
Semua orang masih terdiam mendengar ucapan dari bu Jima, yang mengatakan jika Nana adalah anak Jhoni. Belum sempat mereka melanjutkan kembali obrolan mereka.
Aldalin datang bersama dengan dua anak buahnya masuk ke dalam rumah Azam.
Brak!
Aldalin membuka pintu rumah Azam dengan sangat kuat sehingga semua orang terkejut, dan bangun menatap wajah pria itu.
Aldalin hanya fokus pada Jasmine wanita yang di rindukan selama beberapa hari ini, ada di depan matanya ia hendak berjalan mendekati gadis itu. Namun, langkah dia terhenti saat bu Jima memanggil namanya.
"Al."
Aldalin melirik ke arah sumber suara begitu juga dengan semua yang ada di sana.
Aldalin sangat terkejut saat melihat siapa wanita yang memanggilnya, ia langsung menghampiri wanita tersebut dan memeluk dengan erat.
"Ibu, kenapa Ibu pergi dari kami semua?" ucap Aldalin sambil menangis tersedu-sedu di dalam pelukan bu Jima.
Bu Jima adalah Ibu sambungan Aldalin yang sangat menyayangi Aldalin, karena suatu hal yang terjadi membuatnya pergi bersama dengan putranya dari ayah Aldalin.
"Al, itu semua ibu lakukan untuk mu," jawab bu Jima dengan tangisan yang mengisi rumahnya.
Azam terduduk lemas karena ia pusing akan apa yang terjadi padanya, yang pertama ia mengetahui siapa kakaknya dan yang kedua Kakaknya adalah ayah dari Jasmine.
Wanita yang sudah membuka hatinya sedikit demi sedikit, yang ketiga ia juga baru mengetahui jika Nana adalah anak Jhoni.
"Bu, jangan dekati dia karena dia sudah meniduri anaknya sendiri!" teriak Azam sambil menatap ke arah Aldalin.
Bu Jima langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah putra sambungnya, yang sudah lama sekali tidak di temui.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Aldalin sambil menatap ke arah Azam yang ada di hadapannya.
Semua orang hanya diam sambil melihat terkecuali Jasmine, menangis tersedu-sedu saat melihat sang ayah sejak tadi.
'Ini masalah yang sangat rumit, aku adalah anak Om itu. Lalu kak Azam dan ayahnya Jasmine adik kakak,' batin Nana.
"Jasmine hamil anak mu," jawab Azam sambil menunjuk ke arah Aldalin, sontak membuat Nana dan bu Jima terkejut.
"Azam, lalu Jasmine bukan istri mu?" tanya bu Jima yang merasa sangat pusing akan apa yang ia lihat hari ini.
__ADS_1
Azam menggelengkan kepalanya, dan melirik ke arah Jasmine yang terus-menerus menangis sejak tadi.
"Bu, sebenarnya Jasmine bukan anak Al dia anaknya Tasya dan Gilang," ungkap Aldalin.
Jasmine sangat terkejut mendengar kenyataan ia bukan anak sang ayah, melainkan anak dari selingkuhan ibunya.
'Ternyata aku bukan anak ayah, aku ini anak laki-laki yang sudah merusak kehidupan ayah,' batin Jasmine.
Dua jam kemudian ...
Semua orang sudah tenang dan kini sudah duduk masing-masing, setelah semuanya menjelaskan permasalahan satu-persatu.
Nana masih saja duduk berjauhan dari Jhoni karena masih tidak percaya jika pria itu ayahnya, karena dari bayi tidak tahu sang ayah siapa karena ibunya membawa dia pergi.
Azam merasa kecewa karena menyukai Jasmine yang sedang mengandung anak dari kakaknya, yang artinya anak gadis itu adalah keponakannya dan juga akan menjadi anaknya.
"Bu, ikutlah bersama ku kita hidup baru di sana karena harta ayah ada untuk ibu dan Azam," ucap Aldalin dengan sangat lembut dan sopan kepada bu Jima.
"Semuanya ada di tangan Azam," jawab bu Jima sambil menatap kearah anaknya yang terlihat sangat tidak suka.
