
Jasmine sedang mencuci baju ayahnya. Ia tak sengaja mendengar obrolan sang ayah dengan Jhoni, yang bersebelahan dengan ruang cuci.
"Pastikan mami Sairin, buka mulutnya! Siapa wanita malam itu," ucap Aldalin.
Jasmine dapat mendengar jelas percakapan mereka dari sebalik tembok.
"Siap Tuan, saya akan melaksanakan tugas saya dengan sangat baik!" Johni langsung bergegas pergi.
"Siapa, wanita itu?" Aldalin langsung bergegas pergi dari sana.
Setelah Jasmine tidak mendengar lagi percakapan ayahnya dan Jhoni, ia langsung terduduk lemas di lantai.
"Wanita siapa, yang di maksud? Lalu bagaimana bisa ayah mengenal mami Sairin?" tanya Jasmine pada dirinya sendiri.
Jasmine berniat akan mengunjungi rumah mami Sairin untuk bertanya, apakah mami Sairin mengenal ayahnya atau tidak dan ada hubungan apa mereka sebenarnya.
Setelah selesai mencuci, Jasmine langsung bersiap-siap untuk segera berangkat menuju rumah umah mami Sairin, ia berjalan menuju depan gerbang rumah dan naik taksi agar lekas sampai di rumah mami Sairin.
Setelah sampai, Jasmine langsung turun dari taksi dan berjalan menuju rumah mami Sairin. Cukup lama ia mengetuk pintu, akan tetapi sang empunya rumah tidak merespon atau membukakan pintu untuknya.
"Sairin, kemana? Dan mami mu kemana? Aku ingin tahu siapa laki-laki itu," ucap Jasmine.
Setelah lama menunggu namun pemilik rumah tak kunjung menunjukkan batang hidungnya, Jasmine pun pergi dengan perasaan kecewa.
Jasmin sangat kecewa karena tak bisa bertemu dengan mami Sairin. Bahkan ia juga tak bisa menghubungi anak atau mami Sairin. Jasmin memutuskan berhenti saat dirinya sampai di halte bus.
'Sairin, ke mana kalian pergi? Aku sangat penasaran dan ingin tahu siapa laki-laki itu. Dan apakah laki-laki itu adalah ayah? Jika benar itu ayah, artinya aku sudah tidur dengan ayahku sendiri,' batin Jasmine.
Jasmine membuka tasnya karena ingin mengambil ponsel. Ia tak sengaja melihat benda bernilai jatuh dari dalam tas miliknya, Dengan cepat mengambil benda berkilau, gadis itu langsung membulatkan matanya tak percaya.
"Bukankah ini serpihan jam milik ayah? Apakah benar aku dan ayah sudah tidur bersama? Sebaiknya aku segera pulang. Aku akan melihat apakah ini sama dengan jam milik ayah atau tidak," ucap Jasmine sembari memasukkan kembali serpihan itu ke dalam tas miliknya.
Setelah Jasmine sampai di mansion, ia langsung masuk ke dalam. Gadis itu terus mencari keberadaan ayahnya, karena tidak ingin ada yang tahu tentang masalahnya dengan sang ayah.
Jasmine merasa aman dan langsung masuk ke dalam kamar ayahnya. Setelah sampai, gadis itu pun langsung mencari kotak kecil yang di lihat tadi pagi.
Saat Jasmine mengambil kotak kecil tersebut, ia langsung mencocokkannya dengan serpihan yang ada. Hasilnya sama, sangat cocok. Gadis itu pun meneteskan air matanya, dan secepatnya keluar dari kamar sang ayah.
__ADS_1
Jasmine berlari masuk ke dalam kamarnya yang ada di belakang dapur. Gadis itu langsung mengunci pintu kamar dan tangannya masih terus memegang serpihan jam milik ayahnya tersebut.
"Tidak mungkin, aku tidak mungkin tidur dengan ayahku sendiri, iya ini hanya kebetulan saja. Sebaiknya aku lupakan masalah ini, agar aku bisa melanjutkan kembali hidupku dengan tenang," ucap Jasmine sambil menangis tersedu dan memeluk dirinya yang saat ini sangat rapuh.
*
*
Aldalin mendapatkan kabar dari anak buahnya yang berjaga di rumah mami Sairin, bahwa Jasmine berada di sana dan ia langsung bergegas pulang untuk bertanya pada gadis itu.
