
Aldalin sangat menikmati salad buatan Jasmine. Sebab tidak seperti biasanya gadis itu membuatkan sarapan seperti ini.
"Anak itu, sekarang sangat aneh apa karena aku jarang menghukumnya?" ucap Aldalin.
Kini Aldalin sudah menyelesaikan sarapan, kemudian ia meminum segelas air putih dan merasa sangat mual.
Aldalin cepat-cepat berlari masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan apa yang di makannya tadi, setelah selesai muntah ia berjalan perlahan menuju tempat tidur dan mengatur nafasnya.
"Ada apa dengan diriku ini? Padahal aku baik-baik saja. Kenapa aku muntah tadi?" tanya Aldalin pada dirinya sendiri, karena ia merasa heran kenapa tiba-tiba muntah.
*
*
Jasmine berada di ruang cuci baju saat hendak memasukan baju sang ayah ke dalam mesin cuci, ia menghentikan langkahnya dan memeluk baju ayahnya. Ia juga mencium aroma tubuh yang tertinggal di baju itu.
"Harum sekali, aku jadi ingin berlama-lama mencium aroma ini. Aku harus mencuci baju ini sebelum ayah marah padaku," ucap Jasmine.
Jasmine bergegas memasukan semua baju sang ayah, dan mencuci baju itu walaupun ia masih ingin menciumnya.
Tanpa di sadari oleh Jasmine ternyata, Samudra mengintip apa yang di lakukan olehnya tadi. Seketika pria remaja itu menatap wajah kakaknya tersebut.
'Kasihan sekali dia, tidak seperti ku jika ingin memeluk ayah maka aku langsung bisa melakukannya, sedangkan dia harus mencium baju ayah,' batin Samudra.
Samudra bergegas pergi dari sana karena harus berangkat ke kampus pagi ini, sedangkan Jasmine tidak pernah masuk kampus lagi. Sebab malam kelam itu membuatnya insecure.
*
*
Jasmine sedang menjemur pakaian sang ayah sambil bernyanyi, lalu matanya melirik ke arah atas kamar ayahnya terlihat jendela kamar yang terbuka.
"Apa ayah tidak pergi? Sebaiknya aku lihat ke dalam saja, karena aku takut jika ayah sakit." Jasmine bergegas pergi menuju kamar sang ayah.
Setelah sampai Jasmine langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sehingga ia melihat sang ayah ada di kamar.
Jasmine bingung harus seperti apa karena saat ini sang ayah sudah menatap dirinya, dan juga tidak bisa pergi karena ia yakin jika ayahnya akan marah.
'Apa yang harus aku katakan pada ayah?' batin Jasmine.
__ADS_1
"Kau ini, sangat tidak sopan! Masuk ke dalam kamar ku tidak mengetuk pintu terlebih dahulu!" sentak Aldalin sambil beranjak bangun.
"Maaf Ayah, Jasmine kira Ayah sudah pergi dan ingin menutup jendela kamar ayah hanya itu saja," ucap Jasmine yang bergerak mundur.
Jasmine mulai berjalan mundur saat sang ayah terus berjalan mendekatinya, sehingga ia menatap tempat tidur dan terjatuh sambil menarik baju ayahnya, mereka pun terjatuh bersama dengan posisi Aldalin yang berada di atas tubuh Jasmine.
'Perasaanku, kenapa rasanya sama seperti saat aku ada di atas tubuh wanita malam itu?' batin Aldalin sambil berfikir.
Jasmine tidak berani bergerak sama sekali dan juga tidak membuka mata, karena ia takut jika nanti sang ayah marah dan menghukumnya lagi.
'Sepertinya aku pura-pura pingsang saja, agar ayah tidak menghukum ku lagi,' batin Jasmine.
Aldalin langsung bangun dan melirik Jasmine yang masih diam saja, sehingga ia langsung menendang kaki gadis itu yang masih diam saja.
"Jasmine!" teriak Aldalin.