"Azam, ayolah perusahaan itu milik kita berdua," ucap Aldalin sambil menatap ke arah sang adik.
'Sebaiknya aku ikut saja, dengan begitu aku bisa melihat wajah Jasmine setiap hari,' batin Azam.
"Aku setuju," jawab Azam dengan sangat cuek dan wajah juga tidak melihatkan ekspresi apapun.
"Jasmine, kita pulang aku akan menikahi mu," ucap Aldalin sambil menatap ke arah Jasmine.
Jasmine tidak bisa menjawab apa-apa, karena masih belum bisa menerima kenyataan jika dirinya bukan anak sang ayah.
"Baiklah, aku akan memberikan mu waktu dan sekarang semuanya berkemas-kemas karena kita malam ini juga akan kembali ke mansion," ucap Aldalin.
"Tuan bisa pulang duluan, saya akan menyusul besok karena saya juga ada urusan sedikit," sahut Jhoni sambil melirik ke arah Nana.
Aldalin menganggukkan kepalanya dan Jhoni mulai keluar dari rumah Azam.
Jasmine dan Azam masuk ke dalam kamar, sedangkan bu Jima masuk ke dalam kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya.
Azam terus menatap wajah Jasmine yang terlihat murung sejak kedatangan Aldalin tadi, ia mendekati gadis itu dan memegang tangannya.
__ADS_1
"Jasmine, jangan bersedih aku dan ibu ada untukmu kami ikut hanya untuk melindungi mu," ucap Azam dengan sangat lembut.
Jasmine menatap wajah Azam dan air matanya lolos begitu saja tanpa izin darinya, sehingga ia langsung memeluk pria itu dengan erat.
"Kak Azam, bagaimana ini? Aku tidak mungkin menikah dengan laki-laki yang sudah menjadi ayahku selama ini. Walaupun dia bukan ayah kandungku," ucap Jasmine sambil terisak-isak saat mengingat ucapan ayahnya tadi.
Azam mengelus rambut Jasmine dengan lembut, ia juga merasakan sakit dan nyeri saat mendengar jika sang kakak akan menikahi gadis pujaannya.
Wanita yang sudah membuka hatinya setelah lama ia menutup rapat-rapat sejak istrinya meninggal.
Azam melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Jasmine, ia juga merasa sangat hancur saat melihat gadis itu bersedih.
"Jasmine, aku ada untukmu dan kita juga akan selalu bersama-sama karena kita akan tinggal satu rumah," ucap Azam dengan sangat lembut.
Jasmine mengentikan tangisnya, dan menatap wajah Azam dengan sangat dekat.
"Sekarang bersiaplah, karena semua orang sudah menunggu kita," ucap Azam dengan sangat lembut dan Jasmine menganggukkan kepalanya.
*
*
Aldalin menunggu mereka di depan rumah Azam dengan keadaan tetangga yang menatap dirinya, ia masa bodoh dan tidak mau tahu akan tatapan dari tetangga Azam.
"Sepertinya mereka itu sangat ingin tahu, aku rasa jika mereka semuanya juga sedang bergosip tentang diriku ini," ucap Aldalin dengan sangat pelan sambil menatap ke arah orang yang melihatnya.
Tak berselang lama akhirnya Jasmine dan Azam juga bu Jima keluar dengan membawa barang-barang berharga mereka.
"Ayo, pesawat sudah menunggu kita di sana," ucap Aldalin sambil membawakan koper milik bu Jima.
Sedangkan Azam membawa koper milik Jasmine, mereka semuanya pergi dari sana dengan berjalan kaki.
Saat di tengah perjalanan Jasmine merasa sangat kelelahan, sehingga ia berhenti dan Aldalin menghampirinya.
"Apa sangat lelah?" tanya Aldalin.
Jasmine menganggukkan kepalanya, dan Aldalin mulai menggendong tubuh gadis itu dengan perlahan.
Azam hanya bisa diam saja saat melihat pemandangan seperti itu, sambil menahan rasa sakit di dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung.