
Azam duduk di balkon kamarnya sambil menghisap rokok. Kalau sampai semua orang tahu dia menghisap rokok, sudah pasti pria itu akan mendapatkan hukuman.
"Difa itu masih bocil, sama mau di jodohkan dengan ku yang sudah aki-aki ini," ucap Azam sambil menghisap rokoknya.
Pria itu sadar diri, kalau dirinya sudah tua. Sebab umurnya sudah memasuki usia 30 tahun, yang artinya sudah menjadi aki-aki.
*
*
*
Jasmine dan Difa mengobrol bersama di ruang tamu, ada Bu Jima juga yang menjadi pendengar setia mereka berdua.
"Mari kita makan siang bersama," ucap Bu Jima di sela-sela obrolan Difa dan Jasmine.
Dita langsung diam dan tersenyum, karena sejujurnya dia sudah lapar sejak tadi. Namun, malu kalau harus berterus terang. Sedangkan Jasmine langsung bangun dan menarik tangan Difa.
"Ayo kita makan dulu, bersama Ibu," ucap Jasmine dengan lembut, dan Difa tersenyum sambil mengikuti langkah sang sahabat.
Bu Jima sangat bahagia bisa bertemu dengan Difa, karena dia ingin gadis itu menjadi istrinya Azam. Sebab, memiliki sifat sopan dan dewasa.
Setelah mereka sampai di meja makan, ketiga wanita itu duduk di bangku masing-masing. Namun, Bu Jima tidak langsung makan karena Azam belum ada.
"Tunggu Azam dulu, kasihan dia belum makan siang," ucap Bu Jima dengan sangat lembut.
__ADS_1
Difa tersenyum dan menatap wajah Bu Jima dan berkata, "Saya saja Bu, yang memanggil om Azam."
Bu Jima tersenyum dan menatap wajah Difa kemudian wajah Jasmine. Gadis itu mengedipkan sebelah mata agar sang mertua mengizinkan sang sahabat memanggil Azam.
"Panggil saja, dia ada di dalam kamarnya," jawab Bu Jima dengan lembut.
"Ada di kamar atas nomor dua," sambung Jasmine, karena dia tahu Difa tidak mengetahui di mana kamar Azam.
"Saya permisi dulu." Difa berjalan naik ke atas dan mengetuk pintu kamar nomor dua, dan terbuka. Pria yang tengah duduk sambil menghisap rokok terlihat jelas di mata gadis itu.
'Oh Astaga! Dia merokok,' batin Difa.
Gadis itu langsung menutup pintu, kemudian berjalan mendekati Azam. Sepertinya pria itu tidak tahu akan kedatangannya.
"Om Azam," panggil Difa.
"Kau lancang sekali masuk kamar ku, diam-diam!" geram Azam.
Difa tersenyum dan menatap wajah Azam dengan sangat dekat, kemudian berkata, "Ayo kita makan, ibumu sudah menunggu."
Azam bernafas lega karena gadis itu tidak membahas rokoknya, kemudian dia bergegas pergi dari dalam kamarnya menuju meja makan bersama Difa.
Sesampainya di meja makan, mereka duduk di bangku masing-masing sambil bertatapan.
"Silahkan makan semuanya," ucap Bu Jima dengan sangat lembut.
__ADS_1
Semua orang langsung makan, dan Difa makan dengan perlahan karena merasa malu ada di hadapan Azam dan Bu Jima.
'Kalau mereka tidak ada. Habislah semua makanan ini,' batin Difa.
Azam tidak menatap Difa, karena dia fokus pada makanannya. Lain halnya dengan gadis itu yang terus-menerus menatap wajahnya.
*
*
*
Samudra bersama Jhoni menyusun rencana agar wanita itu bisa tertangkap. Sebab, wanita itu mengenali sang ayah yang membuat mereka sangat penasaran.
"Semuanya sudah selesai, hanya tinggal menunggu waktunya saja dia tertangkap," ucap Samudra sambil menatap wajah Jhoni.
Jhoni tersenyum karena bangga pada Samudra, yang di usianya masih muda sudah sangat dewasa dalam mengambil keputusan apapun.
"Tuan muda sangat pandai dalam hal apapun," ucap Jhoni penuh kagum.
Samudra tersenyum kemudian memegang tangan Jhoni dengan sangat lembut.
"Panggil saja Sam, bukankah paman sebentar lagi akan menjadi mertua Sam," ucap Samudra dengan sangat lembut.
Jhoni tertawa bersama Samudra, karena merasa lucu saat anak majikannya akan menikahi anaknya.
__ADS_1
...Bersambung. ...