Jasmine masih pura-pura pingsan karena saat ini masih sangat takut pada sang ayah.
Aldalin mengingat jika tadi pagi Jasmine juga pingsan sehingga ia langsung melakukan hal yang sama. Akan tetapi, kali ini Jasmine tidak bangun karena gadis itu hanya pura-pura pingsang saja.
"Anak ini menyusahkan aku saja!" ucap Aldalin.
Aldalin bergegas untuk menelfon Jhoni untuk memanggilkan Dokter ke mansionnya. Jasmine merasa sangat lelah sehingga ia benar-benar tertidur saat pura-pura pingsan.
"Bagaimana, Dok?" tanya Aldalin sambil menatap ke arah Jasmine yang masih belum sadar, karena gadis itu sudah masuk ke alam mimpi.
Dokter tersebut tersenyum dan langsung menghampiri Aldalin dan menekuk pundak Aldalin.
"Selamat, Anda sebentar lagi akan memiliki cucu," jawab Dokter tersebut membuat Aldalin merasa sangat tidak percaya.
"Cucu?" tanya Aldalin tak percaya.
"Iya, Nona itu hamil dan usia kehamilannya baru memasuki usia tiga minggu," jelas Dokter tersebut membuat Aldalin sangat terkejut.
"Dokter, tidak bercanda?" tanya Aldalin yang ingin memastikan jika apa yang di dengar tadi salah.
"Benar, dan keadaan dia baik-baik saja karena wanita hamil memang seperti itu seringkali pingsan." Dokter tersebut bergegas pergi.
Setelah kepergian sang Dokter barulah Aldalin mendekati Jasmine yang masih belum sadar.
__ADS_1
"Kau hamil anak siapa? Laki-laki mana yang meniduri mu?" tanya Aldalin, sambil menahan emosinya karena, ia akan melampiaskan saat Jasmine bangun nantinya.
*
*
Bi Sinta sangat terkejut saat mendengar ucapan Dokter tadi, yang menyatakan jika Jasmine hamil.
"Kasian sekali dia, kenapa dia harus seperti ini?" Bi Sinta berjalan menuju dapur.
"Itu semuanya sudah takdir, sebaiknya kita doakan saja agar, Non Jasmine baik-baik saja," sambung Pak Kumar membuat Bi Sinta terkejut karena tadi hanya bicara sendiri saja.
"Kumar, jangan buat jantung saya copot dong!" seru Bi Sinta sambil memukuli tubuh Kumar.
"Ampun Sinta!" teriak Pak Kumar sambil terus-menerus tertawa melihat tingkah Bi Sinta.
*
*
Perlahan Jasmine membuka kedua mata, dan melihat sang ayah menatap tajam ke arahnya.
"Ayah, Jasmine di mana?" tanya Jasmine yang tidak bisa mengingat apa-apa.
"Kau hamil!"
Jasmine sangat terkejut dengan ucapan dari sang ayah yang mengatakan jika dirinya tengah hamil.
"Tidak," jawab Jasmine, sontak saja membuat Aldalin kesal dan langsung menarik tangan Jasmine dengan kasar.
Jasmine hanya diam saja sambil mengikuti langkah sang ayah masuk ke dalam mobil, Jasmine tidak mau bertanya apa-apa karena melihat ayahnya sangat.
"Sebaiknya, kau gugurkan saja anak haram itu!" seru Aldalin membuat Jasmine terkejut, karena ia tidak tahu jika dirinya hamil.
"Jasmine tidak hamil Ayah," sahut Jasmine.
Membuat Aldalin kesal, sehingga ia melajukan mobilnya menuju rumah seseorang dengan sangat cepat.
Setelah sampai di rumah tersebut mereka berdua turun dan masuk ke dalam. Terlihat jika rumah itu sangat seram.
__ADS_1
"Ini tempat apa?" tanya Jasmine yang merasa sangat penasaran dan takut akan tatapan dari sang ayah.
Bersambung.