama sang ayah dan ibunya. Namun, hal itu juga tidak berlangsung lama karena sang ibu pergi meninggalkan mereka.
'Aku tidak ingin kembali lagi di masa lalu. Tapi, semua itu tidak bisa terulang kembali,' batin Jasmine.
Aldalin mengelus-elus rambut Jasmine dan membawa gadis itu berjalan-jalan mengelilingi pantai itu.
*
*
*
Samudra duduk bersama Nana di rumah sakit, dan ada Azam juga di sana menjenguk ibunya Nana ya tengah koma dan tak kunjung sadarkan diri.
"Na, jangan bersedih lagi! Kami ada di sini bersama mu. Bahkan ayahmu juga ada walaupun dia sekarang sedang di kantor," ucap Samudra dengan lembut.
Nana hanya diam sambil menyenderkan kepalanya di bahu Samudra, yang terasa sangat nyaman baginya bersandar saat ini.
"Hei! Bersandar di sini saja!" Azam menepuk bahunya agar Nana bersandar di bahunya bukan di bahu Samudra.
"Kalian ini ada apa sih? Lihatlah Nana sedang sedih," ucap Bu Jima yang baru saja sampai di sana dan duduk bersama mereka.
Semuanya langsung menoleh dan melihat Bu Jima. Nana langsung bangun dan duduk di samping Bu Jima dan memeluk sang Bibi.
"Bi, bagaimana dengan ibu?" Gadis itu menangis di dalam pelukan sang Bibi dengan sangat sedih.
Bu Jima mengelus-elus rambut Nana dan berkata, "Jangan khawatir dia adalah wanita kuat!"
Nana menangis sambil terus memeluk sang Bibi sampai tibalah sang ayah di sana dan memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan menangis lagi sayang! Ada ayah di sini," ucap Jhoni dengan sangat lembut.
Samudra tersenyum dan mendekati calon mertuanya itu. Membuat Jhoni langsung menendang kakinya, dan dia hanya diam karena tidak ingin melihat Nana marah padanya.
__ADS_1
...Bersambung....
Halo teman-teman, author akan update lagi nanti ya. Ni Author mau ngebabu dulu.🤧🥴