Setelah ia sampai di mansion langsung masuk ke dalam dan mulai berteriak-teriak.
"Jasmine! Jasmine!" teriak Aldalin membuat semua pelayan langsung berhamburan, untuk melihat apa yang sedang terjadi kali ini.
Jasmine yang masih menangis cepat-cepat berlari untuk menghampiri ayahnya, setelah sampai ia langsung berdiri di hadapan sang ayah
"Apa? Jasmin membuat kesalahan, Ayah?" tanya Jasmine yang menundukkan wajah, karena wajahnya masih basah akan air matanya tadi.
Aldalin sempat melihat jika wajah Jasmine basah dan juga mata gadis itu yang memerah.
'Kenapa dia menangis, apa? Ini ada hubungannya dengan mami Sairin? Karena dia tadi dia baru pulang dari sana,' batin Aldalin.
Jasmine terkejut saat mendengar pertanyaan dari sang ayah, ia berfikir darimana ayahnya tahu hubungan dirinya dengan mami Sairin.
"Jawab!" bentak Aldalin,
Sontak Jasmine langsung menatap wajah ayahnya. Pada saat itu juga Aldalin dapat jelas melihat wajah sedih gadis itu.
"Dia, yang menjual Jasmine! Semua itu karena permintaan dari ku sendiri, setelah mereka mendapat uang banyak mereka pergi entah kemana," sahut Jasmine dengan air mata yang berjatuhan dengan deras.
Semua pelayan di sana meneteskan air mata mereka juga karena mereka sedih akan kehidupan Jasmine.
Aldalin kesal mendengar ucapan dari Jasmine dan langsung menarik tangan gadis malang itu, dengan sangat kuat masuk ke dalam kamarnya.
Jasmine hanya diam saja karena sudah terbiasa, jika sang ayah akan menghukumnya lagi.
Sesampainya di dalam kamar, Aldalin langsung melemparkan tubuh Jasmine ke atas tempat tidurnya. Kemudian ia mulai membuka bajunya dan melemparkan ke sembarang arah.
__ADS_1
"Ayah, jangan lakukan itu lagi!" jerit Jasmine.
Aldalin menghentikan langkahnya, saat mendengar jeritan Jasmine sebab ia tidak akan berbuat apa-apa.
"Jangan lakukan lagi? Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu?" tanya Aldalin.
Kemudian Aldalin menatap wajah Jasmine yang terlihat sangat takut dan sedih.
'Jangan sampai, ada yang tahu masalah ini hanya aku saja yang mengetahuinya,' batin Jasmine.
"Ayah, akan memukul Jasmine lagi," jawab Jasmine.
Kemudian Jasmine bangun dari tidurnya, dan mendekati sang ayah lalu ia bersujud di kaki ayahnya.
"Bangunlah! Kau akan membuat kotor sepatu ku!" seru Aldalin.
Jasmine langsung cepat-cepat bangun, karena sang ayah sudah berteriak. Aldalin langsung bergegas pergi dari kamarnya.
Setelah kepergian sang ayah, ia langsung bergegas keluar dari kamar ayahnya saat keluar. Ternyata Bik Sinta ada di depan kamar dan langsung menghampirinya.
"Non, apa tuan marah lagi dan memukuli Non?" tanya Bi Sinta dengan sangat cemas akan keadaan Jasmine.
Jasmine hanya menggelengkan kepalanya saja karena ia bingung harus menjawab apa.
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Bi Sinta.
Jasmine hanya menggelengkan kepalanya lagi, sebab ia bingung harus bicara apa pada Bi Sinta.
"Ya sudah, sebaiknya Non masuk saja ke dalam kamar. Biar semua pekerjaan Bibi yang mengerjakannya," ucap Bi Sinta.
Lagi-lagi Jasmine hanya menganggukkan kepalanya saja sambil bergegas pergi menuju kamarnya.
Setelah sampai di dalam kamar ia langsung menidurkan tubuhnya, dan mulai terlelap karena menangis tadi membuatnya lemas dan mengantuk.
Jasmine merasa sangat bingung apa yang harus ia lakukan saat mengetahui jika dirinya dan sang ayah, sudah melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Jasmine juga berniat akan merahasiakan semua dari siapapun itu, ia tidak mau sampai ada yang tahu jika dirinya dan ayahnya sudah tidur bersama.
__ADS_1
Bersambung.